Air Pasang Rendam Dusun Cemara
Giri Menang (Suara NTB) Air pasang, Rabu (7/5) kemarin merendam perkampungan nelayan di Dusun Cemara Tebel, Desa Lembar, Kecamatan Lembar, Lombok Barat (Lobar). Air pasang yang terlihat naik sejak Selasa lalu, Rabu kemarin kian tinggi. Ratusan rumah penduduk terendam dan memaksa lebih dari 200 KK (sekitar 1.026 jiwa) dievakuasi ke luar dusun yang diapit laut dan muara itu.
Tidak ada korban jiwa dan luka-luka dalam musibah tersebut. Selain merendam rumah penduduk, air pasang juga menyapu puluhan hektar tambak bandeng dan udang milik warga. Akibatnya warga mengalami kerugian hingga puluhan juga rupiah.
Informasi yang berhasil dihimpun Suara NTB di Dusun Cemara Tebel, terjadinya air pasang sejak Selasa lalu di luar perkiraan warga. ‘’Kami sudah turun temurun tinggal di kampung ini. Menurut perhitungan kami, sekarang belum musim barat. Tapi kenapa tiba-tiba air meluap sampai merendam perkampungan kami,’’ kata H. Manan dengan nada heran.
Air pasang mulai terasa sejak Selasa siang dan warga pun siaga. Namun beberapa jam kemudian, air kembali surut dan hingga malam hari air normal. Tiba-tiba, siang kemarin sekitar pukul 10.00 wita, tanda-tanda air pasang kembali muncul. ‘’Dorongan air sangat keras dan dalam hitungan menit sudah meluap dan merendam perkampungan,’’ katanya. Ketinggian air merendam rumah penduduk hingga mencapai satu meter.
Menyadari air terus naik, warga pun panik. Warga berusaha menyelamatkan diri lari sambil membawa barang-barang yang bisa diangkutnya ke luar dari perkampungan. Untuk mencapai lokasi yang aman, sebagian warga harus diangkut dengan perahu karet dan boat yang disiapkan SAR Mataram. Warga yang diangkut dengan perahu karet, sebagian besar bermukim di ujung Dusun Cemara Tebel.
Sebagian warga ada yang enggan meninggalkan rumah karena alasan khawatir barang dan ternaknya hilang. Dibantu Satpol PP Pemkab Lobar, aparat desa setempat menjemput paksa warga ke luar perkampungan. Evakuasi warga dibantu Tim SAR. Menurut Kepala Kantor SAR Mataram, Drs.Ida Bagus Budisma yang dikonfirmasi Suara NTB, pihaknya menurunkan 22 orang personel lengkap dengan perahu karena dan boat (terbuat dari fiber glass).Evakuasi dilakukan di tempat-tempat yang terendam parah sekitar pukul 12.00 wita.
Proses evakuasi yang melibatkan Satpol PP, SAR, polisi, TNI serta instansi terkait lainnya berlangsung cepat itu, berhasil memindahkan lebih dari 1000 warga ke luar dari perkampungan yang sering diterjang air pasang itu. Warga selanjutnya di tampung di sebuah tempat dan dibangunkan tenda-tenda. Namun sekitar pukul 15.00 wita, secara perlahan air pasang mulai surut.
Warga pun tak bisa dicegah untuk kembali ke rumahnya masing-masing. ‘’Kami harus pulang. Kalau tidak pulang, maka tidak bisa makan, ‘’ kata seorang nelayan, sambil membawa sauh ke luar rumahnya yang masih terlihat terendam air.
Sementara menurut pemilik tambak, mereka mengaku rugi hingga jutaan rupiah. ‘’Usia bandeng di tambak bervariasi. Ada yang akan panen sebulan lagi, ada yang dua bulan lagi dan bahkan ada yang dua minggu lagi. Tapi semuanya habis. Semuanya hanyut. Kami rugi dan modalnya dari ngutang,’’ tutur H.Manan dengan nada tegar.
Ia memang rugi besar, karena tiga petak tambaknya tanpa sisa. Padahal semua modal diperolehnya dengan cara meminjam. ‘’Saya berharap agar pemilik modal mengerti. Mau apa lagi,’’ katanya pasrah.
Di tempat terpisah Prakirawati BMG Bandara Selaparang, Catur Winarti mengatakan, terjadinya air pasang di Dusun Cemara karena adanya Swell (alur gelombang pasang kiriman dari laut lepas). Alur gelombang ini, memang muncul tiba-tiba dan biasanya muncul atau terjadi pagi hingga siang hari.
Warga Cemara diminta untuk tetap waspada, karena Swell, diperkirakan akan muncul lagi. ‘’Diperkirakan terjadi dalam rentang waktu seminggu,’’ Catur memperkirakan. Sementara dampak Swell pada kondisi laut menurutnya tidak terlalu besar. Gelombang diperkirakan tingginya antara 1-2 meter. Namun demikian warga khususnya nelayan, tetap saja diminta waspada. (049)
Comments
Leave a Reply






