Gubernur Termuda di Indonesia
KH. M. ZAINUL Majdi, MA atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang dilahirkan di Pancor, 31 Mei 1972 dari rahim Ummi Hj. Rauhun Zainuddin Abdul Madjid. Ia merupakan cucu ulama besar NTB, Maulana Syekh TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid.
Sebagai cucu pendiri organisasi Nahdlatul Wathan (NW), Bajang tumbuh dewasa dalam suasana pendidikan pesantren yang kaya akan nilai-nilai Islam.
Ketika masih kecil, Bajang rupanya pernah bercita-cita menjadi seorang tentara atau polisi. ‘’Kelihatannya gagah, kalau jadi tentara itu. Apalagi dulu waktu zaman orde baru, tentara itu sangat dihormati,’’ujarnya dalam sebuah wawancara ekslusif dengan Suara NTB, beberapa waktu lalu.
Namun, garis keturunan ulama rupanya lebih mendominasi alur kehidupan Bajang. Karenanya, setelah menempuh pendidikan di Ma’had Darul Qur’an Wal Hadist NW Pancor, Bajang berangkat ke Mesir guna menuntut ilmu di Jurusan Tafsir dan ilmu-ilmu Al Qur’an, Fakultas Usuluddin, Universitas Al Azhar.
Pada tahun 1995, Bajang telah meraih gelar Licenci (Lc) dan lima tahun berikutnya ia sudah memperoleh gelar Master of Art (MA). Tokoh yang menjadi Gubernur termuda se-Indonesia ini kini tengah menempuh program doktoral (S3) di Universitas Al Azhar.
Sebagai keturunan ulama tersohor, Bajang juga menemukan seorang istri yaitu Hj. Robiatul Adawiyah, SE yang memiliki garis keturunan serupa. Robiatul adalah keturunan KH. Abdullah Syafi’i, seorang ulama besar pendiri As Syafi’iyah.
Pertemuan Bajang dengan Robiatul Adawiyah terjadi sekitar bulan Agustus 1997. Konon, ayah Robiatul Adawiyah, datang ke Lombok karena TGKH. M. Zainudin Abdul Madjid (Tuan Guru Pancor) – kakek Bajang – dianggap sebagai ulama sepuh yang bisa menjadi figur ayah.
Kedatangan keluarga itu ke Lombok rupanya membukakan pintu jodoh bagi Bajang. Tak lama setelah itu, kedua orang tua mereka bertemu. Bajang dan Robiatul Adawiyah pun melangsungkan pernikahan dengan cara yang sangat Islami.
‘’Alhamdulillah ternyata menikah seperti itu sangat berkah,’’ ujarnya menuturkan. Pernikahan Bajang – Robiatul akhirnya diberkahi dengan lahirnya putra mereka Muhammad Rifki Farabi (10) dan tiga puteri kecil, masing-masing Zahwa Nadhira (8), Fatima Azzahra (4) dan Zayda Salima (2).
Sebelum terpilih sebagai Gubernur NTB, sejak 1999 hingga kini Bajang telah aktif berdakwah. Di tahun yang sama ia juga mulai menduduki jabatan Ro’is Am Dewan Tanfidziyah PBNW. Selain itu, ia juga merupakan Ketua YPH. PPD NW Pancor dan anggota DPR RI periode 2004-2009 dari Fraksi PBB.
Sejak kecil, tokoh yang hobi membaca dan menyukai permainan bulu tangkis ini mengaku sangat terkesan akan sikap hidup kakeknya yang mampu memberi teladan bagi jamaahnya. Menurutnya, teladan yang diberikan seorang pemimpin ibarat sebuah matahari yang akan menerangi jalan umatnya.
Tak heran, dalam setiap kampanyenya, Bajang berkali-kali menyampaikan konsep kepemimpinan NTB yang berbasis pada keteladanan. Selain konsep kepemimpinan itu, Bajang juga memiliki rencana untuk mewujudkan konsep pendidikan dan kesehatan gratis bagi masyarakat NTB. (aan)
Comments
Leave a Reply






