Tim Lajnah Penerjemah Al-Qur'an Base Sasak Rampungkan Juz Amma Almajidi
January 9, 2012
Cerite Sasak: Amaq Bahar Nyampah Ambon
January 11, 2012

Angkor Wat

Hazairin R. Junep

Kamboja [Sasak.org] Angkor Wat, Kamboja adalah sebuah bangunan Hindu yang luas dan besar. Tumpuklah Borobudur dengan Prambanan diatasnya. Tangganya terjal dan pijakannya sempit. Taman luas dengan kanal mengelilingi hutan kecil diantara bangunan dan lapangan.

Saya mendatangi komplek itu 2 kali dan komplek Angkor Tom dengan wajah Jayawarman VII menghiasi puncak candi. Kota kecil Siem Reap (Penaklukkan Siam) adalah kota sebesar Mataram yang situasinya masih seperti tahun 1980 an, penuh tuk tuk, motor dan mobil. Pariwisata sangat ajaib mengubah negeri yang baru bangun dari mimpi buruk Khmer Merah dengan Ladang Pembantaiannya.

Karakter manusianya masih murni dan sederhana. Kemakmuran sudah mulai nampak dari geliat ekonomi pedesaan. Tenunan sutra dan katun marak menyaingi pabrik pabrik pakaian barat. Dengan satu dolar kita bisa mendapat suvenir yang bagus. Negeri itu nampak seperti Lombok selatan atau Bima dimata saya.

Di sela sela pohon lontar berkeliaran sapi dan kerbau. Sekarang musim kemarau mulai menguapkan air di sawah dan embung tanah liat. Tampak anak anak dan orang dewasa menjala ikan disana sini. Buah gol/bedurix dijajakan ditepi jalan sebesar bola bekel. Keke/kerang air tawar dijajakan dengan gerobak keliling. Ular danau Siem Reap dipanggang ditepi danau dan laris. Semua yang tumbuh dan berbuah dapat dipasarkan berkat pesatnya pariwisata. Pub Street adalah satu jalan yang penuh restauran dan bar, sepanjang hari penuh pengunjung.

Kejujuran, ketulusan dan kesediaan menolong dan berkorban adalah modal utama yang masih bersemi dilubuk hati manusia Kamboja. Derita padang pembantaian Khmer Merah, tidak dilupakan tetapi keputusan untuk meraih kesejahteraan dan kedamain jauh lebih utama. Sopir tuk tuk yang setia mengantar saya dan cerdas menawarkan objek wisata, menutup salam perpisahan dengan berkata dalam bahasa Inggris yang baik; Bapak, kalau berkenan tolong beritahu tamu bapak agar menggunakan tuk tuk saya. Saya hanya sekolah 9 tahun karena orang tua saya miskin. saya memerlukan biaya untuk menyekolahkan anak saya. Bolehkah saya memberikan kartu nama kepada bapak?.

Saya mengangguk haru dan saya membaca namanya Kong Savin, English Speaking Tuk Tuk Driver dengan telpon mobile dan email. Saya menyalaminya dan berangkat ke airport. Adakah para pejabat kita memikirkan rakyat jelata seperti Kong Savin itu, yang rajin bekerja tanpa pernah menghitung berapa uang ongkos yang saya berikan. Rakyat Jelata sudah rela dan ikhlas dengan pendidikannya yang jeblok tetapi semangatnya menyala nyala untuk membangun jalan bagi generasi berikutnya yaitu anak cucunya agar mereka tumbuh jadi warga dunia seperti saya yang lahir dan besar di gumi paer yang lebih terbelakang dari keadaan si sopir tuk tuk itu. Salam

Hazairin R. Junep

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *