Kekeringan Mengancam, Benarkan Belum Mempengaruhi Produktivitas Pertanian NTB?

June 12, 2008 · Filed Under Pertanian 
Mataram (SUARA NTB) Ancaman kekeringan yang mengancam petani diyakini Kepala Dinas Pertanian NTB Dr. Mashur, MS., belum memiliki dampak signifikan. Hal ini dilihat berdasarkan Angka Ramalan (Aram) II pada tahun 2008 ini justru menunjukkan angka fantastis. Di mana produktivitas beras termasuk beberapa jenis palawija surplus. Benarkah?
————————————————————————————-

BEBERAPA wilayah di NTB, seperti Lombok Tengah (Loteng), memasuki musim kemarau ini, ribuan hektar lahan pertanian terancam mengalami kekeringan. Hal yang sama juga terjadi di sebagian besar wilayah timur Kabupaten Sumbawa. Lahan yang mengalami kekeringan tak hanya lahan persawahan, tetapi juga areal yang ditanami palawija.

Menanggapi fenomena tersebut, Mashur menampiknya. Justru menurutnya, untuk produksi padi pada Aram II dengan waktu panen April-September mendatang, produksi padi diperkirakan akan mencapai 1.723.911 ton Gabah Kering Giling (GKG). Angka ini lebih besar dibandingkan dengan tahun 2007 lalu yang mencapai 1.526.347 ton GKG.

‘’Dari angka tersebut kita mengalami surplus hingga 11,3 persen, melebihi target nasional 5 persen,’’ sebutnya. Dari target daerah pun menurutnya, melebihi sasaran. Padahal seebnarnya tahun 2008 ini yang ditargetkan 1.694.985 ton GKG meningkat menjadi 1.178.274 ton GKG.

Selain peningkatan produksi dikatakan Mashur, luas lahan panen juga mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu. Yakni pada tahun 2007 luas panen sekitar 331.916 hektar are (ha) meningkat menjadi 353.364 ha. Begitu pula dengan produktivitas tiap hektarnya, sebelumnya 46 kwintal perhektarnya menjadi 49 kwintal perhektar.

Dengan demikian, menurut Mashur adanya kekeringan hingga sekarang belum memiliki pengaruh terhadap produktivitas hasil pertanian. Selain padi, Jagung dan kedelai pun mengalami produksi yang tidak mengecewakan. Produksi jagung pada tahun 2007 menunjukkan angka 120.000 ton saja mengalami peningkatan 240.000 ton pada tahun 2008 ini. ‘’Dengan demikian jagung kita mengalami peningkatan produksi hingga 16,9 persen,’’ sebutnya.

Menurut Kadis Pertanian ini, terjadinya kegagalan panen hanya di daerah tadah hujan saja. Dikatakannya, Dinas pertanian sebelumnya telah memberi imbauan untuk tidak melakukan penanaman padi di daerah tadah hujan.

Mashur mengaku sangat menyayangkan sikap petani yang cenderung berspekulasi dalam menanam padi. Kurang memperhatikan pola tanam, dinilai Mashur menjadi penyebab utama terjadinya gagal panen. Namun disadari Mashur, semuanya memang disebabkan karena kurangnya pasokan air.

‘’Para petani sudah kita ingatkan jangan paksakan dirilah dalam menanam padi, sekarang musim kemarau (MK) I. Meskipun masih ada hujan namun tidak cukup untuk mengairi padi,’’ tegasnya. Kecuali, di daerah-daerah dengan irigasi normal. ‘’Bagi yang irigasinya normal pun tidak kalah penting harus pula memperhatikan pola tanam,’’ katanya mengingatkan.

Mashur menambahkan, selain persoalan terbatasnya pasokan air, sebenarnya yang perlu diwaspadai adalah serangan hama. Pasalnya dewasa ini menurut Mashur hama yang cenderung menyerang adalah pengerek batang dan tumro (hama yang menyerang ke daerah endemis akibat kecenderungan menanam padi secara terus menerus).

Seperti terjadinya produktivitas palawija, tidak terlepas pula dari kurang ditaatinya pola tanam oleh para petani. Melanggar pola tanam dikatakan Mashur akan berakibat pula pada munculnya serangan hama yang mengganas. Karenanya mentaati pola tanam merupakan solusi tepat meminimalisir serangan hama tersebut. ‘’Tidak heran kalau palawijapun menurun produksinya. Penyebabnya karena tidak ditaati pola tanam,’’ cetusnya.

Mashur mengakui terjadinya ancaman kekeringan ini berpengaruh terhadap kesejahteraan petani. Hanya saja menurutnya, tidak begitu memiliki dampak yang signifikan. Begitupun terhadap meningkatnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM), dirasa Mashur tidak memiliki dampak yang sangat mencekik petani. ‘’Meskipun BBM naik namun pupuk kan tetap harganya tidak berubah. Jadi kalau dilihat dari segi produksi petani itu sendiri tidak memiliki pengaruh begitu besar. Kecuali kalau pupuk naik, saya yakin akan sangat mencekik petani,’’ katanya.

Ia menambahkan pada musim sekarang, tanaman yang cocok ditaman harus disesuaikan betul dengan kondisi air dan pola tanam. Dijelaskannya, untuk daerah yang memiliki irigasi normal bisa menanam padi-padi-palawija. Untuk daerah irigasi terbatas (tadah hujan) bisa menanam padi-palawija-palawija. Ada juga yang padi-palawija dan brow (tidak ada tanaman).

‘’Kalau yang tidak kering sama sekali, silahkan menanam padi semua namun harus melakukan pergiliran varietas guna memotong siklus hama. Misalnya, musim tanam sekarang menaman Padi Ciherang musim berikutnya ganti dengan Cigelis atau diganti dengan palawija,’’ sarannya seraya mengatakan kalau itu ditaati diyakini bisa memutus siklus hama.

Ditanya tentang daerah-daerah yang langganan mengalami kekeringan disebutkan Mashur biasanya terjadi di daerah bagian selatan. Baik Lombok maupun Sumbawa. Daerah-daerah tersebut memang sering mengalami kekeringan tiap tahunnya.

Hal ini dibenarkan peneliti lahan kering Fakultas Pertanian Universitas Mataram (Unram) Dr. Ir. Suwardji, MApp.Sc. yang ditemui secara terpisah Selasa kemarin. Diterangkannya daerah-daerah yang cenderung mengalami kekeringan adalah daerah wilayah selatan Katulistiwa, termasuk NTB.

Mengatasi masalah tersebut, disarankan Suwardji, pemerintah yakni Dinas Pertanian dan Dinas Pekerjaan Umum harus bersinergi membuat bagaimana menciptakan wilayah yang cocok untuk dijadikan sawah dan mana yang tidak.

‘’Masalah utama pertanian itu kan tergantung pada persediaan airnya dan pemerintah harus segera melakukan mitigasi terhadap hal ini,’’ ungkap Suwardji. Disebutkan, pada 10 tahun yang lalu beberapa sungai yang menjadi andalan irigasi seperti di Lombok Tengah (Loteng) mencapai 19 m3 sekarang mengalami penurunan hingga tersisa sekitar 9-10 m3 saja.

Berdasarkan pendataannya, Suwardji menambahkan luas lahan kering di NTB sekitar 1,8 juta ha,. 749 ribu mengandalkan tadah hujan. Ribuan lahan yang mengadalkan tandah hujan itu imbuh Suwardji kalau menanam padi akan sangat berisiko. Memanfaatkan air seefisien mungkin harus dilakukan dan pemerintah harus terus memberikan pencerahan akan hal ini. (rus)

Comments

Leave a Reply