Saat ini proyek Kamus Bahasa Sasak yang diluncurkan sejak awal tahun 2008 ini, telah (baru) berhasil mengumpulkan sekitar 1200 kosakata dalam bahasa sasak. Jumlah tersebut diyakini sangat jauh dari jumlah kekayaan kosakata yang dimiliki bahasa sasak, sebagai bahasa yang dipertuturkan dalam kehidupan sehari-hari bangsa sasak.

screenshot Kamus Base Sasak
screenshot Kamus Base Sasak

Selama kurang lebih delapan bulan sejak diluncurkan, pengumpulan kosakata dilakukan melalui mailing list komunitas sasak. Setiap anggota komunitas diminta berpartisipasi dengan mengidentifikasi kosakata, sesuai dengan abjad ataupun topik yang dibahas pada kesempatan tertentu. Pada tiga bulan pertama, dilakukan pengumpulan kosakata dengan cara membahas kosakata berdasarkan abjad tertentu, dari A hingga W (ada yang bisa memberikan contoh kosakata sasak dengan abjad X,Y,Z?). Pada bulan-bulan berikutnya pengumpulan kosakata dilakukan dengan membahas topik/tema tertentu (misal: anatomi, buah-buahan, pertanian, dsb). Cara ketiga yang tidak kalah penting dan efektifnya adalah menggali kosakata dari artikel-artikel dan karya sastra berbahasa sasak yang ditulis oleh Mamiq Hazairin R Junep, yang awalnya disampaikan pada mailing list kemudian dipublish pada blog hjunep.sasak.org.

Ada hal-hal menarik yang terungkap selama periode tersebut. Pertama mengenai perbedaan bahasa antara lombok barat, tengah, timur dan utara. Pada awalnya sebagian besar anggota komunitas meyakini bahwa perbedaan tersebut ada dalam skala yang cukup besar sehingga berpotensi menjadi hambatan yang signifikan dalam pengumpulan kosakata. Bahkan sempat menimbulkan wacana agar dilakukan kategorisasi kosakata menurut daerah. Ternyata seiring pengumpulan kosakata, anggota komunitas yang berasal dari berbagai latar belakang daerah mulai menemukan bahwa perbedaan yang ada tidaklah sebesar yang diyakini. Sebagian besar kosakata ternyata dapat dimengerti oleh seluruh anggota komunitas.

Kedua, ternyata usaha mengumpulkan kosakata bahasa sasak dapat menjadi sangat menyenangkan. Seringkali kosakata yang sudah lama tidakĀ  pernah kita dengar lagi, muncul ke permukaan, kemudian menjadi awal diskusi atau obrolan yang menarik. Sebut saja kata “mosot” (id:selibat, tidak menikah hingga tua). Kata yang dilontarkan kembali oleh Miq Junep ini, sempat membuat kehebohan dalam mailing list. Begitu juga dengan kata “jembut” (id: gampang merajuk/marah) yang ternyata tidak diketahui oleh semua anggota, atau kata “manoang” (id: membawa bekal makanan untuk mereka yang bekerja di sawah) yang terasa sangat nostalgic bagi mereka yang masa kecilnya sering ke sawah. Efek samping yang positif ini, adalah berkah yang menyenangkan bagi setiap anggota komunitas.

Kembali kepada persoalan yang sempat disinggung di awal artikel. Kami, para volunteer KBS, merasa bahwa apa yang telah dikumpulkan sangatlah jauh dari kekayaan yang dimiliki bangsa sasak dalam bentuk Base Sasak. Oleh karena itu adalah ide yang menarik bila kemudian para pengunjung situs ini, juga ikut berpartisipasi dalam usaha pengumpulan kosakata. Selain akan menambah bala bantuan dalam pengumpulan kosakata, diharapkan hal-hal menyenangkan yang dinikmati dalam proses ini juga dirasakan oleh pengunjung situs. Bagaimana caranya? Nantikan post berikutnya.