Semangat “Lombok Treaty” Dalam Pertemuan Menhan RI-Australia

March 28, 2008 · Filed Under Hankam · 2 Comments 
Brisbane (ANTARA News) - Rencana pertemuan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono dan Menhan Australia, Joel Fitzgibbon, di Canberra, 27 Maret 2008, sangat penting bagi penguatan hubungan bilateral, menyusul berlakunya secara resmi Perjanjian Lombok (Lombok Treaty) sejak 7 Februari lalu.

Bagi Indonesia, pertemuan kedua Menhan ini dipandang signifikan untuk melihat strategi pertahanan pemerintahan baru Australia di kawasan Asia Pasifik, kata Minister Counsellor Bidang Politik KBRI Canberra, Samsu Rizal, Senin.

“Sebagai negara sahabat dan tetangga dekat Australia, cukup penting bagi Indonesia untuk melihat bagaimana strategi pertahanan Australia dalam pemerintahan baru. Tentu ada perubahan-perubahan, walaupun tidak sampai menjadi gangguan,” katanya.

Dalam konteks pemerintahan baru Australia, adanya pertemuan Menhan kedua negara juga penting karena Canberra pun bisa mendapatkan satu gambaran tentang strategi Indonesia di kawasan dalam kaitannya dengan pertahanan, kata Samsu Rizal.

“Dalam hal ini, Indonesia tidak perlu diragukan karena kepentingan pertahanannya adalah untuk kepentingan dalam negeri dan bukan invasi,” katanya.

Diplomat senior lulusan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) Medan ini tidak menampik fakta bahwa masih ada kelompok tertentu yang masih berprasangka buruk bahwa Indonesia memiliki ambisi teritorial, padahal sama sekali tidak.

Dari segi besaran anggaran pertahanan, Indonesia pun sangat jauh di bawah Australia. “Yang pasti, pertemuan kedua Menhan akan memperkuat ‘link’ (hubungan) dan jaringan, serta membuka dialog kedua pihak,” katanya.

Terlebih lagi, agenda strategis bagi penguatan hubungan kedua negara tidak terlepas dari 10 butir kerjasama yang sudah termaktub dalam Perjanjian Keamanan Indonesia-Australia yang sudah resmi berlaku sejak Menlu Hassan Wirajuda dan Menlu Stephen Smith menandatangani proses verbal pertukaran nota diplomatik perjanjian itu di Perth, Australia Barat, 7 Februari lalu.

Perjanjian yang ditandatangani di Lombok 13 November 2006 dan telah diratifikasi parlemen kedua negara itu dipandang Indonesia dan Australia sebagai landasan yang kuat untuk meningkatkan hubungan bilateral dalam suatu tantangan dan peluang yang baru.

Perjanjian Lombok meliputi kerjasama bidang pertahanan, penegakan hukum, kontra terorisme, intelijen, keamanan maritim, keselamatan pembangunan dan keamanan pencegahan senjata pemusnah massal.

Perjanjian ini juga mencakup kerjasama darurat, kerjasama dalam organisasi dunia tentang isu-isu keamanan dan kerjasama antarmasyarakat, katanya.

“Lombok Treaty (Perjanjian Lombok-red) ini adalah `spirit` (semangat) baru dalam pengelolaan hubungan bilateral yang lebih maju ke depan,” kata Samsu Rizal.

Selama ini hubungan dan kerja sama kedua negara di bidang pertahanan sudah berjalan dengan baik, sebagaimana tercermin dari saling-kunjungan para pejabat Dephan dan dialog antar-perwira dari ketiga matra angkatan bersenjata kedua negara, katanya.

Forum Asia Timur

Sementara itu, terkait dengan kunjungan empat hari Menhan Juwono Sudarsono di Australia, Atase Pertahanan RI di KBRI Canberra, Marsekal Pertama TNI Kuswantoro, sebelumnya mengatakan Menhan Juwono dijadwalkan tiba di Sydney, Selasa pagi.

Selain bertemu Menhan Australia Joel Fitzgibbon di Canberra, Menhan Juwono juga menghadiri forum dialog Asia Timur di Sydney pada 26 Maret sebelum bertolak ke Canberra.

“Beliau turut didampingi Dirjen Strategi Pertahanan dan ajudan,” katanya.

Sehubungan dengan rencana kunjungannya ke Australia itu, Menhan Juwono Sudarsono pada 19 Maret lalu telah menerima kunjungan Atase Pertahanan Australia Ian R. Errington di kantornya di Jakarta untuk melakukan koordinasi.

Kunjungan Menhan Juwono Sudarsono ke Australia ini adalah yang pertama sejak Perjanjian Lombok resmi berlaku.

Australia di bawah pemerintahan baru Partai Buruh bertekad untuk menjaga kemampuan tempur udara dan lautnya di kawasan Asia Pasifik.

Selain membeli 24 unit jet tempur canggih F/A-18F “Super Hornet”, Australia juga berambisi untuk bisa membeli pesawat tempur siluman F-22 Raptor dari Amerika Serikat (AS).

Australia yang merupakan kekuatan menengah dalam perpolitikan global terlihat mempertimbangkan partisipasinya dalam program sistem pertahanan misil AS.

Seterusnya, Menhan Joel Fitzgibbon juga sudah memerintahkan pembuatan rencana pengembangan generasi baru kapal selam Angkatan Laut Australia untuk menggantikan armada kapal selam kelas “Collins” pada 2025.

Proyek pengembangan armada kapal selam baru dengan biaya 25 miliar dolar yang perlu waktu 17 tahun itu disebut Suratkabar “The Australian” sebagai proyek pertahanan terbesar, terlama, dan termahal di negara itu.

Rencana Australia di bawah pemerintahan Partai Buruh untuk memperbaharui armada kapal selam itu muncul di saat negara-negara di kawasan Asia Pasifik, seperti Indonesia, China, dan India juga mulai mengembangkan kekuatan armada kapal selamnya.

Sejauh ini, Australia memiliki sedikitnya enam kelompok kapal selam, yakni HMAS Collins, HMAS Dechaineux, HMAS Farncomb, HMAS Rankin, HMAS Sheean, dan HMAS Waller. (*)

‘Rinjani Race’ Masuk Kalender Pariwisata NTB

March 28, 2008 · Filed Under Wisata · 2 Comments 

MATARAM–MI: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) memasukkan ‘Rinjani Race’ dalam agenda pariwisata tahunan untuk mendukung Visit Indonesia Year (VIY) 2008 dengan target tujuh juta wisatawan mancanegara.

“Perlombaan pendakian di Taman Nasional Gunung Rinjani (Rinjani Race) setiap bulan Juni diagendakan dalam kalender pariwisata NTB,” kata Kasubdin Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, Mahdi Muhammad, SH. MH, di Mataram, Sabtu.

Ia mengatakan, TNGR merupakan kawasan wisata andalan NTB yang telah dikenal dunia internasional karena pada Tahun 2004 menerima penghargaan dunia yakni ‘World Legacy Award’ dari National Geographic sebagai daerah wisata yang berhasil mengembangkan pariwisata berbasis ekowisata.

Tahun ini, TNGR termasuk tiga finalis ‘Tourist for Tourism Award’ untuk kategori ‘Destination Award’ yang diselenggerakan oleh World Tourist and Tourism Council (WTC) yang bermarkas di London, Inggris.

Dua finalis lainnya merupakan obyek wisata di Amerika Serikat dan Kanada yang mampu menyaingi 147 obyek wisata lainnya dari 40 negara di bidang pengelolaan kepariwisataan yang tetap memperhatikan aspek pemberdayaan masyarakat setempat.

Indikator penilaian kawasan wisata terbaik dunia itu yakni keindahan alam dan pola pengelolaan wisata disertai upaya konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya yang melibatkan masyarakat sebagai komponen pendukung.

Pengumuman pemenang atau ‘The Best One’ dari tiga finalis ‘Tourist for Tourism Award’ itu akan berlangsung di Dubai (Uni Emirat Arab), 21 April mendatang.

TNGR merupakan kawasan andalan yang berada di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan luas areal 41.330 hektare. Secara administrasi TNGR mencakup tiga wilayah kabupaten yakni Kabupaten Lombok Barat, Lombok Timur dan Lombok Tengah.

Kawasan TNGR di Kabupaten Lombok Barat seluas 12.360 hektare meliputi dua kecamatan dengan 15 desa, Lombok Tengah seluas 6.824 hektare yang mencakup dua kecamatan tersebar pada lima desa dan Kabupaten Lombok Timur pada tujuh kecamatan yang tersebar pada 17 desa dengan luas kawasan 22.146 hektare.

Salah satu pesona unggulan TNGR adalah Danau Segara Anak yang berada pada ketinggian 2.010 meter dari permukaan laut. Danau Segara Anak yang berada di sebagian Gunung Rinjani yang tingginya mencapai 3.726 meter dari permukaan laut.

Untuk mengunjungi Danau Segara Anak dapat melalui dua jalur resmi yakni jalur pendakian Senaru dengan waktu tempuh 7-10 jam berjalan kaki karena jaraknya kurang lebih delapan kilometer, dan jalur Sembalun dengan waktu tempuh relatif sama yakni 8-10 jam.

“Dengan digelarnya ‘Rinjani Race’ tentu arus kunjungan wisatawan mancanegara ke wilayah NTB makin meningkat. Kalau sebelumnya setiap tahun mencapai 4.000-an orang lebih, maka diperkirakan akan lebih dari 5.000 orang jika ‘Rinjani Race’ digelar secara rutin,” ujar Mahdi.

Kalender tahunan

Selain ‘Rinjani Race’ NTB sudah mengagendakan kelander pariwisata tahunan sejak Januari hingga Desember, yang dimulai dengan Festival Kesenian Tradisional Mbojo di Bima, Pulau Sumbawa, yang biasanya digelar akhir Januari atau awal Pebruari.

Kegiatan pariwisata tahunan di bulan Pebruari hingga Maret yakni Bau Nyale di Desa Kuta dan Seger di Kabupaten Lombok Tengah dan Desa Kaliantan dan Jerowaru di Kabupaten Lombok Timur. Bau Nyale adalah kejadian alam yakni pemunculan cacing laut yang dikaitkan dengan budaya.

Kegiatan pariwisata lainnya di bulan Maret yakni Pawai Ogoh-ogoh menyongsong Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu di NTB, Barapan Kerbau di Sumbawa Besar menyambut datangnya musim tanam padi dan Rebo Bontong (mandi Sapar) di Desa Keranji, Labuapi, Lombok Barat, oleh masyarakat desa pada sumur yang dikeramatkan.

Kalender pariwisata di bulan April berupa Malean Sampi (kesenian parade sapi berlari) setelah musim panen dan menjelang musim tanam berikutnya di Lombok Barat, Festival Gendang Beleq untuk menyambut tamu yang datang ke Pulau Lombok dan Pacuan Kuda Tradisional di Pulau Sumbawa.

Kegiatan pariwisata di bulan Mei yakni peringatan Maulid Nabi yang biasanya digelar selama sebulan secara berpindah-pindah dari masjid ke masjid.

Kegiatan di bulan Juni berupa Berampok atau tradisi masyarakat Sumbawa Barat yang saling memukul menggunakan ikatan padi sebagai ungkapan rasa kegembiraan atas hasil panen, dan Lomba Dansa Internasional yang dilaksanakan di pulau Lombok untuk menggaet wisatawan.

Kalender pariwisata di bulan Juli berupa Festival Senggigi (atraksi seni dan budaya tradisional suku Sasak), NTB Expo untuk promosikan hasil bumi dan Festival Seni Pelajar untuk melestarikan seni budaya di kalangan pelajar.

Kegiatan di bulan Agustus berupa Apresiasi Budaya tradisional Sasak (Lombok) dan Mbojo (Sumbawa), Lomba Surfing (Surfing Competition) di Dompu dan Sumbawa, Pacuan Kuda Tradisional di Bima, Paresean (atraksi kejantanan lelaki Sasak dalam sebuah pertarungan dengan senjata tradisional), lomba Cidomo tradisional dan Begangsingan (permainan rakyat saat panen di sawah).

Kegiatan pariwisata Sail Indonesia di bulan September, Lebaran Topat dan Lombok Triathlon (lari maraton) di bulan Oktober, Mulang Pakelem (pemberian sesaji kepada para dewan oleh umat Hindu) dan Perang Topat (lempar ketupat), Pacuan Kuda Tradisional di Bima dan U’a Pua (upacara penghormatan kesultanan Bima kepada guru ngajinya) yang digelar di bulan Desember. (Ant/OL-01)

Kawasan Tiga Gili Lombok Barat Lokasi Peredaran Narkoba

March 27, 2008 · Filed Under Kriminal · Comment 

MATARAM–MI: Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (Polda NTB) menyimpulkan kawasan wisata tiga gili yakni, Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air Kabupaten Lombok Barat, merupakan lokasi peredaran dan pengguna narkotika.

“Hasil penyelidikan yang kami lakukan membuktikan di sana betul-betul ada peredaran narkoba,” kata Komisaris Besar (Kombes) Ismail Bafadal Direktur Narkoba Polda NTB kepada wartawan, Senin (24/02).

Menurutnya, dari hasil operasi yang dilakukan pada Jumat (21/03) lalu, pihaknya telah menahan 7 tersangka pengedar dan pengguna narkoba berikut sejumlah barang bukti berupa ganja, putau dan ekstasi.

Mereka yang kini menjalani penahanan di antaranya adalah, Tasmin, Ahmad Jaialani, Rizal, Omek, Haryono, Salahuddin dan Ucok. Selain itu, dari hasil penyisiran tersebut juga terdapat dua pengguna yang dari hasil tes urine positip pengguna hasis atau ganja, namun tidak ditahan karena tidak ditemukan barang bukti di tangan.

Pengungkapan kasus peredaran narkoba di ketiga gili tersebut, khususnya di Gili Trawangan adalah berdasarkan informasi yang diperoleh dua minggu sebelumnya.

Dalam operasi tersebut Polda NTB menerjunkan 137 kekuatan termasuk di dalamnya, Brimob, Samapta, serta Bawah Kendali Operasi (BKO) Polairud Mabes Polri yang kebetulan melakukan operasi menggunakan kapal di sekitar wilayah Lombok. Selain itu juga menerjunkan bantuan anjing pelacak untuk mengendus pelaku dan barang haram tersebut.

Sebagaimana diketahui, kawasan tiga gili tersebut merupakan salah satu kawasan obyek wisata di Lombok Barat yang lokasinya berdekatan dengan obyek wisata Senggigi. Hanya saja untuk ke Gili Trawangan misalnya harus naik speed boat sekitar 15 menit dan kebanyakan penyeberangan dilakukan melalui Kecamatan Pemenang Lombok Barat. (YR/OL-2)

Next Page »