Suku Sasak di KALTIM
—————————
TIDAK kurang dari 300 KK warga asal Pulau Lombok hidup di beberapa desa transmigrasi Samarinda, Kaltim. Sedikitnya 100 KK diantaranya menetap di Desa Bantuas, Kecamatan Palaran. Sedangkan sisanya 200 KK menetap di Desa Teluk Dalam Kecamatan Tenggarong Seberang. Lebih dari 20 tahun mereka sudah menjalani hidup di daerah yang terkenal kaya dengan hasil alamnya itu. Namun tidak semua warga di sana dapat hidup tenang seperti apa yang diharapkan. Di Desa Bantuas misalnya, lebih dari 100 KK warga asal Pulau Lombok yang tinggal di daerah transmigrasi tersebut nampaknya mulai kelelahan menjalani hidup. Pasalnya, daerah itu terisolir dan topografinya berupa bebatuan. Mereka yang usianya sudah lebih setengah abad mengaku sudah tak mampu lagi bertahan hidup di lokasi tersebut. Mereka sudah tidak kuat lagi bekerja, bila tidak bekerja mereka tak dapat lagi menafkahi keluarganya.
Ketika berangkat meninggalkan Lombok, mereka dijanjikan lahan garapan pertanian seluas 1 hektar dan lahan tempat tinggal seluas 1 hektar oleh pemerintah. Namun sesampai di sana bukannya mereka bertani. Mereka malah menjalani hidup dengan berburu dan sebagiannya menjadi kuli bangunan.
Upa Suparia (51), salah seorang Lombok yang juga Ketua RT 10 di Lingkungan Bantuas kepada Suara NTB menceritakan sejak tahun 1990 ia sudah menghuni desa yang akses jalannya masih sulit dijangkau oleh kendaraan umum. Namun, meski akses jalan masih rusak, tampaknya tak menjadi masalah bagi warga Bantuas mengingat pemerintah setempat memberikan kemudahan mereka untuk mengkredit motor tanpa uang muka. Sehingga jalan raya yang penuh bebatuan itu masih dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan bermotor.
‘’Sebanyak 100 KK asal Lombok yang tinggal di Desa Bantuas yang jumlah jiwanya tidak kurang dari 250 ini, sudah memiliki motor pribadi. Tiap KK sudah memiliki lebih dari satu kendaraan bermotor,’’ ujar Upa Suparia, kelahiran Praya, Lombok Tengah, didampingi warga lainnya Dzairun (40), saat ditemui di kediamannya di Desa Bantuas Kecamatan Palaran, Samarinda.
Namun, yang menjadi kesulitan mereka yang tinggal di lokasi itu, yakni tidak memiliki tanah sebagai lahan pertanian. Masalahnya, tanah yang diterima oleh mereka dari pemerintah tidak dapat digarap sebagai tempat untuk bercocok tanam. Karena tanah yang mereka miliki penuh dengan bebatuan dan tidak dapat ditumbuhi padi dan palawija.
Akibatnya, sekitar 75 persen masyarakat di lokasi tersebut beralih profesi sebagai kuli bangunan dan berburu hewan. Upa Suparia, yang memiliki dua orang anak ini, di tempat tersebut mengaku bekerja sebagai pencari kayu gaharu dan berburu sebagai mata pencarian untuk menafkahi keluarganya. ‘’Hasil berburu bisa mendapat keuntungan Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu,’’sebutnya.
Diakuinya, sebenarnya ia tidak dapat bertahan hidup dengan penghasilan yang dia peroleh tiap harinya. Sudah lama sebenarnya ia ingin kembali ke daearah kelahirannya. Namun, yang membuat ia bertahan tinggal di situ karena istrinya sudah menjadi PNS di
sebuah SD di desa tersebut.
Sementara Zairun yang sehari-harinya menjadi kuli banguan mengaku masih tegar menjalani hidupnya di lokasi tersebut. Ia pun hidup dalam keadaan pas-pasan. Dengan pengasilan Rp 40 ribu hingga Pp100 ribu perhari ia mengaku sudah dapat menutupi dapur keluarganya. Perlu diketahui bahwa bapak dua orang anak ini turut ambil bagian sebagai tenaga kuli yang membangun Stadion Utama Palaran, Samarinda yang digunakan untuk PON XVI.
Comments
Leave a Reply






