Cerite Kontex Sasak
April 18, 2008
SKAR dan DIU
April 23, 2008

Kemarau panjang di Lombok

Kemarau panjang di Lombok paling lama tambah 2 bulan saja karena musim hujan mundur sampai desember yang seharusnya oktober sudah mulai basah. Kejadian itu sudah sejak zaman dahulu sebagai efek perubahan iklim oleh meningkatnya suhu laut di pasifik.Tapi khusu mengenai apa yang diceritakan Yus adalah sebuah senepa (sindiran) bahwa Gumi Selaparang tanpa datu benar2 terasa panas leteng (tiada tentram) di hati warganya. Bayangkan situasi sesudah jatuhnya Pak Harto, setelah meletus G30S PKI dan sesudah kerusuhan2 yang beruntun di Lombok. Keadaan sangat memeperihatinkan. Di Lombok ini sepanjang sejarahnya, banyak mengalami khaos (kerusuhan) karena selalu terjadi ketidakadilan dimana-mana.

Meskipun kemarau hanya tambah 2 bulan tapi keadaan geografis Lombok yang cendrung kering dapat memusnahkan harapan panen. Karena padi zaman dahulu panennya 6 bulan. Kalau air menghilang pada bulan ke 5 saja pasti gagal apalagi sebelumnya. Dari pengalaman gagal mencapai umur itu, orang Sasak mempunyai kebijakan memanen hijau padinya kemudian padi disangrai lalu ditumbuk. Beras sangrai itu sangat wangi dan sedap tapi tak mencukupi kebutuhan karena kurang sekali.Maka mereka mengkonsumsi semua umbi2 an,seperti uwi, sudax dan bahkan gadung atau nasi kering yang disangrai. Dahulu nasi keringnya juga sedap karena padinya bermutu sehingga nasi tidak basi. Tidak seperti nasi aking zaman kini yang cocok untuk pakan babi saja.

Beberapa kali bencana gunung meletus, tapi belum pernah besar sekali sampai menelan banyak korban. Kalau dilihat dari potensi alam Lombok dengan jumlah penduduk yang sedikit tidak seharusnya terjadi  kekurangan pangan karena hasil panen tiap tahun melimpah. Saya ingat waktu kecil, lumbung kami penuh untuk waktu satu tahun dan masih separuh ketika kami menebar benih di musim tanam berikutnya.  Kelemahan orang Sasak adalah dalam hal penanganan paska panen. Itu tidak hanya di sektor pertanian, perikanan juga masih seperti itu. Dahulu para nelayan adalah orang yang paling pertama menikamti segala fasilitas terbaik karena kalau panen uang melimpah dan dipakai untuk memborong apa saja dan ketika paceklik barangnya tidak laku dijual. Begitu setrusnya sampi bertahun tahun.

Kelak akan terjadi bencana yang lebih besar berupa kerusushan lagi disebabkan oleh ketidak adilan lagi. Kemiskinan yang dipelihara bahkan jadi proyek baik oleh pemerintah atau LSM akan membuahkan bencana yang tak terperi.

Mari kita berjuang menyelamatkan Bangsa Sasak dari ancaman dahsyat kerusuhan (khaos) yang pasti akan terulang itu, dengan memikirkan dan berbuat hal hal kecil yang mengarah pada pembangunan harkat  martabat Bangsa sasak.

Islam mengajarkan kita berfikir sederhana, bertindak sederhana dan hidup sederhana. Berfikir sederhana yaitu memikirkan hal hal yang dapat kita mengerti dan sekiranya dapat dilaksanakan menurut kapasitas
kita. Bertindak sederhana berarti memberi solusi kepada suatu masalah dengan kemampuan yang ada. Hutang tak boleh diselesaikan dengan hutang baru. Kemarau dapat diatasi dengan menanam satu pohon di pekarangan rumah misalnya atau menggali sumur resapan. Dan hidup sederhana adalah menjaga keseimbangan kebutuhan fisik dan rohani. Hidup hedonis harus dihindari, anak2 tidak seharusnya diberi fasilitas berlebih. Bagaimana mungkin orang pergi haji sedangkan masyarakatnya sangat terbelakang?
Kalau jujur dan taat pastilah uang tak akan cukup untuk bayar ongkos haji, karena sedekah, infak dan zakat untuk menyelamatkan manusia jauh lebih utama.Bukan kah haji itu dapat diumpamakan atap bangunan? Belum bikin fondasi rumah dengan baik kok atap dipasang, ya ambruklah…

Bencana yang datang tak dapat dihentikan tetapi ia dapat dicegah dengan berjuang dan bersahabat dengan alam semesta dan penghuninya.

Itulah prinsip Rahmatan lil alamin…

Wallahualambissawab

Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *