Gubernur Harus ‘’Pembayun’’

July 16, 2008 · Filed Under Masyarakat 

Bayan (Suara NTB) TERPILIHNYA Gubernur/Wakil Gubernur NTB yang baru untuk periode 2008-2013 (Tuan Guru Bajang KH.M.Zainul Majdi, MA-Ir.H.Badrul Munir, MM) yang ditetapkan KPUD NTB Senin (14/7) lalu, nantinya harus bias menjadi pembayun. Hal itu disampaikan salah seorang tokoh Adat Sasak, Ame Syar’i Bayan.

Sosok budayawan yang dikenal dengan sebutan ulama alias usia lanjut masih aktif ini mememaparkan makna pembayun. Menurutnya, pembayun artinya seorang pemimpin yang baik. Ketika ingin menjadi orang (pemban) terdepan (ayun) maka dia barus mau (kayun) berbuat baik (ayu). Artinya pemimpin disarankan menjauhkan tindakan-tindakan jahat. Menjadi koruptor seperti yang kerap melekat pada tubuh oknum pemimpin.

‘’Pemimpin itu harus selalu berbuat baik, terbuka, terpercaya,’’ cetusnya. Ditambahkan Ame Syar’i Bayan, seorang pemimpin juga harus selalu memperhatikan adat. Di mana dalam tubuh adat terpampang juga makna agama.

Ame Syar’i kemudian mengurai asal kata adat yang artinya aturan. Di mana adat berasal dari kata syahadat, syah berarti ulah dan adat itu sendiri berarti aturan. Ditambah dengan krame yang berasal dari kata karomah berarti mulia. Sehingga kalau diartikan seluruhnya adat krame berarti aturan yang mulia yang harus dipegang teguh setiap pemimpin.

Ditambahkan Ame Syar’i yang terpenting diperhatikan pula wirama (tutur kata yang bagus), wirasa (penghayatan sikap yang baik) dan wiraga (pebuatan atau bahasa tubuh yang santun).

Tidak kalah penting diingatkan Ame Syar’i bahwa seorang pemimpin jangan melupakan adat istiadat tersebut. Jangan berhenti belajar sejarah, karena sejarah merupakan kunci untuk mengetahui adat itu sendiri. (rus)

Comments

Leave a Reply