Sastra Kanak Sasak: Cinta Lombok Kualalumpur – 2

Refleksi 1 Tahun: Persembahan KS untuk NTB
December 31, 2011
Goresan Makna: Pondong
January 3, 2012

Sastra Kanak Sasak: Cinta Lombok Kualalumpur – 2

Assalamualaikum….

Sehari setelah aku titip suratku yang pertama, Nawawi mengabarkan kepadaku bahwa suratku dimuat di sasak.org, website resmi komunitas sasak diaspora. Aku jadi semakin yakin kalau kelak kamu pasti akan membacanya. Kata Nawawi di jaman sekarang ini, teknologi informasi membuat dunia hanya sebatas ujung jempol. Apa yang terjadi saat ini di Kualalumpur bisa diketahui bahkan disaksikan di Lombok hanya dalam beberapa detik saja. Nawawi yang baru saja balik dari Lombok bilang bahwa kini di sana, blackberry menjamur. Dimana-mana orang pakai blackberry, dan hampir semua orang terutama anak muda punya facebook. Jadi jika ada orang baik yang meneruskan surat-suratku di halaman facebook mereka, suatu saat kamu pasti punya kesempatan untuk membacanya.

Sungguh benar kata Nawawi, dunia hanya selebar ujung jempol. Setelah aku titipkan suratku, dia langsung kirim ke sahabatnya yang di Belgia via email. Konon dia juga anak sasak yang sedang menuntut ilmu di sana. Setelah memperbaiki redaksi dari tulisanku, sahabatnya itupun mengirimkannya ke Jepang untuk dimasukkan ke website komunitas sasak. Tidak berselang beberapa jam berselang, surat tersebut telah terbaca puluhan orang, termasuk juga para TKI lain yang senasib denganku. Dunia memang kecil, namun hanya bagi yang tahu cara menempatinya.Bagi kita yang tidak berpendidikan ini, kualalumpur-lombok bagaikan dua dunia berbeda. Aku baru bisa bertemu dengan bayanganmu hanya dalam mimpi. Di dunia nyata kita boleh berpisah, namun di alam mimpi aku sering memimpikanmu dan anak kita.

Aku kagum dengan anak-anak muda di komunitas sasak. Kata Nawawi, mereka itu benar-benar tanpa pamrih. Mereka buat website, memberikan informasi dan berusaha berbuat/berkontribusi untuk pembangunan gumi paernya. Aneh memang, mengapa mereka yang tinggal di luar lombok bahkan di luar negeri bisa menjadi corong informasi tentang lombok, lalu apa kerjanya orang-orang yang tinggal di lombok itu ya? Aku ingin anak kita kelak tumbuh seperti mereka. Meskipun tinggal jauh dari lombok namun tidak pernah melupakan gumi paer tanah kelahirannya. Aku ingin anak kita kelak jadi TKI, bukan tenaga kerja indonesia yang sering disebut buruh migran, namun TKI profesional,  Tenaga Kerja Intelektual.

Hari minggu kemarin, di hari pertama tahun 2012 aku menemani Pak Cik Tihar menghantarkan pesanan jajanan ke kantin University Kebangsaan Malaysia (UKM) Selangor. Kami sempatkan singgah di masjid untuk sholat dzuhur. Masyaalloh cantiknya masjid itu, berkubah kuning dengan taman luas mengelilinginya. Aku berharap, Islamic Center yang akan dibangun di Mataram itu juga kelak benar-benar indah dan jadi kebanggaan warga NTB. Di masjid itu aku bertemu dua orang rekan sesama TKI asal Lombok. Jika di rantau, bertemu orang lombok rasanya seperti bertemu keluarga sendiri, lalu kamipun bicara bahasa sasak dan saling panggil dengan sebutan “ton” atau “semeton”. Indah sekali rasanya persaudaraan rantau ini.

Rupanya mereka pekerja bangunan di projek pembangunan gedung universitas. Yang satu bernama Atim dari mangkung lombok tengah, dia masih sangat muda. Katanya berangkat TKI karena harus mencari rejeki buat anak istrinya. Dia putus sekolah di kelas tiga tsanawiyah. dan setahun kemudian melarikan anak gadis tetangga teman sekelasnya. Dia baru setahun beberapa bulan di Selangor. Jadi aku perkirakan umurnya sekitar 17-an tahun. Dia jujur mengaku kalau dia palsukan tanggal lahirnya agar bisa berangkat ke Malaysia. “Soalnya di kampung itu tidak ada pekerjaan”, sergahnya. Bosen makan daun turi dan kangkung setiap hari, lagipula meskipun semuda itu dia sudah punya anak. Dia juga mengaku malu dengan mertuanya. Langsung menumpang makan dan numpang hidup setelah akad nikah. Rasanya seperti benalu, katanya. Ikut menghisap tanpa bisa memberi. Sementara anaknya butuh makan dan “semua butuh kepeng” katanya singkat. Ketika kutanya mengapa dia sampai menikah semuda itu, “Biase ite masih kebelang mate” katanya singkat. Namun tidak malu dia menyesali bahwa menikah semuda itu sangat susah, susah sekali. “Nyesel ku merarik kodek meton”, katanya.

Semeton satunya lagi bernama Taufik, dari Leneng Lombok Tengah. Berbeda dengan Atim, dia mengaku menyesal sudah berkepala tiga belum juga kawin. “Ite ni jak bajang mosot batur” seringainya. “Beruntung side wah merarik” komentarnya kepadaku. Lalu dengan senyum tersungging aku katakan “kita bertiga ini lombok pade nyesel”. Atim nyesel aru merarik, Topik nyesel mosot, aku nyesel endek aru merarik. Lemak lamum wah rasak jajen nenek side endah milu nyesel telat merarik, aku bilang pada Topik sambil tersenyum. Setelah itu, kamipun berpisah karena mereka berdua harus melanjutkan pekerjaan mereka.

Di perjalanan pulang aku bercerita kepada Pak Cik Tihar tentang pernikahan, terutama adat kawin lari orang sasak. Dia malah tertegun, di Nepal negaranya, mayoritas pernikahan masih diatur orang tuanya. Dia sendiri pun mengenal istrinya di ranjang pengantin. Kita justru berbalik pak cik, ku katakan padanya, di lombok kebanyakan mertua mengenal menantunya justru di pelaminan, setelah acara nyongkolan!.  “Orang lombok punya tradisi kawin lari”, tertawa dia mendengar istilah kawin lari. “Macem mane kahwin berlari?”, tanyanya. Maksud saye tu, perempuan dilarikan dulu sebelum prosesi nikah dijalankan. Ooooh macem tu ker? dia mempertegas. Aku bilang padanya, kasihan pemuda-pemudi di lombok, terutama yang perempuan. Banyak sekali yang kawin muda, seperti Atim, yang baru saja kutemui di masjid  UKM. Bagi orang-orang tua lombok, jika anaknya sudah tidak bersekolah, apa lagi tidak bekerja lebih baik kawin saja. Padahal sesungguhnya mereka belum punya bekal yang cukup, makanya selain dijuluki pulau seribu masjid, lombok juga dijuluki pulau jutaan janda. Banyak sekali janda dan juga duda disana, malah istilah janda malaysia alias “jamal” sangat populer di lombok karena begitu sampai di Malaysia tidak ada kabar sama sekali dari suami lalu istri minta cerai di pengadilan. Tidak jarang juga suami yang mentalaq istrinya, setelah beberapa bulan bekerja di luar negeri, jatuh hati kepada perempuan melayu. “Cemne dengan pelet lombok yang terkenal ampuh seantero melayu?”, tanya pak cik Tihar. Wah itu saye pun tak faham lah, jawabku. “Saye tak faham perkare gaib macem tu”, lanjutku. “Esok bila saye dah tahu, nak bagi cerita kat pak cik”, tutupku.

Berbicara tentang jamal-jamal lombok membuatku merinding. Dalam hati aku berdoa agar hanya kematianlah yang membuatmu menjadi janda atau membuatku menjadi duda. Aku takut Dumal-dumal (duda Malaysia) yang ditinggal istrinya ke Malaysia mendekatimu. Aku takut berkubang dalam lumpur cemburu.

Di setiap tengah malam sebelum mulai bekerja, sehabis tahajjud aku selalu memandang bintang-gemintang, seperti yang disunnahkan rosululloh. Pak Orba, guru fisika kita bilang, bilangan waktu dikenal manusia karena mengamati perubahan konfigurasi bintang diangkasa. Makanya, kita mengenal ada 12 rasi bintang. Cahaya bintang yang setiap hari menghiasi malam sesungguhnya datang dari masa lalu. Aku ingin masa lalu kita ketika masih bersama dulu, seperti cahaya bintang menerangi masa kini. Semoga cahaya itu tetap menerangi jalan hidup kita sehingga kita tidak terperosok ke lembah nista.

Pikiran-pikiran semacam ini membawaku ke titik-titik dimana aku merasa orang yang paling berbahagia di dunia. Aku selalu berdoa agar engkau juga merasakan hal yang sama. Jika ditengah malam engkau memperhatikan bintang, maka aku pastikan bahwa engkau melihatnya bersamaku. Dunia memang sungguh luas bagi kita, kita terpisah dalam bilangan jarak yang jauh. Namun luasnya dunia dan jauhnya jarak jangan pernah menghalangi kita untuk menjalin kebersamaan.

Kembali aku titip surat ini melalui Nawawi, namun aku berpesan kepadanya bahwa aku juga ingin menaruh dunia di ujung jempolku. Aku ingin belajar internet, biar aku bisa berteman dengan orang-orang pintar.

Salam kangen,

Suamimu

3 Comments

  1. lmjaelani says:

    Yes, jika sudah sampai hitungan satu tahun. Tulisan2 ini bisa dibukukan 🙂

  2. Le Muji says:

    Salaaam,
    Semakin banyak penulis muda semakin yahuuuud nih sasak.org.
    Hayoooo pade nulis selepuk ne sik bajang bajang..

  3. lmjaelani says:

    Ada saja tunas pengganti miq. “KO” satu, “OK” 1000 !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *