Sastra Kanak Sasak : Cinta Lombok – Kualalumpur

Pantai Cemara Nan Cantik
December 27, 2011
Refleksi 1 Tahun: Persembahan KS untuk NTB
December 31, 2011

Sastra Kanak Sasak : Cinta Lombok – Kualalumpur

Assalamualaikum….

Sejak beberapa hari belakangan ini aku melihat rekan kerja dari Nepal bolak-balik memainkan sebuah lagu India di handphone-nya. Meskipun dari Nepal dia mengerti bahasa Hindi dengan baik. Dia juga fasih berbahasa melayu karena sudah belasan tahun bekerja di perusahan jajanan kue milik cina-malaysia. Karena penuh penasaran, aku pun bertanya kepadanya apa gerangan yang senang sekali dia dengar melalui telepon bimbitnya. Telepon bimbit adalah terjemahan bahasa melayu untuk handphone.

“Pak cik Tihar, sibuk sekali mendengar lagu hindi itu. setiap hari diputar terus-menurus tak jemu-jemu”, sapaku. Takde lah, lagu biase saje, jawabnya singkat. “Saye senang dengar lagu ini karena sedikit tidak menggambarkan kisah kehidupan saye,” tambahnya. Disodorkannya telepon bimbitnya lalu kami dengarkan bersama-sama sambil dia terjemahkan seadanya. Diakhir lagu dia bilang, “meskipun kita berpisah jauh dengan anak istri dan keluarga, bekerja banting tulang dan peras keringat jauh di negeri orang, tidak ada yang dapat menghalangi kita untuk berbahagia”, ujarnya. Seraya buru-buru beranjak, karena dia harus segera berangkat mendistribusikan kue ke pasar pagi itu.

Dalam sekali tertanam nasihat Pak cik Tihar di hatiku. Seolah-olah dia sengaja memberikan nasihat kepadaku yang senantiasa gelisah memikirkan keluarga di lombok. Saya gelisah tidur susah memikirkan orang tua, istri dan anak, kehilangan kepasrahan dan keyakinan bahwa Allah akan senantiasa menjaganya dari bala dan mara bahaya. Saya resah meninggalkan istri tercinta karena takut tergoda tetangga atau terperangkap fitnah yang hina. Saya takut anak saya menjadi rendah diri, deperolok malu dikatai sebagai anak TKI. Belum lagi image TKI lombok yang suka mempermainkan hati dan melarikan gadis melayu. Tentunya masih banyak lagi sumber kegelisahan lain yang kamu tahu persis.

Setelah lama berpikir dalam gelisah di malam-malam panjang, aku putuskan untuk belajar menulis. Sesuatu yang kita berdua senangi pada masa belajar di madrasah dulu. Aku titipkan tulisan ini sebagai surat terbuka, yang sejatinya aku hanya tujukan kepadamu istriku tercinta, namun juga ingin aku wartakan kepada dunia. Jadi jika tulisan ini sampai terbaca melalui dunia maya, ini semua atas pertolongan dari salah seorang pelajar Indonesia asal lombok yang bernama Nawawi, yang belajar di Universiti Malaya yang bersedia mengirimkannya di website komunitas sasak. Kepada dia pulalah aku belajar mengetik menggunakan komputer. Kesempatan dan peluang kita untuk hidup berlimpah harta memang kecil semata, namun seperti yang pak cik Tihar bilang, tidak ada yang dapat menghalangi kita untuk bahagia.

Meskipun bersurat tanpa nama, dan tak sedikitpun aku singgung detail tentang dirimu, dalam lubuk hatiku, aku tahu engkau tahu bahwa aku menulis sesungguhnya untuk kamu dan untuk kita. Maka di tengah kesibukan dirimu mengajar anak-anak mengaji di taman pendidikan al-quran di kampung kita, atau mengurus orang tua kita. Sempatkanlah dirimu untuk menulis kepadaku. Ingat pengajian dari ustad Saleh di kampung, belajar itu dari buaian hingga liang lahat, maka tidak ada salahnya jika engkapun mengasah kembali kemampuanmu menulis. Aku ingat sekali balasan surat cintaku yang kau tulis dengan tulisan tangan indah. Puitis, sarat makna. Surat itu masih ku simpan hingga kini, menemaniku dalam kesetiap harianku bekerja. Sekali-kali kubaca untuk mengingat kembali kenangan bahagia masa lalu.

Seperti yang pernah aku kabarkan kepadamu, aku bersyukur dapat bekerja di kilang jajanan milik tokeh Cina-Malaysia. Disini orang Malaysia yang dari ras China sangat lucu, meskipun berkebangsaan Malaysia, dia gak mau ngaku orang Malaysia, namun ngaku sebagai orang China, beda dengan orang cina lombok yang sangat indonesia dan fasih berbahasa sasak. Aku bekerja mulai pukul 2 tengah malam hingga pukul 10 pagi. Kadang-kadang setelah itu, Aku ikut pak cik Tihar mendistribusikan jajanan ke market di kota-kota lain di Malaysia, tidak hanya di Kuala Lumpur saja. Jadi, aku berkesempatan melihat banyak tempat, belajar berbagai hal sebagai bekal hidup kelak jika kembali ke gumi paer. Aku ingin bercerita kepadamu tentang semuanya. Tidak saja perihal isi hati dan pikiranku tentang kita, namun juga tentang isi hati dan pikiranku tentang orang lain, rekan sesama TKI atau TKW, tentang prilaku orang Malaysia baik pribumi melayu, Cina maupun India, juga tentang para pelajar dan pekerja Indonesia lainnya di Malaysia. Disini, aku sering teringat pelajaran dari ustad Saleh, bahwa belajar itu tidak harus dari guru, tidak mesti dari buku, namun pelajaran paling berharga adalah sesuatu yang kita dapatkan dari pengalaman dan alam serta lingkungan kita. Jangan kau pikir aku ini jadi sok tahu atau sok alim ya? Aku masih seperti dulu, hampir jadi bajang sasak mosot yang kamu selamatkan. Aku yang dulu selalu khawatir, selalu ragu dan takut mengambil keputusan untuk menikah, namun kamu luluhkan dengan berkata bahwa, “insyaalloh selalu ada jalan, dan jalan yang baik itu selalu diberikan kepada hamba Allah yang mau bekerja dan berusaha”. Kata-katamu inilah yang kemudian menguatkanku, memberanikan diriku untuk meminangmu. Kata-kata inilah yang kamu bisikkan ketika aku terperosok lagi di kubang keraguan sebelum berangkat bekerja di negeri jiran ini.

Sekarang, aku pun telah yakin bahwa setelah kutulis ulang kalimat cinta yang mempersatukan kita. Dan dengan kalimat yang sama pula, kuperkenalkan diriku kepadamu. Jika engkau menulis balasan kepadaku. Tulislah juga tanpa nama, biarkan kita rahasikan siapa kita. Namun kita kabarkan kepada dunia tentang arti cinta. Cinta yang mempertautkan dua hati yang dahaga akan kebahagiaan dua dunia, tidak lekang oleh masa dan tidak sirna oleh jarak. Bahwa kebahagian itu bukan saja milik orang-orang berada, hamun hak dasar setiap manusia.

Jaga dirimu, anak dan orang tua kita di gume paer lombok. Peluk cium penuh sayang untuk anak kita, aku yakin kamu tahu harus bilang apa kepadanya. Oh iya, aku minta kepada Nawawi untuk menyertakan link untuk mendengarkan lagu India yang kumaksud di awal surat ini. Semoga kamu menemukan cara untuk mendengarkannya dan mengerti artinya.




Salam kangen,

Suamimu

3 Comments

  1. batu lilih says:

    aku juga merasakan hal yg sama dengan apa yg anda rasakan saat ini kawan,
    mudah2an saja anak kita tdk jadi tki seperti kita ini,cukup sampai kita aja kawan,

  2. Gupranmuhsan says:

    Seperti inilah juga keadaan tki lombok di malaysia, lagu berbahasa sasak telah menjadi kecintaan para tki lombok,apalagi lagu yang liriknya mengisahkan tentang malaysia.

  3. lmjaelani says:

    Nggih miq, semoga teman teman disana dalam lindungan Allah SWT. Banyak banyaklah berdoa, karena doa para pencari rizki apalagi dalam rantauan insyaAllah diijabah Allah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *