Menjelang Harga BBM Naik, Masyarakat Kian Panik, Pengecer pun ‘’Bermain’’

May 23, 2008 · Filed Under Energi 
Mataram (Suara NTB) Rencana pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM), kian membuat masyarakat panik. Antrean panjang kendaraan di setiap SPBU di wilayah Kota Mataram dan sekitarnya sejak beberapa hari terakhir terus terjadi. Pun antrean jeriken pengecer tak kalah panjangnya. Kini pembatasan pembelian dengan jeriken pun dibatasi. Bisakah menjadi solusi?

Antrean panjang kendaraan diseluruh SPBU di Kota Mataram dan sekitarnya, Kamis (22/5) kemarin terjadi mulai pagi hari. Bahkan antrean kendaraan di SPBU Karang Jangkong terlihat panjang, kendati pasokan BBM dari Depo Pertamina Ampenan belum datang.

‘’Saya datang subuh. Dari pada masuk antrean di belakang, lebih baik datang lebih cepat,’’ ujar Mahyudin seorang PNS di Kota Mataram. Laki-laki ini terpaksa bolos apel di kantornya, karena memburu BBM yang belakangan ini terasa sulit diperoleh secara wajar. ‘’BBM nya ada, tapi kita harus antre dan kalau lagi apes, pada antrean paling belakang stok habis,’’ katanya.

Mahyudin mengakui bahwa kendati stok BBM di SPBU habis, di ecerenan sangat banyak. ‘’Yang jadi persoalan, harganya sudah Rp 6000 bahkan ada yang menjual Rp 7000 per botol. Mahal dan takarannya tak sampai seliter,’’ katanya. Jika saja harganya normal Rp 5000 per botol, Mahyudin, akan memilih membeli di pengecer. ‘’Dari pada saya harus bolos hanya karena membeli bensin,’’ cetusnya.

Hal lain yang membuat Mahyudin heran, banyaknya premium yang dijual pengecer sementara stok di SPBU kosong. Seharusnya, jika memang stok terbatas, di SPBU habis di pengecer pasti juga terbatas. ‘’Tapi ini sebaliknya,’’ katanya dengan nada heran.

Mencermati adanya indikasi limitnya stok di SPBU karena ulah pengecer, Hiswana Migas pun bersikap. Sektretaris Hiswana Migas NTB, H. Nurdin Ending, menegaskan pihaknya bersama SPBU dan pihak Polda NTB, sepakat membatasi pembelian BBM jenis premium dengan jeriken.

‘’Kita sepakat dengan Polda NTB bahwa pembelian dengan jeriken di batasi maksimal Rp 50 ribu, itupun harus membawa surat rekomendasi dari desa, atau camat yang menjelaskan minyak digunakan untuk apa. Tanpa itu, SPBU tidak akan layani,’’ tegas Nurdin, di ruang kerjanya usai rapat koordinasi dengan SPBU se-Lombok, Kamis 22/5) kemarin.

Langkah tersebut diambil oleh Hiswana Migas, pengusaha SPBU maupun Polda karena melihat gejolak panic buying di kalangan masyarakat. Dalam hal ini, spekulasi pembelian premium dalam jumlah besar menggunakan jeriken kerap tak terbendung. Akibatnya premium di tingkat SPBU cepat habis. Padahal kuota premium yang dijatahkan per harinya merupakan rata-rata kebutuhan normal.

Sikap tegas Hiswana Migas memang telah ditindaklanjuti SPBU mulai Kamis kemarin. Pembatasan pembelian dengan jeriken dibatasi hanya 10 liter dan itu pun harus dilengkapi surat rekomendasi. Namun, langkah pembatasan itu tampaknya sia-sia. Karena, para pengecer pun ‘’bermain’’ dengan menampung premium yang dibeli.

Seperti pemandangan di dekat SPBU Karang Jangkong, kemarin. Sejumlah pengecer antre dengan jeriken dan setiap premium yang berhasil diperoleh kemudian disimpan di jeriken yang lebih besar. Selanjutnya, dengan rekomendasi yang dibawanya, mereka kembali masuk antrean. ‘’Sama saja bohong pembatasan dengan jeriken, jika mereka seperti itu,’’ gerutu seorang ibu yang sedang antre.

Harga Sembako Melonjak

Sementara itu, menjelang kenaikan harga BBM, lonjakan harga sembako seolah tak terbendung. Sampai hari kemarin, perubahan harga beberapa komoditi tercatat mencapai 30 persen.

Pantauan Suara NTB, Kamis (22/5) kemarin, harga rata-rata sembilan bahan pokok (sembako) yang dikonsumsi masyarakat kembali merangkak. Kenaikan harga paling signifikan terjadi pada komoditi sayur-sayuran. Tomat, cabai merah, bawang daun, kentang dan bawang mebukukan peningkatan harga. ‘’Sekarang jadi mahal lagi pak, rata-rata harga beli meningkat,’’ aku Ali Basyri, pedagang pasar Kebonh Roek, Kamis (22/5) kemarin.

Kenaikan harga seperti tomat yang biasa dibeli seharga Rp 2.500 per kg meningkat menjadi Rp 4.000 per kg. Modal pembelian cabai merah dari menjadi Rp 20.000. Harga beli bawang merah meningkat menjadi Rp 15 ribu per kg, bawang putih dari harga biasa dijual 1.500 per seperempat kg kini di jual Rp 3.000 per kg.

Menurut pengakuan Ali, kenaikan harg a terjadi akibat minimnya suplai lokal. Sehingga para pedagang dipaksa untuk membeli komoditi yang didatangkan dari luar daerah, seperti dari Jawa dan Bali. Yang mengalami penurunan, kata Ali hanya terjadi pada komoditi cabai kecil.

Ali tidak menampik isu kenaikan BBM menjadi pemicu dalam kenaikan harga. Setidaknya kebanyakan pada pedagang lebih banyak menahan barang dagangannya sementara menunggu momen naiknya BBM. Dengan cara ini, memungkinkan bagi pedagang untuk memperoleh keuntungan dua kali lipat.

Niah juga mengaku lonjakan harga sembako sudah terasa sejak gembar-gembor naiknya BBM. Dari komoditi dagangannya, beras, minyak goreng curah dan krupuk termasuk yang mengalami perubahan harga. Beras kelas medium, naik menjadi Rp 4.500 per kg dari harga sebelumnya Rp 4.300. Kerupuk dan minyak goreng naik sebesar Rp 500 per kg, sedangkan gula pasir lokal relatif stagnan pada harga Rp 6.200 per kg atau 167.500 per 50 kg. Niah belum bisa memprediksi kenaikan harga di pascakenakian BBM, namun demikian ia pesimis kerana situasi pasar akan lebih berat.

Menurut pedagang gula dan tepung di lokasi pasar yang sama, kenaikan harga ini sudah sangat memberatkan masyarakat. Betapa tidak, belum lagi harga sembako menjadi stabil, kini sudah didera dengan kenaikan harga BBM. Otomatis kenaikan ini akan memicu kenaikan komoditi pasar. (joe/rak/smd)

Comments

Leave a Reply