Sejumlah Kesenian Tradisi Lombok Terancam Punah

May 8, 2008 · Filed Under Seni Budaya 

MATARAM, KOMPAS — Sejumlah kesenian tradisional Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) diperkirakan terancam punah. Pementasan cupak gerantang dan wayang kulit merupakan seni tradisi yang dulu lazim digelar untuk memeriahkan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di NTB namun kini nyaris tak terlihat lagi.
   
“Cupak gerantang merupakan salah satu kesenian tradisional Lombok yang cukup digemari masyarakat dan kini terancam punah,” demikian hasil pemantauan Kantor Berita Antara di Mataram, yang dilansir Rabu (26/3).
   
Hari-hari ini masyarakat Lombok khususnya di Kelurahan Dasan Agung, Kota Mataram, sedang merayakan hari Maulid Nabi Muhammad SAW secara tradisional selama sebulan penuh hingga akhir bulan Rabiul Awal. Masyarakat tidak lagi menampilkan kesenian tradisional melainkan grup musik seperti band.  Bahkan banyak kesenian tradisional sudah tidak dimainkan lagi, karena para pemainnya pindah ke kesenian gendang beleq.

Salah seorang pemain cupak gerantang, Yusuf (55) dari Dasan Agung Mataram  mengatakan, kesenian itu beberapa tahun lalu sering tampil hampir diseluruh pelosok Pulau Lombok.  Saat itu masyarakat masih menyenangi cupak gerantang, sehingga ketika digelar di suatu desa penontonnya mencapai ribuan orang. Pertunjukan biasanya berlnagsung sejak pukul 21.30 Wita hingga pukul 03.00 subuh.
   
Yusuf yang acap berperan sebagai Cupak, tokoh yang rakus dalam hal makan, mengatakan, cupak gerantang sekarang hampir tidak pernah tampil karena kalah bersaing dengan jenis kesenian lain. Sementara kaum muda Lombok atau NTB pada umumnya akan menjadi bahan tertawaan, jika mereka masih menonton cupak . Akibatnya para pemain juga malas tampil.  “Sementara pembinaan dari pemerintah hampir tidak ada, kita hidup secara mandiri,” katanya. 
   
Antara juga melaporkan bahwa sejumlah kesenian tradisional lain di NTB juga nyaris punah. Di antaranya ialah cepung, joget dan tawak-tawak. “Sementara tari Gandrung hanya ditampilkan ketika menyambut tamu dari dalam maupun luar negeri,” katanya.
   
Beberapa tahun lalu joget dan cepung masih sering ditampilkan pada saat perayaan hari-hari besar termasuk peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus, namun akhir-akhir ini tidak lagi.
    
Pihak Dinas Budpar NTB melakukan pembinaan terhadap kesenian tradisional dengan memberikan kesempatan kepada kesenian tradisional tampil diberbagai acara untuk menghibur rakyat.  Di samping itu, kesenian tradisinal juga ditampilkan di hotel-hotel berbintang untuk memberikan hiburan kepada para wisatawan.
    
Sekarang kesenian yang sedang hidup dan berkembang di masyarakat ialah gendang beleq. Gendang beleq ialah musik penyemangat yang dulu digunakan sebagai musik pengantar prajurit yang akan turun ke medan perang. Aslinya seni gendang beleq dimainkan oleh 17 orang yang memainkan atau menabuh alat musik Gendang Beleq, pentung, gong, ceng-ceng, reong, dan dempul. Sebagai seni pertunjukan kini gendang beleg bisa terdiri dari 30 orang dan mengutamakan tampilan ekspresi, busana, dan permainan pelengkap.

Masyarakat Lombok yang mengadakan acara perkawinan terutama nyongkolan selalu menampilkan kesenian gendang beleq.

Comments

3 Responses to “Sejumlah Kesenian Tradisi Lombok Terancam Punah”

  1. Bisri on May 11th, 2008 9:22 pm

    Itulah ironisnya di Lombok……….(ketawa ngakak)
    kalau macam band, marching band……. malah dianjurkan…….tapi kalau itu gendang beleq, tawaq2, dan yang berbau tradisional malah dianggap kafir…..
    cobalah macam Gendang Beleq atau jenis kesenian lainnya diajarkan sebagai ekstrakurikuler di sekolah2 atau pendidikan tinggi…enggak hanya Santri2 diajarkan Marching Band………
    Selain itu malah budaya2 yang berbau Timur Tengah justru diangkat padahal kita akar budayanya bukan orang Arab……. kalau mau “mengentalkan budaya Lombok” hayoooo yang konsisten duuunk……
    marii Tokoh Agama, Tokoh Pemerintahan dan Tokoh Adat, berjalan yang sinergis. Berpedoman pada Berpikiran Positif, Jangan Hanya Bicara Saja, saya pikir identitas kita sebagai Bangse Sasak akan bertahan dalam menghadapi kemajuan jaman. Yaah setidaknya kita akan masih bangga “bekereng/belondong”……Bangga Menjadi SASAK.

  2. aryasatiawira on July 4th, 2008 11:11 am

    hanya ada satu jalan jika kesenian sasak tidak punah, ini tergantung dari pemimpin yang duduk di eksekutif dan legislatif memiliki satu komitmen utk mau peduli akan budayanya sendiri dan memberi peluang dan penghargaan yang tinggi kepada mereka yang memperjuangkan kesenian asli orang sasak.

  3. Nila on July 6th, 2008 8:33 am

    wahh…menyedihkan sekali,,,!!!

    kalo sampai kesenian tradisi lombok sampai hilang…!!!!
    Hikz..hikz..

    jangan sampai nantinya anak cu2 kita tidak mengenal budaya nenek moyangnya sendiri,

    saat ini memang yang lebih banyak dipikirkan adalah masalah perekonomian,
    masalah perut…

    tapi kebudayaan juga harusnya perlu diperhitungkan,
    karena budaya adalah salah satu potensi daerah,
    yang juga bisa meningkatkan PAD,
    karena saat ini pariwisata dan budaya lombok sedang dilirik oleh banyak orang,,,
    jadi mari kita bangun gumi sasak…!!!

    Saya sebagai putra daerah mengharapkan pemerintah bisa bangkit untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal,,,!!!

    (^0^)V

Leave a Reply