Praya (Suara NTB) Persedian minyak minyak tanah mulai tingkat distributorhingga pengecer di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), mulai menunjukkan gejala limit. Akibatnya, masyarakat Loteng mulai kesulitan membeli bahan bakar ini. Imbasnya, tidak hanya harga minyak tanah hingga mencapai Rp 4.000 per liter, juga menimbulkan antrean panjang di beberapa pangkalan. Selain di Loteng, di wilayah Lombok Barat (Lobar), limit minyak tanah juga terjadi. Pantauan Suara NTB, Jumat (28/9) kemarin, di sejumlah pangkalan minyak tanah di Kota Praya mulai diserbu konsumen. Tingginya kebutuhan akan bahan bakar tersebut, membuat masyarakat mau tidak mau harus membeli. Meski dengan harga yang jauh lebih tinggi dari ketentuan yang berlaku, antrean konsumen juga mulai tampak memadati sejumlah pangkalan minyak tanah.
Informasi yang dihimpun dari sejumlah konsumen saat antre minyak tanah di Toko Matahari Praya, menyebutkan, harga minyak tanah kini sudah naik. Di tingkat distributor saja, harga sudah menjadi Rp. 2.300, padahal HET yang berlaku hanya Rp. 2.200. Sedangkan di tingkat pengecer cukup beragam, dari Rp. 3.000 bahkan ada yang mencapai Rp. 4.000 per liter. ‘’Pembelian minyak tanah di sejumlah pangkalan juga dibatasi hanya diperbolehkan membeli 5 liter saja. Alasanya stok minyak tanah terbatas,’’ aku H. Halimah. Diakuinya, kelangkaan tersebut sangat menyulitkan ibu rumah tangga, terutama untuk kegiatan masakmemasak. Terlebih lagi pada bulan puasa ini, kegiatan di dapur cukup tinggi. Sehingga perlu dukungan berupa ketersedian minyak tanah.
MATARAM - Proyek bandara internasional Lombok (BIL) yang sedang digarap di Desa Tanak Awu Kabupaten Lombok Tengah diperkirakan selesai dan sudah digunakan tahun 2009. Sumber dananya berasal dari swasta, yang investasinya dilakukan melalui PT Angkasa Pura (AP) I yang dapat menjaring dana dari konsorsium bank. â€Pendanaan swasta tersebut untuk mempercepat, tergantung feasibility proyek tersebut,’’ kata Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal sewaktu melakukan peninjauan lokasi, Jum’at (28/9) sore.
Kehadiran BIL tersebut, dikemukakan oleh Jusman, sangat ditunggu oleh pemerintah agar dapat selesai secepatnya sehingga akan ada investor yang masuk. â€Kami jelas mengharap agar bisa segera selesai, †ujarnya.
BIL yang dibangun untuk pengganti bandara Selaparang di Mataram luasnya mencapai 535 hektar atau dua kali lebih besar dari Bandara Internasional Ngurah Rai di Bali. Sebagaimana diminta oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, panjang landas pacunya mencapai 3.000 meter dari semula direncanakan 2.750 meter setelah diperbaiki dari awal gagasan 2.500 meter. â€Ini menjadi salah satu syarat Emaar Properties,†kata General Manager PT Angkasa Pura (AP) I Heru Legowo menjelaskan kepada Jusman. Emaar Properties adalah investor yang akan mendanai proyek seluas 1.250 hektar dikawasan wisata di Lombok Tengah bagian selatan.
Seperti dikemukakan oleh Heru Legowo, pembangunan BIL tersebut memerlukan pembiayaan sebesar Rp665 miliar. PT AP I menanggung Rp515 miliar yang bersumber dari dana internal Rp115 miliar dan pinjaman atau penerbitan obligasi Rp400 miliar. Sedangkan Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengeluarkan Rp110 miliar dan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah sebesar Rp40 miliar.
Ada delapan paket pekerjaan yang berdasar sumber pembiayaannya. Paket pekerjaan sisi airside oleh PT AP I menanggung empat paket senilai Rp237,7 miliar untuk pemindahan saluran irigasi, runway dan fasilitas penunjangnya, ME Airside, peralatan keselamatan penerbangan. Dari pemerintah daerah satu paket pekerjaan taxiway, apron dan fasilitas penunjang Rp92,787 miliar. Dari sisi landside, PT AP I membiayai tujuh paket pekerjaan senilai Rp218,845 miliar, pemerintah daerah membangun parkir, jalan lingkungan senilai Rp35,473 miliar. Tender pekerjaan landas pacu sepanjang 2.750 meter sudah selesai, akan dkerjakan oleh PT Hutama Karya senilai Rp150 miliar.(supriyantho khafid)
Rabu, 26 September 2007, Komunitas Sasak Surabaya mengadakan pertemuan di Plaza dr. Angka Kampus ITS Surabaya. Pertemuan tersebut dihadiri oleh sekitar 21 Mahasiswa asal lombok yang sedang menempuh pendidikan di Kota Pahlawan Surabaya. Mereka berasal dari berbagai kampus baik negeri maupun swasta. Diperkirakan jumlah Mahasiswa asal lombok yang kini tinggal di surabaya berjumlah 150 - 200 orang.
Pertemuan ini merupakan pertemuan ke dua kalinya, dengan agenda utama pembentukan Perkumpulan Mahasiswa Asal Lombok di Surabaya dan mempersiapkan pendirian Persatuan Mahasiswa (asal) NTB. Dari 21 orang peserta yang hadir tampak salah satu peserta yang mewakili komunitas Bima-Dompu.
Di samping membahas agenda pembentukan komunitas, mereka juga mempersiapkan Mudik Bareng Mahasiswa Lombok Surabaya, yang rencananya akan diadakan tanggal 10 Oktober ini.
Next Page »