Catatan Perjalanan : Cengkareng – BIL, BIL-Cengkareng

Sejarah Desa Lenek, Lombok Timur
October 4, 2011
KS Bangun Desa : Tahap I Telah Selesai
October 10, 2011

Catatan Perjalanan : Cengkareng – BIL, BIL-Cengkareng

CENGKARENG-BIL

[Sasak.Org] Karena ada suatu urusan pada hari kamis tanggal 29 September 2011 saya berangkat ke jakarta melalui bandar udara Selaparang, tanggal 30 sebenarnya segala urusan di jakarta telah selesai, akan tetapi karena tanggal 1 Oktober 2011 Bandara Internasional Lombok mulai melakukan operasi perdana maka saya putuskan untuk mengundurkan sehari perjalan pulang ke lombok.

Pada hari sabtu tanggal 1 Oktober saya tidak mempunyai agenda apa-apa di jakarta, pada hari itu saya tidur seharian, sampai-sampai saya kelewatan jatah sarapan di hotel, restoran hotel tempat saya menginap hanya menjatahkan sarapan sampai pukul 10 pagi. Saya terbangun sekitar jam sebelas siang dan waktu chekout sebentar lagi, akhirnya saya mulai berkemas-kemas mandi dan lain-lain, sekitar jam 12 lebih-lebih sedikit saya chekout dari hotel.

Tiket pulang saya jam 19.50 malam, karena masih terlalu pagi untuk kebandara maka saya putuskan utuk jalan-jalan ke mall di dekat hotel. Karena terlalu lama jalan-jalannya kaki saya sampe pegal-pegal, sementara barang ngak ada yang dibeli karena dompet tipis. Akhirnya sekitar jam 15.00 saya masuk ke salah satu francaise kopi yang cukup ternama untuk istirahat dan ngopi.

Pukul 5 sore akhirnya saya putuskan untuk berangkat kebandara dan perjalan kurang lebih satu jam sampailah saya di bandara cengkareng pada pukul 6 sore. Setelah mencetak tiket dan sebagainya saya pun chekin, tidak terlalu rame suasana chekin sore itu. Setelah chekin saya pun mencari restoran untuk makan siang+malam, karena tadi pagi sarapannya jam 12 lebih.  Direstoran saya duduk makan ngerokok sekitar satu jam, sampai sekitar jam 7. dalam tiket saya tertera boarding time 19.20, jam 7 saya masuk keruang tunggu berangkatan.

Sekitar pukul 19.30, “Mohon maaf para penumpang LION AIR JT 0650 jurusan mataram, atas informasi yang akan kami sampaikan, karena alasan operasional bla-bla…. pesawat jurusan mataram di tunda sekitar 30 sampai dengan 45 menit.” Kata seorang petugas. Dan akhirnya sekitar pukul 20.20 kami dipanggil untuk naik ke pesawat, dalam perjalan ini sungguh ada suasana yang berbeda, semua penumpang membicarakan BIL, seakan-akan  hari itulah hari pertama kami merasakan sensasi yang berbeda menggunakan transportasi udara.

Setelah pesawat take off semua terasa sama seperti biasa, tak lama setelah itu saya tertidur pulas mungkin akibat kecapean karena seharian jalan-jalan di mall. Saya terbangun karena suara pengumuman dari pilot yang yang mengatakan sekitar jam 23.35 waktu setempat pesawat akan mendarat dibandar udara Lombok Internasional Airport, waktu itu sekitar pukul 23.05, sejak itu saya terbangun dan bersiap-siap landing. Sekitar 30 menit saya membanyangkan bagaimana rasanya mendarat di BIL, sambil mengobrol dengan seorang teman tentang BIL.

Akhirnya tepat seperti apa yang diumumkan oleh pilot kami mendarat di BIL; rasanya sungguh berbeda, pendaratan serasa begitu mulusnya, tanpa pengereman yang berlebih sehingga badan kita tak terdorong kedepan seperti di bandara selaparang, benar-benar seara turun di Cengkareng, KLIA atau dibandara Changi. Alhamdulillah semua penumpang tersenyum, seorang wartawan senior didepan saya mengatakan “benar-benar seperti turun di sokarno-hatta, mas..”

Tak lama setelah itu kami turun dari pesawat, banyak diantara kami menyempatkan diri untuk foto-foto sebelum memasuki main building. ada 3 pesawat yang terparkir sebelumnya; Transnusa, Batavia dan Wing Air. Jadi tidak benar romour yang mengatakan bahwa maskapai penerbangan takut menginapkan pesawatnya di BIL.

Di areal parkir pesawat memang terasa beda sekali rasanya dengan selaparang, perasaan saya rasanya seperti turun di bandar udara Makkasar atau di Juanda Surabaya. Setelah memasuki main building tampak ruang bagasi yang lumayan besar, tapi tidak serbesar bayangan pertama saya kayaknya masih lebih besar Juanda Surabaya atau Makkasar.

Setelah itu saya masuk ke toilet, walaupun saya tidak terlalu kepingin sebenarnya, tapi saya ingin melihat-lihat bagaimana keadaannya. Toiletnya bagus, tapi sayang belum ada cleaning service sehingga toiletnya becek dan kotor sekali, banyak teman-teman yang menggerutu “kok kotor ya, dihari pertama” saya tersenyum saya mendengar keluhan dari teman saya yang kebetulan ketemu di toilet.

Karena tidak ada bagasi sayapun langsung keluar, tapi sebelum pintu keluar saya bertemu teman saya sesama alumni teknik sipil yang sedang mengejar target menyelesaikan pekerjaannya di BIL, sayapun ngobrol sebentar bertanya-tanya mengenai pekerjaannya di BIL. Katanya dia mengejar target sampai tanggal 15 oktober, SBY mau datang ke BIL katanya. “Semua pekerjaan di main building harus selsai mas, sebelum tanggal 15, saya siang malam ada disini..” katanya. Setelah ngobrol beberapa saat sayapun pamit, karena adik saya yang menjemput menelpon.

Pintu keluar main building penuh sesak walaupun itu sudah pukul 12 malam, dalam hati saya ini mungkin penjemput TKI, karena saya melihat di pesawat banyak TKI Saudi dan Malaysia di dalam pesawat, malah salah satunya duduk persis di sebelah saya, seorang perempuan yang baru pulang dari Saudi Arabia. Saking ramainya di pintu keluar, sampai-sampai seorang petugas keamanan yang menyiak para penjemput agar kami bisa keluar, sungguh pemandangan yang sama seperti di selaparang.

Mobil jemputan sudah berjajar di pintu keluar, suasana sungguh ramai, banyak saya lihat orang orang yang kebingungan untuk mencari jemputan atau mungkin mencari angkutan yang tersedia di BIL. Saya melihat DAMRI belom beroprasi malam itu seperti yang dijanjikan pemerintah,  malam itu saya melihat beberapa orang Anggota DPRD dari pulau sumbawa yang kebingungan.

Yang paling menyedihkan adalah pada saat saya keluar dari main building, ada beberapa pemuda yang menawarkan angkutan (sepertinya orang lokal sekitar bandara) dengan cara yang kurang simpatik, rasanya sepert di terminal Mandalike Bertais atau mungkin Terminal Bungurasih di era tahun 1990. Mereka berteriak mengejar para penumpang (mungkin mereka tau itu adalah seorang TKI), sungguh pemandangan yang sangat memperihatinkan.

Adik saya parkir di parkiran mobil persis di depan pintu keluar main building, sayapun berjalan keparkiran. Didepan main building saya sempat berdiri sejenak melihat tinggah polah para calo yang yang menawarkan mobil angkutannya, malah salah seorang diantaranya menghampiri saya, dengan bau tuak yang menyembur dari mulutnya. Saya hanya tersenyum, dan membalas tawarannya dengan bahasa sasak, dan diapun berlalu.

Akhirnya sayapun beranjak kemobil jemputan, dengan menghela napas panjang, sungguh diluar apa yang saya harapkan, senang bercampur sedih jadi satu; satu sisi saya senang kita telah memiliki  BIL tapi disisi lain saya melihat masyakat kita belum siap dengan keberadaan BIL. Mobil jemputanpun melaju melewati jalan tanak awu, batujai dan terus  menuju ke gerung dan akhirnya sampailah saya di mataram.

Membangun fisik bandara dengan segala infrastruktur pendukungnya adalah pekerjaan mudah, hanya membutuhkan uang maka semua akan tuntas. Tapi bagaimana membangun kultur masyarakat, membangun kesiapan masyarakat di sekitar bandara..???

BIL – CENGKARENG

Alhamdulillah hari ini (senin, 3 oktober) saya berkesempatan lagi untuk menggunakan Bandara Internasional Lombok, sambil menunggu boarding saya sempatkan sejenak menulis catatan ini..

Sekitar pukul 16.00 saya berangkat dari rumah saya di daerah lingkar selatan kota mataram, melalui jalan lingkar saya langsung belok kiri di perempatan dasan tereng untuk menuju jalan by pass bandara yang di mulai dari gerung. Jalan dua arah yang direncanakan alhamdulillah satu arahnya sudah bisa kita lalui, tinggal satu arahnya lagi yang sedang dikerjakan, tercatat dalam pandangan sekilas saya asa dua jempat yang cukup besar yang sedang dikerjakan. Insyallah kalo melihat progresssnya saat ini, akhir tahun ini jalan tersebut akan rampung dikerjakan.

Memasuki daerah batujai terlihat jelas kepadatan kendaraan yang akan menuju BIL, banyak terlihat mobil bak terbuka sejenis L300 atau suzuki carry mengangkut penumpang yang akan berekreasi ke BIL. Sampai di depan pintu masuk bandara berjajar cidomo-cidomo yang sedang menunggu penumpangnya, begitu juga dengan ojek yang siap mengantar kemanapun tujuan anda.

Setelah memasuki kawasan bandara, jalan mulai tersendat karena banyaknya kendaraan yang mengantri mengantar penumpangnya (entah itu para pengunjung biasa atau para penumpang pesawat), sayapun terpaksa langsung masuk ke area parkir karena agar bisa cepat menuju terminal bandara dengan berjalan kaki.

Keadaan didepan terminal sungguh riuh-ramai, para pengunjung berbaur dengan para penumpang yang hendak berangkat. Ibu-ibu muda sampai dengan papuk-papuk, anak-anak sampai dengan ninik-ninik ramai di terminal bandara. Bahkan ibu-ibu dengan sarung/kereng dan tedung has lomboknya terlihat mendominasi di sekeliling terminal bandara (mungkin karena tampilan yang khas), anak-anak dan bapak-bapak terlihat riuh-rame di pagar pembatas terminal untuk menyaksikan pesawat yang landing maupun take off.

Keadaan ini menjadi momen yang menarik bagi sebagaian wisatawan asing dan domistik, mereka sibuk menjepret-jepret pemandangan yang mungkin langka bagi mereka. Para pengunjung terlihat senang menyaksikan bagunan yang begitu megah dan besar, bahkan mereka telah siap dengan makanan dan minuman, ada yang makan di parkiran dan ada yang dipelataran terminal, suasana ini mengingatkan saya diwaktu kecil dulu ketika diajak pelisir oleh orang tua.

Pemandangan hari ini agak sedikit berbeda dengan hari kemaren (hari minggu), kebetulan hari minggu saya harus menjemput teman yang datang dari luar daerah. Kalo hari minggu kemaren benar seperti apa yang diberitakan kompas “BIL berubah menjadi pasar kaget”, hari ini pedagang itu sudah tidak ada di pelataran terminal bandara, mungkin pihak angkasa pura telah memindah atau melarang mereka berjualan, pemandangan hari ini agak lebih baik dari pada hari minggu kemaren.

Karena boarding time yang tertera di tiket saya pukul 17.20 maka pukul 17.00 saya memasuki ruang chekin dan langsung keruang tunggu. Seperti catatan saya sebelumnya tentang toilet maka hari ini saya melihat ada sedikit perbaikan, toilet hari ini agak bersih, ada beberapa petugas cleaning service tampak di depan toilet walaupun mereka belum terlihat bekerja maksimal. Ruang tunggu di terminal keberangkatan BIL alhamdulillah sudah mulai terlihat ditata, stand-stand/kedai kopi dan makanan mulai tampak beroperasi.

Terminal keberangkatan dibagi menjadi 2 gate, yaitu domistik dan internasional. ukurannya mungkin kurang lebih seperti ruang tunggu di bandara juanda. Ruangan tampak bersih, kursi ruang tunggu juga tertata rapi. (sayang hanya 2 gate, berarti tidak beda jauh dengan selaparang).

Sekitar puku 17.30 kami dipanggil untuk naik kepesawat, dan sayapun bergegas untuk mengantre naik kepesawat. Ada satu kelebihan bandara BIL, yaitu sudah tersedia Belalai atau GABARATA untuk menaiki pesawat. Akan tetapi karena no kursi saya di atas nomor 20 maka saya putuskan untuk naik melalui tangga belakang, dan saya menuruni tangga disamping gabarata.

Masyallah saya tercengang melihat sekeling pagar pembatas disamping terminal bandara, ternyata disana berjajar rapi anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak yang menyaksikan pesawat yang akan landing maupun take off. Jumlah awal yang saya banyangkan ternyata salah, jumlah pengunjung ternyata luar biasa banyak, seandainya mereka semua berkumpul didalam terminal maka tentu akan memenuhi terminal keberangkatan maupun terminal kedatangan.

Sayapun beranjak menaiki pesawat, tak ada yang bisa saya simpulkan dari keadaan ini, saya hanya bisa berharap semoga keadaan ini akan terus lebih baik. Ditengah pikiran yang menerawang, saya tersenyum karena mengingat masa lalu, mungkin saya akan seperti itu, seperti mereka, karena saya adalah mereka.

Wallahu’alamu Bissawab.

Lalu Kholid Karyadi

4 Comments

  1. Arenk says:

    Saya sebagai orang loteng merasa bangga,bahagia karena berorasinya BIL,ingin rasanya saya segera pulang kampung agar dapat merasakan dan menyaksikan lansung dengan mata kepala sendiri bagaimana rasanya turun lansunng di BIL.tapi dlm diri saya timbul per tanyaan apakah keamamanan di BIL ini menjamin setiap penumpang yang akan landing,karena banyaknya media yang memuat berita tentang BIL yang masih semeraut,penasaran bercamput takut pun timbul di benak saya,tapi mudah2an saja kedepan nya BIL semakin bagus dan aman tentunya,,..

  2. Muhamad Rusdi says:

    Begitulah kami, kawan. Kami selalu “Bengak (Heran)” dengan ssuatu yang baru, yang selama ini belum pernah kami lihat kecuali kalau kami ada kesempatan untuk pergi ke Rembige. Selama ini kami hanya melihat “Kapal Terbang” hanya lewat televisi tetangga, dan kemudian kini ada didekat rumah kami jadi kami pikir tidak salah kalau ingin melihat secara langsung. Kemudian hal ini menjadi sorotan mereka “bahwa sikap keingintahuan kami telah mencoreng nama baik”. Lalu kami harus bagemana, apakah kami harus pura pura “sok cuek” dengan sesuatu yang memang sangat ingin kami ketahui?. Beri kami pelajaran, ajari kami supaya seperti masyarakat mataram, masyarakat Jakarta, Masyarakat Changi, masyarakat KL, atau masyarakat yang sangat sibuk dengan pekerjaanya sehingga tidak ada waktu untuk pergi menonton ‘Kapal Kesur”. …

  3. San sandi says:

    Knapa hrus mrasa rndah dngan gaya masyarakat kt yg bgitu biarlah biarlah biarkan klak gaya ini akan mnjadi satu knangan trindah dlm sanubari kanaq2 lombok krna hari ini mreka sdang mmbina kyakinan bahwa satu hari “aku” akan menerbangkan burung besi itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *