Perang Topat, Ritual di Gumi Sasak

January 31, 2008 · Filed Under Seni Budaya · 2 Comments 
Perang topat (ketupat) setiap tahun berlangsung di Pura Lingsar, Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Upacara ini berlangsung pada waktu saat “raraq kembang waru” alias gugurnya bunga waru.

Acara itu merupakan lambang kerukunan antar umat beragama, khususnya masyarakat Sasak (pemeluk Islam) dan masyarakat etnis Bali (pemeluk Hindu). Perang topat dimulai pukul 15.45, dan berakhir saat matahari tenggelam.

Upacara itu sudah jadi agenda pariwisata. Wanita yang sedang haid tak boleh mengikuti. Sehari sebelumnya ada upacara permulaan kerja atau “penaek gawe”. Ada lagi acara “mendak” alias upacara menjemput tamu agung alias roh-roh gaib yang berkuasa di Gunung Rinjani dan Gunung Agung. Kemudian ada pula penyembelihan kerbau. Ada sesajen berupa jajan sembilan rupa, buah-buahan, dan minuman.

Lempar-lemparan ketupat itu ditingkahi bunyi kul-kul selama sekitar satu jam. Ketupat itu diperebutkan. Yang belum dilemparkan tak boleh dibawa pulang. Kendati ketupat itu sudah penyok, atau isinya “mecotot”, tetap dipunguti orang, khususnya petani, untuk dibawa pulang dan ditempatkan di sudut-sudut pematang sawah atau digantung di pohon buah-buahan.

Maksud upacara itu adalah untuk mendapatkan berkah dan keselamatan, terutama bagi petani anggota Subak.

Memang perang topat tak lepas dari legenda. Konon di Lombok Barat dulu ada Kerajaan Medain. Raja Medain punya anak bernama Raden Mas Sumilir yang bergelar Datu Wali Milir. Suatu ketika ia menancapkan tongkatnya di tanah Bayan. Saat tongkat itu ditarik, air pun muncrat, melaju deras. Dalam bahasa Sasak, melaju artinya langser atau lengsar. Desa itu pun lalu diberi nama Lingsar. Entah bagaimana, Sumilir hilang di situ. Atas musibah itu, seisi istana dan warga sedih. Kesedihan itu berlarut hingga dua tahun. Buntutnya, semua orang melupakan urusan kehidupan. Suatu ketika keponakan Sumilir, Datu Piling, menemukan pamannya itu di lokasi mata air tadi. Dalam pertemuan itu disebutkan, kalau mau menemui Sumilir, hendaklah datang ke mata air itu.

Maka Datu Piling pun memerintahkan pengiringnya untuk menyambut pertemuan itu. Ketupat beserta lauknya dipersiapkan. Pertemuan pun terjadi sekitar pukul 16.00. Setelah itu Raden Mas Sumilir kembali menghilang. Tapi sejak Sumilir menghilang kedua kalinya, warga Lingsar kembali menikmati kemakmuran. Sumber air melimpah, dan siap dipakai mengairi sawah.

Perang ketupat pun lantas dilestarikan sebagai ungkapan rasa syukur, menandai saat dimulainya menggarap sawah ( JIBIS Humaniora)

Gendang Beleq Ritual orang sasak sebelum berperang

January 31, 2008 · Filed Under Seni Budaya · Comment 

(Kompas)Tari Gendang Beleq di beberapa tempat di Lombok sering juga disebut Tari Oncer. Sebuah grup Gendang Beleq terdiri dari 15 - 17 orang pemain, semuanya laki-laki.

Gendang Beleq adalah nama sebuah instrumen dalam musik ini, yaitu gendang berukuran panjang lebih dari satu meter yang disandang pada pundak dua pemain. Kata Beleq dalam bahasa Sasak berarti Besar.

Semula, menurut dalang wayang sasak Lalu Usman Jayadi, Gendang Beleq adalah sebuah instrumen suku Sasak yang dikeramatkan karena memiliki tuah. “Entah siapa yang merekayasa, tiba-tiba instrumen lain masuk dan kemudian jadi tontonan,” ungkap Jayadi.

Pada umumnya Gendang besar itu dicat hitam putih dengan pola kotak-kotak. Di Lombok kedua warna itu memang mempunyai arti simbolis. Hitam adalah lambang keadilan, putih adalah lambang kesucian. Selain itu hitam juga diibaratkan bumi, putih diibaratkan langit, yang keduanya merupakan kekuatan yang harus selalu ada dalam kehidupan manusia.

Tari Gendang Beleq merupakan tari perang walaupun tidak ada gerak yang menunjukkan perkelahian dan tidak ada pula yang membawa senjata perang, karena garapan geraknya selalu menunjukkan watak maskulin/ sikap jantan.

Tari Gendang Beleq dahulu berfungsi sebagai tari pengiring para ksatria yang akan maju ke medan perang atau menyambut para pahlawan yang pulang dari medan perang.

Satu ciri khas dari Tari Gendang Beleq ialah bahwa yang menari adalah pemain-pemain musik itu sendiri.

Adapun pemain-pemain yang memainkan instrument musik sambil menari adalah dua orang pemain Gendang Beleq, seorang penabuh petuk yaitu sebuah gong kecil yang beralas kerangka dari kayu yang dikalungkan, dan beberapa pemain copeh yaitu instrumen musik yang berbentuk ceng-ceng kecil yang dipegang dengan tangan kiri dan kanan.

Gendang Beleq ditabuh dengan alat pemukul yang dipegang pada tangan kanan, sedangkan tangan kiri memainkan bagian kiri dari gendang. Meskipun Gendang ini besar dan berat, tetapi kedua penari yang membawa gendang Beleq ini dapat menari dan bergerak dengan lincah.

Karena sifatnya yang atraktif, tari gendang beleq ini sering kali diadakan untuk mengiringi arak-arakan pengantin atau arak-arakan anak yang akan dikhitan, dan untuk penyambutan tamu penting.

Tari Gendang Beleq di Kabupaten Lombok Timur terdapat di semua Kecamatan Lombok Timur.

Konon, Gendang Beleq tak boleh disentuh oleh musuh. Masih menurut Jayadi, para pemain gendang belek juga memiliki strata sosial yang baik di dalam masyarakat. (Jodhi Yudono)

Wayang Sasak, Pengembaraan dari Timur Tengah hingga Lahat

January 31, 2008 · Filed Under Seni Budaya · Comment 
Wayang(Kompas) Debur ombak memecah di pantai. Bintang-bintang yang bertaburan kian memperjelas, inilah musim yang baik untuk menyelenggarakan hajatan. Tak ada mendung, apalagi hujan. Seperti pada Minggu malam (15/7) lalu, dalam rangkaian Festival Tradisi Bahari yang berlangsung di Labuhan Haji, Lombok Timur (17-19 Juli 2007).

Setelah sesorean menghabiskan waktu di Tanjung Luar untuk mengikuti upacara nyalamak di laut, malam ini saya berniat menonton pergelaran wayang sasak di sebuah jalan dekat pantai yang ditutup sementara untuk umum selama hajatan festival ini.

Di jalan dekat pantai itu telah didirikan sebuah panggung dengan perangkat sound system yang besar-besar di kanan kiri bibir panggung. Namun tak seperti galibnya panggung pertunjukan, pada Senin malam (16/7) itu bagian depan panggung diberi layar untuk pertunjukan wayang sasak.

Di balik layar, adalah ruangan persegi empat yang dibatasi dengan pagar bambu, tempat dalang bekerja bersama penabuh gamelan yang terdiri dari pemain gong, kendang, kajar, kenat, suling, dan 2 (dua) penggancang (pembantu dalang di kiri-kanan).

Waktu telah menunjuk pukul sepuluh pada Minggu malam itu. Setelah musik pembuka yang iramanya riang terdengar, muncullah para sosok punakawan yang terdiri dari tokoh Amaq Baok, Amaq Locong, Amaq Amet, Amaq Kesek (Di Jawa ada Semar, Gareng, Petruk, Baging). Mereka inilah para pengabdi raja-raja bijak. Sedang punakawan pengabdi raja-raja kiri disebut Lurah dan Kembung. (Di Jawa disebut Bilung dan Togog).

Para punakawan itu membicarakan berbagai hal yang sedang aktual di masyarakat. Misalnya, tentang Pilkada, pembangunan, yang dikemas dengan humor-humor segar yang memancing tawa penonton.

Sejarah wayang sasak

Dibawa dari Jawa oleh Raden Sangupati yang datang ke Lombok pada abad XVI sebagai bagian dari syiar Islam kala itu. Dulu di Lombok terjadi kemarau 7 tahun. Maka diutuslah seorang punggawa kerajaan Pejanggi ke Gunung Rinjani untuk meminta hujan. Ternyata di gunung itu sang punggawa bertemu dengan R. Sangupati. Usai pertemuan tersebut, sang punggawa disuruh mengadakan pertunjukan wayang di daerah Rambang, Selong. Tiket untuk menonton adalah membaca dua kalimah syahadat dan wudlu. Lakon dalam pertunjukan wayang sasak diambil dari Serat Menak yang dikarang oleh Yagadipura. Berkisah tentang pengembaraan Wong Agung Jayengrono (Amir Hamzah) dalam menyebarkan agama Islam di wilayah Timur Tengah, sebagian daratan Eropa, Asia, hingga Lahat di Sumatera Utara.

Jayengrana sendiri berasal dari kerajaan Medayin yang dipimpin oleh sang raja bernama Prabu Nusirwan. Kerajaan ini memiliki dua patih bernama Betaljemur yang berwatak baik dan Patih Bestak yang berperangai jahat. Celakanya, Nusirwan justru selalu mengikuti nasihat dari patih Bestak.

Namun berkat kecerdasan dan keberanian Jayengrono, semua jebakan yang dipasang oleh Patih Bestak agar panglima itu mati di medan perang justru berbuah kemenangan. Setelah Jayengrono menaklukan 44 negara, Prabu Nusirwan pun mengambil Jayengrana sebagai menantunya.

Dalam pergelaran di tepi pantai Labuhan Haji itu, Ki Dalang Lalu Usman Jayadi menggelar lakon yang berkisah tentang seorang raja muda kafir yang belum menikah bernama Prabu Jabal Topa. Sang raja memilik dua patih jahat bernama Jabal Suarga dan Jabal Neraka. 

Suatu hari Raja Topa melamar seorang putri Raja Pandita Bawaji di negara Medangkukus. Namun oleh sang pandita, lamaran tersebut ditolak karena tak seagama. Usai penolakan, Bawaji justru dimarahi oleh patihnya sendiri karena telah menolak seorang raja yang kaya raya dan sakti mandraguna.

Apa boleh buat, perang pun terjadi dengan sengitnya. Namun, sebelum ada yang kalah dan menang, hari telah keburu malam. Perang pun berhenti sementara. Waktu jeda perang itu dimanfaatkan oleh Bawaji untuk membawa putrinya melarikan diri ke negeri Arab untuk menemui Sang Jayengrana yang dipandangnya sebagai ksatria yang berahlak mulia.

Dikisahkan, putri Bawaji akhirnya menikah dengan Jayengrana. Nah, usai pernikahan tersebut, Jayengrana pun menumpas kebatilan Raja Topa beserta punggawanya.

 Adegan

Pergelaran wayang sasak dibagi menjadi beberapa adegan. Adegan I disebut Pengaksama (pembuka), isinya permintaan maaf kepada penonton apabila dalam mendalang sang dalang beserta pengiringnya memjbuat kesalahan.

Adegan II disebut Kabar. Pada adegan ini, sang dalang menceritakan kisah sebelun ada alam raya dan hanya ada Sang Pencipta.

Adegan III, Ucapan. Sang dalang memaparkan tentang lakon yang akan dibawakan.

Adegan IV disebut Lelampan (jalan cerita).

Adegan V, Bejanggeran (penutup dan kesimpulan). (jodhi yudono)

Next Page »