Budaya Sasak : Proses Menuju Pernikahan
April 19, 2010
Shalat miring
May 8, 2010

1 Mei

Hazairin R. JunepSiberia [Sasak.Org] Demonstrasi sekitar 400.000 buruh Amerika pada tanggal 1 mei sampai 4 mei 1886 untuk menuntut 8 jam kerja sehari yang sebelumnya harus bekerja sampai 19 jam sehari diakhiri dengan tragedi penembakan polisi dan menewaskan ratusan demonstran. Sejak itu dunia mengenang 1 mei sebagai hari buruh dunia.

Pada hari ini, saya mengenang semeton jari inax amax saya yang bekerja sebagai buruh migran dan buruh lepas di dasan. Para wanita kami yang gagah berani adalah tulang punggung dalam mencari rezeki. Mereka bertebaran ke seluruh dunia, tak peduli dingin panas, berangin, bersalju atau penuh hujan peluru serta bom berseliweran dijendela jendela kamar kerja mereka. Bom dan peluru atau siksaan majikan membabi buta, tangan merka terus bergerak menyetrika, mencuci, memasak dan ada pula yang meradang oleh perkosaan dan mati bangkang dilempar dari atas aparteman atau bunuh diri.

Buruh adalah tulang punggung ekonomi dunia. Di dasan para buruh tani dan buruh bangunan berangkat setelah sholat subuh. Dipanggang matahari dan di siram hujan lebat membuat mereka kukuh sebagai baja. Nun dilubuk hati, ada harapan besar untuk dapat menghidupi anak istri. Menyekolahkan anak agar menjadi pandai, berakhlak mulia dan beramal sholeh. Berapa yang diperoleh sehari tidaklah pernah terpikir sebab yang ada adalah keyakinan akan hari esok yang lebih baik. Kalau bisa membeli buku dan seragam rasanya sudah melampauai segala impian buruh anak bangsa kami.

Hari ini adalah tanggal merah untuk buruh di Rusia. Saya bergegas ke dacha, rumah perisitirahatan di luar kota. Perjalanan sekitar satu jam melewati hutan pinus dan pohon birk yang berwarna putih. Dacha itu semewah bungalow yang berderet di Puncak. Dahulu di masa Uni Sovyet keluarga menanam kentang dan sayur mayur. Untuk satu keluarga mereka harus menghasilkan 20 karung kentang seberat masing masing 50 kg. Itu adalah stok untuk satu tahun. Sesudah panen, kentang harus disimpan di bawah tanah sedalam 4 meter. Suhunya sekitar 5 derajad celcius dan kentang akan tertidur dan tidak membusuk. Kawan kawan saya mengenang masa Uni Sovyet dengan haru dan geli tapi bahagia. Kata mereka bahwa dahulu kalau masuk toko orang sudah tahu apa yang akan dibeli sebab persediaan terbatas dan uangpun terbatas. Sekarang mereka masuk toko bingung mau beli apa dan sering sekali mereka hanya membeli tanpa tahu untuk apa hanya karena barangnya terpajang. Atau bisa jadi karena terpnegaruh kawan lain atau iklan.

Setiba di dacha saya langsung memakai topi dan sarung tangan serta jaket tebal karena udara lebih dingin daripada di kota. Saya harus membersihkan kebun bunga dan taman. Saat menggareng rumput dan memotong tanaman kering saya terkenang saat matax atau panen dan memotong roman atau pohon padi. Hari ini bukan libur buat saya tapi sebuah hari napak tilas ke alam dasan yang permai bagai mimpi. Waktu kecil panen sekali setahun dan padi disimpan di lumbung. Kalau mau masak nasi inax harus menumbuk padi atau menyuruh tetangga menumbukkan padinya. Aroma nasi meliuk liuk mengikuti angin terbang sampai tepi dasan. Rasanya begitu nikmat menyantap nasi pulen dan wangi. Kalau makan sangat tertib, jatah nasi sebesar nasi yang dijual ala mc Donald. Makannya perlahan meskipun hanya berlauk sambal udang hasil begasap (menangkap) di kali dan sayur bening daun kelor atau bayam, kenikmatannya tak terperi. Nasi itu sudah tak ada lagi sebab semua orang telah menjadi tergesa gesa. Panen tiap 3 bulan dan nasinya keras tak berasa. Makan ibarat ritual upacara tiap hari senin mengerek bendera tanpa sentuhan nasionalisme. Makan menjadi aktivitas tanpa spiritual meskipun didahului oleh doa segala. Budaya tergesa gesa telah membawa anak bangsa jadi kurang kreatif dan cendrung mengejar kesenangan diri. Saya bisa makan nasi seperti itu hanya di Jepang atau Thailand. Mungkin kelak setelah semua babu pulang dan merenungkan sejenak nasib mereka, kita akan kembali menanami sawah kita dan melindungi kali serta hutan agar kita berjumpa lagi dengan jati diri kita yang sebenarnya. Kita telah begitu jauh meninggalkan asa dan menukarnya untuk jadi binasa.

Rumput Rusia sangat tebal dan berbelit, saya dapat awis (arit) yang seperti symbol komunis itu, bergerigi seperti awis Sasak. Gareng dan kereta untuk mengangkut sampah dedaunan. Saya bekerja 90 menit dan tiba tiba saya menggigil. Saya pasti masuk angin maka segera saya masuk ke dacha dan udara hangat dari 3 batterai pemanas yang hanya dihidupkan untuk saya , menerpa menembus semua kulit. Saya mulai kedinginan meskipun didalam ruangan. Saya akhirnya ingat bahwa saya tadi makan secolek sambal ekstra pedas botolan. Itu pelanggaran berat karena ia dapat meningkatkan asam lambung saya. Cepat cepat saya minum obat tapi tidak bilang pada teman teman atas pelanggaran saya itu. Sampai pagi saya terbangun paling awal dan langsung meneruskan pekerjaan saya memotong perdu kering dan menebarkan bibit bunga. Agar tidak masuk angin saya masuk dacha tiap 30 menit dan minum teh Sri Langka dicampur rumput Baikal yang sangat sedap. Saya merasa sangat berat bekerja seperti itu namun untuk merasakan beban buruh anak dasan di Perkebunan Sawit, buruh bangunan dan babu babu saya mencoba merasakannya. Bedanya saya tidak ada yang suruh, tidak ada pengawas dan tidak ada target. Saya dapat bayangkan kesulitan TKI/TKW kita di berbagai negeri yang berangkat susah pulangpun dirampok oleh para pejabat terkait. Di dasan para babu tidak berani berjuang agar bekerja 8 jam sehari karena kalau bicara akan dipecat. Gaji hanya sekedar tanda ikatan, tiada kontrak, tiada pula jaminan. Sampai sekarang ada babu yang dibayar ratusan ribu saja namun bekerjanya lebih berat daripada budak belian. Saya ragu apakah shalat majikan seperti itu akan membawa celaka atau suarga?. Kepada para buruh tani dan buruh bangunan, nelayan serta para babu yang bertarung menjaga nyawa dan kehormatan saya anak bangsa Sasak menundukkan kepala dengan doa dan perasaan bangga serta terimaksih atas dedikasi dan perjuangan kalian sehingga generasi kami dapat hidup lebih baik.

Maju dan Jayalah bangsa Sasak!

Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *