Sastra Kanak Sasak: Cinta Lombok Kualalumpur – 3

Kegiatan Desa Mandiri EKonomi Telah Dimulai
January 22, 2012
Pembangunan Biodigester Terkendala Hujan
February 3, 2012

Sastra Kanak Sasak: Cinta Lombok Kualalumpur – 3

Assalamualaikum….

Aku tidak menyangka kalau aku masih terus bersurat. Aku tidak tahu dorongan apa yang membuatku ingin terus bersurat kepadamu. Bersurat tanpa nama seperti ini mengingatkanku pada beberapa kisah kasih lama dalam roman dan novel yang melegenda. Aku, kamu dan anak kita yang terpisah dan tingkahku yang bersurat tanpa nama terkesan seperti roman atau khayalan pujangga kelas pindang. Kamu pasti ingat roman “Di bawah lindungan Ka’bah” buah karya Buya Hamka? Kisah cinta mereka berakhir tanpa ikatan karena mereka tidak saling mampu menyampaikan isi hati masing-masing. Siapa sih yang tidak tahu kisah kasih Romeo dan Juliet dalam novel pujangga Britania William Shakespeare berakhir na’as, berdua mati di dipan yang sama. Aku heran, mengapa kisah cinta terkesan jadi indah di mata para pembaca ketika harus berakhir tanpa berdua. Aku bukan Romeo dalam benak Shakespeare, juga bukan Hamid dalam angan-angan buya Hamka. Aku ini suamimu, manusia nyata yang tiada pernah lelah merajut cita-cita. Namun sebagai manusia biasa, aku takut kisah-kasih kita berakhir seperti mereka.

Ketika aku lihat banyak berita mengenai pembunuhan saudara-saudara kita di Bima di TV-TV Malaysia, entah kenapa hatiku kecut, bergemuruh takut. Aku si suami yang tiada mengaku nama, memberanikan diri bersurat kisah cinta, bisa saja berakhir seperti dalam banyak kisah asmara. Engkau yang menunggu tabah di lombok sana, bisa saja pergi begitu saja ketika Empunya kita sudah meminta. Mudah faktanya, di sana rakyat jelata terputus nyawanya, hanya karena urusan sepele yang tiada berhubungan langsung dengan dirinya. Lagi-lagi aku takut, tekadku memperbaiki nasib justru terhenti tanpa jadi apa-apa, meskipun telahku tumpahkan sumpahku pada sejarah untuk tidak pernah menyerah. Tapi, tetap saja, takut selalu menggelayut dalam benakku yang juga menciut.

Di musholla dekat kilang tempat aku bekerja, Ustad Rahmat namanya, pegawai Petronas, sering menjadi imam dan memberikan tausiah dalam berbagai ceramah. Meskipun dia bekerja di perusahaan minyak nasional kebanggaan rakyat Malaysia, konon dia alumni pondok pesantren gontor Indonesia. Suatu hari, dia memberikan tausiah singkat tentang ikhtiar meraih cita-cita. Dia mebingkai ceramahnya dalam dua kisah dengan akhir yang berbeda. Dia bercerita bagaimana Malaysia berbenah, belajar dari mana saja. Tiada pongah dan jengah, tidak juga merendah pada siapa saja. Di tahun 60-70-an tiada malu mereka mengirimkan mahasiswa belajar ke Indonesia dan mengundang guru-guru indonesia mengajar di Malaysia. Kini anak-anak Indonesia tidak sedikit yang belajar di Malaysia, baik dengan beasiswa atau biaya orang tua. Di tahun-tahun itu pula, Petronas belajar banyak dari pertamina. Kini Pertamina jatuh tiada nama sedang Petronas menjulang tinggi menantang dunia. Sungguh jelas dia ungkapkan jalannya dua peristiwa. Dua negara tetangga, menjalani masa dalam kisah berbeda. Indonesia dan rakyatnya yang masih jelata, dan Malaysia dan rakyatnya yang sigap-siaga menjemput cita-cita. Ironi katanya. Aku lama terdiam memikirkan apa artinya ironi. Lalu penjelasan lanjut ustad Rahmad memperjelasnya. Tidak sedikit pekerja di level tertinggi dari Petronas adalah orang Indonesia. Mereka itu, purta-putri terbaik indonesia yang tidak laku di Pertamina. Tegas sekali ujarnya.

Lama aku ingin menyapa ustad Rahmad, mengaku orang Indonesia agar bisa berbincang dengannya. Namun entah mengapa, setiap aku bersiap menegurnya, aku selalu malu dan serta-merta enggan saja. Aku malu, jadi rakyat indonesia. Aku malu, jadi bagian dari potret manusia indonesia gagal, yang mengais rejeki jauh menyebrang samudra dan meninggalkan sanak keluarga. Tausiah itu buat aku tambah malu, dan keinginan untuk bertegur sapa dengan ustad Rahmad pun kutangguhkan sementara.

Di perjalanan dari mushalla ke kilang tempat aku bekerja, menjulang tinggi gagah perkasa menara Petronas jelas terlihat. Twin towers, dua menara atau menara kembar, mereka senang menyebutnya. Di setiap dada bangsa Malaysia ada rasa bangga di kala mereka memandang kokoh dua menara. Engkau tahu, kata encik Tihar, dua menara itu adalah simbol kebangkitan dan kebanggaan Malaysia. Dulu, kuala lumpur ini adalah kuala atau muara dari sungai-sungai dimana lumpur-lumpur sungai lainnya bertemu. Dulu, sebagaimana di Belitong Indonesia, banyak sekali pengerukan timah oleh perusahaan timah penjajah Britania yang menjajah malaysia, juga mengeruk kekayaan alamnya. Sungai itu kini disebut sungai klang. Kini, muara berlumpur itutelah menjadi sebuah kota kuala lumpur ini. Dari kubangan lumpur itu berdiri dua menara, seolah-olah jadi mihrab bangsa untuk lantang bersuara kepada dunia sebagai dua menara tertinggi di dunia. Ini adalah bukti bahwa Malaysia sudah mampu bersaing di level dunia. Lalu bagaimana dengan Indonesia? tanyanya. Aku hanya bisa diam, berkelebat ingatanku, bukit besar di batu hijau sumbawa yang dikeruk emasnya oleh PT Newmont Nusa Tenggara kelak bisa dibangun apa?

Konon kabarnya kita bisa naik ke jembatan melintang yang menjembatani dua menara itu. Di atas sana kita bisa puas melihat hijaunya kota Kuala lumpur, yang dibangun dengan tiada mengesampingkan keseimbangan semesta. Konon kita bisa melihat ruangan hijau dan taman-taman kota teratur berjajar di mana-mana. Bukan kumpulan atap-atap rumah bersambung seluas kota seperti aku lihat Jakarta ketika dulu terbang dari Lombok pulau kita. Bukan pula seperti kota ampenan atau kota mataram yang tampak tiada berbeda dengan jakarta dari atas bandar udara.

Mengingat itu, ingin rasanya aku membawa mu juga anak kita bersama-sama kesana. Bagaimana rasanya kita berdiri di sana, di atas bangunan kokoh simbol dari kebangkitan sebuah bangsa? Ingin rasanya kita bisa disana bersama, satukan asa bahwa perjalanan masa dapat merubah nasib anak manusia jika mereka bersungguh-sungguh dan terus berpeluh bekerja memperbaiki nasibnya.

Lancang rasanya aku bercita-cita seperti ini, sedang aku tahu, di lombok sana rakyat jelata sebagaimana di Bima bisa saja sewaktu-waktu mati terbunuh pasukan bersenjata yang membela kepentingan entah siapa. Ketika di belahan negara lain, mereka bangga akan keadaan dan perjalanan bangsanya, di negaraku, di pulauku, mental ku cuit, nyaliku kalut, pikiranku semrawut, melihat keadaan yang kian keblintut. Jangankan bangga, cita-cita saja rasanya  jadi barang luar biasa mahal harganya.

Menulis surat ini membuatku tenggelam dalam dilema. Bersurat seakan memberiku energi baru untuk berani bercita-cita. Menulis membuatku lebih bahagia, karena gundah gulana bisa aku tumpahkan tiada lupa. Bercerita tentang kegemilangan orang lain, memberiku kekuatan spiritual baru bahwa jika mereka bisa, mengapa kita ragukan karunia Dia kepada diri kita. Dosa apa yang lebih berbahaya melainkan menyangkal kuasa Dia untuk merubah nasib hambanya. Karena sesunggunya di mataNya, kita semua sama saja, tanya taqwa yang membedakan kita.

Namun, melihat rangkaian peristiwa yang terjadi dan fakta-fakta yang ada, tekadku jadi ciut dan keberanianku mengerdil. Mental beraniku, sebagaimana ketika aku berpuisi atau bermain melodrama di depan kelas dan guru bahasa kita bapak Rumansa, serta-merta sirna entah kemana. Aku takut, angan-angan tentang akhir bahagia hanya jadi pepesan kosong semata. Aku ingin marah entah pada siapa, juga bagaimana, karena aku bukan siapa-siapa. Aku bukan pejabat dalam balutan safari mulus bersetrika, juga bukan konglomerat yang berlimpah harta untuk mengendalikan penguasa. Aku hanyalah manusia jelata, rakyat indonesia, putra buruh tani yang malang di dasar terbawah piramida penguasa.

Semalam, langit terang benderang. Bintangpun seakan tersenyum mesra menyapa bumi dan bahtera. Angin berhembus kencang, seakan tahu aku butuh hembusan kencangnya tuk hentikan lara dan buang jauh dilema. Bulan pun seakan malu-malu timbul tenggelam di balik lalu-lalang awan. Kini tentunya masuk bulan Syawal, batinku. Bulan di mana kita biasanya bersua dengan sanak saudara menghadiri maulid dimana-mana. Di Malaysia sini, tidak ada maulid seperti kita. Isinya hanya rangkaian ceramah agama dari para mufti saja. Tahulah engkau, bahwa kebahagiaan itu, indah rasanya ketika justru engkau jauh dari padanya. Bahagia berkumpul bersama keluarga membuncah-buncah rasanya ketika aku tahu bahwa itu sesuatu yang mustahil adanya.

Aku mencari-cari tasku, di mana kusimpan fotomu dan anak kita. Bagiku mengingat kalian berdua adalah obat pemuas dahaga. Penghilang gulana, rasa takut dan seantero dilema. Memandang fotomu dan anak kita, mengahapuskan angan-angan kosong tentang ketakutan menjadi seperti Hamid atau Romeo dalam buku kisah kasih asmara yang berakhir tiada bersama. Mengingatmu dan anak kita mebuatku kembali pada keteguhan semula. Peduli apa aku pada dunia. Indonesia boleh porak-poranda, penguasa bisa jadi semena-mena. Namun aku tahu: aku, engkau dan anak kita akan selalu bersama.

Maafkan jika tulisanku lari kemana-mana. Engkau yang paling tahu, bagaimana aku ketika galau, berkata tiada tertata, bersuara hampa nada, bertindak selalu tergesa. Namun, mengingat tentang kamu dan anak kita, meskipun jauh dari kuala lumpur, selalu membuatku bahagia. Rinduku tiada sekejappun sirna ditelan nestapa, gulana maupun dilema. Kasihkupun tak kan berkurang, malah bertambah tiada berbilang. Rindu redamku semakin dalam, jauh menusuk tulang. Aku tahu, untuk mu dan untuk anak kita, aku bukanlah katak yang sedih sedan merindukan purnama.

Salam kangen,

Suamimu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *