Panoptisme Tubuh Mahasiswa, Media dan Matinya Agent of Change*
October 18, 2011
Inaq Sani dan Impian Naik Pesawat
October 21, 2011

Komoditas Made In Lombok

Hazairin R. Junep

Yogyakarta (www.sasak.org) Saya gembira setiap kali menemukan barang buatan gumi paer disudut sudut kota kecil di negeri asing diantara gemuruh ombak di pantai, dialur sungai, ditepi danau atau dilereng dan puncak gunung. Meski tak sekalipun saya temukan label made in Lombok. Mungkin satu satunya barang kerajinan Lombok yang bersticker khas sampai ke manca negara adalah Le Lade yang saya tempelkan disemua produk seni yang pernah kami export ke Eropa. Tak terbayang di Siberia yang beku ada musium penjual topeng khas Sasak dan juga Kadal atau tokek yang saya temukan didalam pasar kecil dipingir kota. Begitu banyaknya kita membuat barang kerajianan lantas kemana uang yang diperoleh?.

Berdekade orang orang Portugal menjadi babu di negara negara yang kaya sperti Jerman, Perancis, Inggris, dsb. Mereka akhirnya bisa terangkat dan kini meskipun terendah di Eropa mereka hidup layak dan akan membantu kita dalam bidang teknik dan pariwisata. Padahal dari ukuran Portugal hanya negara kecil. Kuncinya ada pada SDM yang sudah sejak abad ke XV menyebar ke penjuru dunia sampai masuk pula ke gumi paer. Mereka naik dan turun, jaya dan runtuh tapi belum pernah surut dari berjuang mencapai kemakmuran. China jauh lebih dahsyat daripada Portugal meskipun pernah diperdaya cukup lama dengan koloni Macaunya. Orang China tak pernah kendur semangatnya dalam bekerja. Dalam keadaan perang atau dama apalagi hanya paceklik mereka tekun dan rajin. Mereka terus belajar dan bekerja tanpa kenal lelah. Mereka disebut naga tidur. Napoleon melihat mereka yang sedang tidur itu sekilas dari kegigihan China perantau, ia berkata bahwa kelak akan terjadi invasi kuning. Sudah berapa dekade orang China menginvasi dunia tanpa gembar gembor perlawanan besar seperti perangnya kita menghadapi invasi barat selama 500 tahun terakhir?.

Dari Protugal kita belajar membuat benteng dan berlayar dilaut lepas. Dari China kita belajar tentang ketenangan dan kedamaian dalam memenangkan sebuah pertempuran tanpa korban. Aix Meneng, Tunjung Tilah, Empax Bau. Motto bangsa Sasak itu diambil dari ajaran timur jauh, ketika papux balox kita beragama Buddha. Jauh sebelum Islam dan penjajah Jawa maupun Bali bangsa Sasak adalah kaum Buddhist. Motto itu berarti Air Tenang, Teratai (Padma) Hening, Ikan Ditangkap. Tujuan akhir ditentukan oleh rencana dan strategi awal dengan menunggu air menjadi tenang dan bening yaitu fikiran dan kondisi kejiwaan dalam keadaan tenang dan bersih. Alampun tak boleh diusik semua dalam keheningan sebagai jiwa yang pasrah. Dan setelah semuanya berjalan semestinya rezekipun mengalir bagaikan lancarnya angin dan air dalam begerak.

Dalam ribuan tahun anak bangsa Sasak hidup dalam kedamaian karena sifatnya yang terbuka dan menerima semua pendatang dari berbagai belahan dunia. Lombok adalah tempat persinggahan semua bangsa oleh sebab itu anak bangsa Sasak adalah manusia multi kultural sejak dahulu. Bahasa Sasak adalah peninggalan dari para pemakai bahasa Sanskrit, China dan Melayu. Kemudan datang bangsa Eropah, Persia dan India Selatan. Percampuran itu membuat bangsa Sasak menjadi manusia berdarah rumit dan salah satu dari bangsa yang berparas cantik. Kemunduran dialami sejak adanya invasi dari Jawa dan Bali dan setelah lepas dari kedua penyerbu itu anak bangsa Sasak seperti ayam kehilangan induk. Kurang percaya diri dan terpuruk dalam berbagai bidang. Kebudayaan tidak jelas yang mana Sasak, yang mana Bali atau Jawa. Akhirnya masingmasing kelompok mengklaim diri sebagai Sasak yang lebih asli daripada yang lain. Itu terjadi setelah runtuhnya Orde Baru. Eforia membaut fanatisme berkemabng berlebihan. Tiap kabupaten seolah menjadi kerajaan sendiri dan membuat sekat dari geopoloitik ke geokultural. Maisng masing merasa tidak mengerti bahasa yang bukan dari paernya.

Di Masyarakat Sasak para Toean Goeroe adalah sekelompok kecil orang dengan pendidikan tinggi berilmu pengetahuan, kaya dan berkuasa. Mereka kecil tapi berhadapan langusng dengan kelompok mayoritas yang bodoh, terbelakang, miskin dan termarjinalkan yaitu rakyat jelata. TG berceramah setiap hari pagi sampai p agi membicarakan apasaja sesukanya tetapi belum ada satupun dari mereka membuat trobosan mengubah kefakir miskinan yang mendera jamaah itu menjadi tinggal landas hatta beberapa meter ke atas bukit. Tidak usahlah terbang jauh jauh, cukup ke atas bukit agar mereka dapat melihat betapa gumi paer itu merona, subur makmur penuh tanah kosong karena lupa ditanami saking asyiknya dengar ceramah. Didalam kedua kelompok itu bercokollah para pemuja adat. Mereka ada di fihak TG untuk mempengaruhi si Jelata dan melompat ke si Jelata untuk melawan TG. Kalau ada acara nyongkolan dan menghambat jalan, melanggar jam shalat dan mengganggu lingkungan dengan kelakuan si pemabuk, tidak seorang TG jua yang datang membantu mengurai kemacetan dan ganguan dari para pemabuk itu. Para pemuja adat bersembunyi agar tidak dimintai tanggung jawab. Rakyat jelata hanya jadi batu pijakan saja. Kelompok TG adalah konglomerat dengan komoditas spiritual yang kadang dimaterialisasikan dalam bentuk buku doa, jimat atau jubah serta air suci. Para pemuja adat adalah saudagar atau makelar untuk barang antik. Mereka menghidupkan yang sudah mati dan mematikan yang sedang hidup. Komoditasnya adalah sandiwara kuno dalam bahasa kuno. keris, pakaian lusuh yang direkonstruksi ulang dan upacara pemujaan syetan dengan dalih tertentu untuk mendapatkan uang. Kedua kelompok itu sibuk membuat LSM dan bisnis dengan menunggangi agama, pendidikan dan budaya. Banjirlah gumi paer dengan ponpes dan sekolahan dari awal sampai akhir. Gegap gempitalah dasan dengan dewan adat dan berbagai macam urusan sampai mengangkat raja bermahkotakan tipu daya hanya untuk sekedar mencari sponsor dan memperkaya diri. Cap stempel dipegang sendiri sendiri, proposal diedarkan kemana saja dan jadilah raja raja kecil baik yang berjubah maupun yang bersarung aneh dengan kombinasi pakiaan mana saja yang tersedia ditempat penyewaan. Tidak perlu sungkan membawa dayang dayang uang hasil proposal banyak, sewa SPG sehari bereslah.

Compang camping kehidupan rakyat jelata tidak luput dari bisnis, sekolah roboh, korban hongerodim alias busung lapar dibiarkan agar dapat dimasukkan proposal. Hutan dihancurkan dan tiap tahun ditanami lalu ada yang memotongnya agar tahun depan diproyekkan lagi. Sampah dibuang sembarangan bahkan BAB yang sejak tahun 1970 sudah dicanangkan MCK tetapi harus dilestarikan nangkring dikali karena itu adalah bagian dari pekerjaan dewan adat bukan lagi wewenang dikes. Kita terus memperotes kebijakan pemerintah tapi kita sendiri tidak mau mengubah perilaku hidup kita. Kalau sedang seminar kita berbusa bicara bahwa kita punya kearifan lokal. Saat ada peninjauan ke tempat kita, tinggal kita pesan kawan kawan sesama LSM bikin proyek desa binaan yang mencerminkan kehidupan ala zaman laeeex. Setelah selesai peninjauan semua barang sewaan dan pinjaman dikembalikan, sementara ada yang berkelahi belum dibayar honornya sebagai hulu balang saat sandiwara berlangsung.

Entah berapa kali kita gegap gempita meributkan seorang TOGA, TOMAS, TODAT dan TOGOG yang mesti, harus dan wajib ditimbang jadi menteri. Kayak mau suruh maju orang yang suka makan ikan teri begitu mudah meyodorkan siapa saja yang penting mewakili daerah. Pertama kita adalah bangsa Pengecut. Jumlah kita banyak tapi beraninya hanya pekok apeno. Kedua kita miskin sehingga tidak diperhitungkan., Ketiga kita guoblok sehingga tidak ada yang mau dengar. Bagaimana orang mau dengar kalau kita saja tidak mau dengar orang?.Orang Papua itu tidak seberapa jumlahnya tetapi diantara mereka yang segelintir itu ada yang betul betul militan dan berani mati demi memperjuangkan hak rakyatnya, mereka sadar akan SDA yang besar tetapi terpuruk. Kita hanya punya segelintir orang yang mementingkan diri sendiri. Dari semua golongan yang berkuasa baik dengan menjual ayat atau adat tidak ada yang berminat mengangkat harkat martabat anak bangsa Sasak. Untuk memuliakan diri, mereka sanggup mengatakan bahwa mereka lahir sebagai ningrat adalah takdir. Cocok sekali dengan pengajian ala indoktrinasi yang mengajarkan bahwa takdirlah yang membuat kita seperti ini, terpuruk dan terbelakang, bukan karena pemalas, momot meco dan ekploitasi TOGA, TOMASD, TODAT dan TOGOG atas rakyat jelata. Jangan sampai rakyat sadar dan jadi rajin bekerja sebab orang yang berkeringat mengucur untuk memperoleh rezeki tidak gampang dikibuli. Jadi mari kita bersama menjaga agar IPM kita jangan sekali kali naik ya. VERDOM!.
Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ihklas
Hazairin R. JUNEP

1 Comment

  1. jun says:

    ihlas atau cuma cari nama dan ketenaran,sy rasa orang ihlas tdk perlu menulis kata ihlas di ahir tulisannya dan orang ihlas tdk memerlukan pengakuan orang lain,,,,,,,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *