Wayang Sasak, Pengembaraan dari Timur Tengah hingga Lahat
Setelah sesorean menghabiskan waktu di Tanjung Luar untuk mengikuti upacara nyalamak di laut, malam ini saya berniat menonton pergelaran wayang sasak di sebuah jalan dekat pantai yang ditutup sementara untuk umum selama hajatan festival ini.
Di jalan dekat pantai itu telah didirikan sebuah panggung dengan perangkat sound system yang besar-besar di kanan kiri bibir panggung. Namun tak seperti galibnya panggung pertunjukan, pada Senin malam (16/7) itu bagian depan panggung diberi layar untuk pertunjukan wayang sasak.
Di balik layar, adalah ruangan persegi empat yang dibatasi dengan pagar bambu, tempat dalang bekerja bersama penabuh gamelan yang terdiri dari pemain gong, kendang, kajar, kenat, suling, dan 2 (dua) penggancang (pembantu dalang di kiri-kanan).
Waktu telah menunjuk pukul sepuluh pada Minggu malam itu. Setelah musik pembuka yang iramanya riang terdengar, muncullah para sosok punakawan yang terdiri dari tokoh Amaq Baok, Amaq Locong, Amaq Amet, Amaq Kesek (Di Jawa ada Semar, Gareng, Petruk, Baging). Mereka inilah para pengabdi raja-raja bijak. Sedang punakawan pengabdi raja-raja kiri disebut Lurah dan Kembung. (Di Jawa disebut Bilung dan Togog).
Para punakawan itu membicarakan berbagai hal yang sedang aktual di masyarakat. Misalnya, tentang Pilkada, pembangunan, yang dikemas dengan humor-humor segar yang memancing tawa penonton.
Sejarah wayang sasak
Jayengrana sendiri berasal dari kerajaan Medayin yang dipimpin oleh sang raja bernama Prabu Nusirwan. Kerajaan ini memiliki dua patih bernama Betaljemur yang berwatak baik dan Patih Bestak yang berperangai jahat. Celakanya, Nusirwan justru selalu mengikuti nasihat dari patih Bestak.
Namun berkat kecerdasan dan keberanian Jayengrono, semua jebakan yang dipasang oleh Patih Bestak agar panglima itu mati di medan perang justru berbuah kemenangan. Setelah Jayengrono menaklukan 44 negara, Prabu Nusirwan pun mengambil Jayengrana sebagai menantunya.
Suatu hari Raja Topa melamar seorang putri Raja Pandita Bawaji di negara Medangkukus. Namun oleh sang pandita, lamaran tersebut ditolak karena tak seagama. Usai penolakan, Bawaji justru dimarahi oleh patihnya sendiri karena telah menolak seorang raja yang kaya raya dan sakti mandraguna.
Apa boleh buat, perang pun terjadi dengan sengitnya. Namun, sebelum ada yang kalah dan menang, hari telah keburu malam. Perang pun berhenti sementara. Waktu jeda perang itu dimanfaatkan oleh Bawaji untuk membawa putrinya melarikan diri ke negeri Arab untuk menemui Sang Jayengrana yang dipandangnya sebagai ksatria yang berahlak mulia.
Adegan
Adegan II disebut Kabar. Pada adegan ini, sang dalang menceritakan kisah sebelun ada alam raya dan hanya ada Sang Pencipta.
Adegan IV disebut Lelampan (jalan cerita).
Comments
Leave a Reply






