Ketika Mereka Enggan Untuk “Pulang”

NTB Bung, bukan NTT!
April 24, 2009
UAN penuh kecurangan? apa iya?
April 30, 2009

Ketika Mereka Enggan Untuk “Pulang”

Oleh : Nurul Hilmiati

[Sasak.Org] Perjalanan nasib memeprtemukanku kembali dengan sahabat lama yang sudah bertahun-tahun tak kudengar kabarnya. Aku bertemu di negeri orang yang dulu hanya kami baca dari buku sejarah SD, tentu saja amat sangat jauh dari Dasan kami.

Tawa lepasnya saat pertama kali melihatku mengingatkanku masa-masa kami menyusuri pematang sawah ke madrasah dulu, sesekali mencari timun sisa orang panen saat deretan pohon kelapa tak mampu membendung terik matahari. What a good old days…

Tentu saja sangat berbeda dengan tempat makan ini yang membuatku sangat kikuk, bingung melihat deretan piring, cawan, sidut, cakar yang amat banyak berderet di depanku. Aku langsung gelisah mengingat berapa banyak lembaran rupiah yang ada di dompetku. Namun sikap percaya dirinya sedikit menenangkanku.

Alangkah naïf diriku, baru menyadari bahwa sahabatku sekarang telah menjadi seorang petinggi di salah satu raksasa perusahaan telekomunikasi negeri ini. Logo perusahaan yang ia sembunyikan di balik jaketnya dan dari krang kring dering telpon yang tak pernah jauh dari urusan perusahaan menceritakan siapa dia sekarang.

Setelah puas mentertawakan kekonyolan masa-masa dulu, sesuatu tiba-tiba meghentak fikiranku. Ragu aku berkata: “Fulan, ayo pulang ke Dasan kita. Dasan kita membutuhkan orang-orang sepertimu agar bias keluar dari lingkaran setan kemiskinan dan keterbelakangan“. Kutangkap keterkejutan di balik kaca mata minus nya. Sepotong daging seharga anak kambing itu pun urung dia suapkan. Dia menarik nafas dalam, dalam sekali. “ Engkau lupa?” katanya. “Bukankah engkau dulu yang membantuku mengetuk pintu semua datu seperti pengemis agar selembar ijazah dan sepenggal ilmuku bias dimanfaatkan oleh dasan kita. Tapi kau ingat kan apa jawaban mereka?” “Sepin ate” jawab ku pelan.

“Aku tidak ingin seperti teman kita si Lumur yang dokter hewan namun di tugaskan sebagai pembuat KTP di kantor kecamatan oleh Datu Cupak. Aku juga tidak ingin seperti sahabat kita si Aren yang tamatan Master Pertanian salah satu Perguruan Tinggi tertua negeri ini, tapi kahirnya hanya mengurus jam berapa Datu Cupak harus memberi pidato, makan dan rapat di lapangan golf”, dia mencoba memberi alasan.  “Tapi kau tidak harus menjadi jongos para datu itu, kau bisa membuka usaha sendiri, menciptakan banyak lapangan kerja bagi pemuda dasan pengangguran itu”, aku mencoba menawarkan alternative.

Dia menerawang jauh. “Di Dasan itu??? Yang untuk mengurus perizinan saja membutuhkan separoh biaya operasional produksi? Yang para datunya lebih sibuk memikirkan kedudukan daripada nasib kawulanya yang kian terhimpit beban kehidupan? Yang tidak ada jaminan keamanan dan kenyamanan usaha karena masyarakatnya lebih suka berbicara dengan kelewang daripada dengan fikiran? Siapa yang akan mau berusaha di tempat seperti itu? Kalau tidak orang gila, pastilah orang itu sudah sangat gila”. Aku tercekat, tapi juga tak kuasa membantah karena rentetan gambaran suram Dasan kami kontan menari-nari di depan mataku. Persis seperti yang ia katakan. Tapi aku tidak mau menyerah. “Fulan…Kalau engkau memang geram denga para datu itu, baiklah…tapi lihatlah orang-orang kampung di Dasan kita yang kian miskin dan terpinggirkan”, kali ini aku mencoba meraba sisi hatinya. Kali ini dia membeku, tapi kutahu selaksa kisah hidup sedang berkecamuk di benaknya.

“ Dulu….orang-orang kampung itu hanya mencibir ketika Ibu ku bertekad mengirimku sekolah ke sebrang lautan, cibiran mereka semakin lebar saat Ibu ku harus menjual satu-satunya barang berharga peninggalan almarhum Ayahku untuk menyelesaikan tugas akhirku. Dimanakah mereka saat itu??” Suaranya semakin serak: “Anjani…..engkau pasti ingat saat kita mengumpulkan rupiah yang tersisa di kantong untuk membeli sebungkus pecel di kota para Datu bersinggasana. Kita kelaparan disana saat harus memperjuangkan nama sekolah Dasan kita. Berbalut suka cita kita persembahkan lambing jawara itu di dasan, tapi apakah orang dasan perduli kalau kita bertarung dengan perut melilit lapar?”. Kali ini dia meradang. Suaranya semakin serak. “ Dan engkau juga pasti tidak akan melupakan sahabat kita si Cangkir saat bersama menuntut ilmu di sebarng lautan. Anak penjual es itu tertabrak sepeda motor dan ditinggal lari begitu saja. Terseok ku papah ia ke rumah sakit walau setelah itu harus bingung bagaimana cara untuk mengeluarkan si Cangkir dari pintu administrasi. Aku hanya bisa bekelojo momot di bawah pohon belimbing di depan kost mu karena uang di saku bajuku hanya cukup untuk ongkos pulang. Engkau pun akhirnya merelakan jatah makan seminggumu demi mengeluarkan si Cangkir dari rumah sakit”.

“Lalu dimana orang-orang dasan itu saat kita kelaparan??? Dimana para datu itu saat kita terlunta-lunta di negeri orang? Dimana?? “Sekarang haruskah aku kembali ke Dasan demi orang-orang itu??” Aku tercekat, tak kuasa lagi melanjutkan argumenku. Kulihat sahabatku menekuri potongan daging di depannya yang sudah lama dingin. Kabut hangat mulai merayapi mataku. Kilasan-kilasan peritiwa yang ia hamburkan semakin mempertebal kabut itu. Sesaat hanya ada senyap diantara kami. Masing-masing bergelut dengan lembaran-lembaran sejarah hidup yang telah menjadikan kami disini, seperti adanya sekarang. Kesenyapan itu tersentak oleh lengkingan dari handphone super canggihnya. Rupanya anaknya masuk UGD karena dugaan demam berdarah. “Maafkan…aku harus pulang Anjani” katanya gelisah. Tergopoh ia menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah kepada pelayan dan kami pun beranjak. Saat berpisah, ia masih sempat berkata: “Tak ada tempat bagiku di Dasan itu, tapi aku akan selalu kembali ke sana setiap malam takbiran”. Aku sudah kehilangan kata-kata. Hanya mampu melambaikan tangan perpisahan. Ia pun lenyap di balik pintu gerobak roda empatnya yang tampak mengkilap di bawah terpaan sinar matahari senja.

Kembali ke kamar pondokan selama seminggu aku disini, fikiranku masih tertuju pada sahabatku si Fulan. Begitu melekatnyakah tempaan keras dan getir Dasan membesarkan kami terpatri di rongga dadanya? Mengapa bukan canda ria saat kami mengambil air wudhu di pancuran belakang santren pinggir sungai itu yang tertanam di sel-sel kelabu otak kanannya? Atau saat berburu “tengkong dan kelempokan” yang kadang dihadiahi kenyamen oleh “ penaek nyiur” yang berbaik hati? Atau saat kami berebut membuat kendole dan tanpa rasa bersalah ikut menghabiskan jatah makan yang harusnya untuk tukang “mataq”?

Dari jendela kamar kulihat kota pelabuhan ini mulai bermandikan cahaya, kerlap-kerlip sangat menawan namun membuat ku silau. Pesona inikah juga yang telah melupakan sahabatku dengan Dasan nya? Disini ia tidak lagi kelaparan, tidak lagi kepanasan dan tidak lagi ketakutan karen tidak ada uang di saku baju.  Seketika aku ingin berteriak: egois!!! Hanya ingin menjadi generasi penikmat. Namun sebuah bisikan lain menyusup fikiranku, dia sudah terlalu sering kelaparan, dia sudah terlalu lama menderita. Dia pantas menikmati segala hasil jerih payahnya selama ini. Bila ia kembali ke dasan, apakah Dasan itu akan mampu membuatnya bahagia? Atau hanya akan mengguratkan kepahitan-kepahitan baru.

Entahlah….aku tak bisa mnjawab semua tanya hari ini. Separuh kepalaku mulai berdenyut, tanda tak mampu lagi menampung dan memproses arus pertnyaan. Kurebahkan punggung di atas kasur yang selalu membuatku “keponjal”, mencoba menikmati kamar di lantai tujuh belas ini. Tapi bayangan orang-orang di Dasan tidak mau pegi dari langit-langit kamar……………………………

Cerita ini semifiktif, hanya untuk berbagi sekelumit kisah anak bangsa sasak yang terserak di seluruh penjuru negeri.

3 Comments

  1. ahsan says:

    PULANG !!!!!!!!!!!!
    Mungkin rasanya sulit bagi kalian
    Untuk pulang sebab
    Kejayaan,Kemakmuran
    Telah kalian raih
    Bukankah setinggi-tingginya burung terbang akan kembali ke sarang
    Kami butuh spenggal cerita mu
    Tidak butuh badan mu
    Biarkan badan mu untuk mereka
    Namun jiwa mu untuk kami
    Biarkan Para Pengango itu sperti itu
    Kami ingin kalaian mengobarkan semangat para pionir massa depan bangsa ini
    Karena kejayaan bangsa ini yang di inginkan

  2. pikong says:

    cerita yang menarik dan sangat diskriptif…saya berpikir akan mmebaca novelnya….heee….sippp

  3. Hadinata says:

    cerita yg menarik, refleksi dari segelintir kisah orng2 yg terpinggirkan di kmpung halaman sndiri.
    Love it! 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *