Tarik Wisatawan, Kembangkan Usaha Makanan Tradisional Khas NTB
Mataram (Suara NTB) Terdapat berbagai pertimbangan bagi wisatawan untuk datang ke suatu Daerah Tujuan Wisata. (DTW). Diantaranya objek (alam dan budaya) yang akan dilihat di DTW, makanan khas (tradisional), serta barang unik sebagai souvenir atau oleh-oleh sekembalinya dari DTW.
Tidak dipungkiri, makanan tradisional sebagi satu pertimbangan wisatawan (domestik atau mancanegara) sebelum datang ke suatu daerah tujuan wisata. NTB sendiri sebagai salah satu DTW nasional, tentu harus mampu memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki, termasuk keanekaragaman jajan tradisional. Ini penting, untuk meningkatkan daya tarik wisatawan yang berimplikasi pada meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.
‘’Tidak jarang para wisman dan wisdom lebih mengenal makanan khas dan kerajinan khas suatu daerah daripada obyek wisatawanya. Sebut saja, Gudeg Jogja, Gethuk Magelang, Empek–empek Palembang, Dodol Garut dan lainnya,’’ terang Ketua Tim Penggerak PKK NTB, Dra.Hj. Bq. Adnin Serinata, dalam acara Lokakarya Management dan Strategi Pengembangan Usaha Jajan Tradisional Khas NTB, di Balai Diklat NTB, Rabu (14/11) kemarin.
Adnin mengatakan, makanan khas NTB, seperti Pelecing Kangkung, Ayam Taliwang dan jajan tradisional khas NTB lainnya mesti dikembangkan. Dengan tujuan agar lebih dikenal di tingkat nasional hingga internasional. Namun harus diperhatikan penggunaan zat pewarna dan bahan pengawet tidak diperbolehkan. Pasalnya, penggunaan bahan berbahaya pada makanan tradisional akan dapat membahayakan kesehatan konsumen, terlebih para wisatawan.
‘’Selain cita rasa, kemasan jajan tradisional harus juga diperhatikan, sehingga konsumen berminat untuk mencicipi dan membelinya. Sebab, jika kemasan tidak menarik, maka dikhawatirkan para pembeli tidak akan tertarik membeli,’’ kata istri Gubernur NTB ini mengingatkan.
Sekertaris Bappeda NTB, Drs.L. Gita Aryadi, M.Si, mengatakan, NTB sebagai pilot project dalam program pelatihan Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) atau District and Provicial Economic Development (DPED). Di mana, pelatihan ini merupakan hasil kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan Australia (IASTP III). Pelatihan sejenis juga sedang berlangsung di Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Papua yang berlangsung dalam empat tahapan baik di Indonesia maupun di Australia.
Selama di Australia Selatan, pihaknya mengunjungi pusat–pusat pertumbuhan ekonomi, sentra–sentra industri, termasuk industri rumah tangga pembuatan sambal, pengolahan makanan dan lainnya.
Gita menambahkan, lokakarya ini bertujuan untuk mengangkat citra makanan tradisional dan menciptakan peluang usaha yang pada ujungnya dapat membantu pemerintah dalam meningkatkan pendapatan masyarakat dan pendapatan daerah.
‘’Makanan tradisional khas NTB tidak kalah dengan daerah lain sebagai daerah wisata kuliner,’’ kata Valiner dalam Bahasa Inggris. (joe)
Comments
2 Responses to “Tarik Wisatawan, Kembangkan Usaha Makanan Tradisional Khas NTB”
Leave a Reply







Betul banget,,,,,semuanya mesti HIGeNiS….Agar semua sehat….
kan ga lucu bule2 jadi sakit perut gara2 makan jajanan lombok…
tapi setau saya dodol rumput laut lombok dah sertifikat SNI
mengingat makanan lombok dan kue2 asli lombok sangat braneka ragam dri barat sampai timur contoh cerorot dari loteng yg pernah bikin tamu asal jepang tercengang kok ada kue yg seperti itu di berkata..namun seiring berkembanngnya waktu kini usaha pembuatan kue2 tradisional lombok kian ditinggalkan oleh pengusahanya…klo bisa mari kita gali kembali hasanah budaya kita …..