Sastra Kanak Sasak: Cinta Lombok Kualalumpur-4

Hobby dan Rezeki
February 4, 2012
Sekjen IPEBI Kunjungi Desa Binaan KS-IPEBI
February 17, 2012

Sastra Kanak Sasak: Cinta Lombok Kualalumpur-4

Assalamualaikum……

Lama aku menguatkan hati untuk kembali menulis setelah beberapa kejadian belakangan ini. Aku harus bersusah payah untuk menyampaikan suratku yang ke-3 itu. Di bulan Februari ini, rupanya kampus-kampus di malaysia serentak melaksanakan ujian akhir semester. Jadi tidak mudah bagiku untuk menemui Nawawi tuk sampaikan surat itu. Berkali-kali aku datangi kostnya, namun tidak jua aku temui. Hingga akhirnya aku berinisiatip untuk meninggalkan pesan. Meskipun aku geger dengan teknologi, sampai sekarang aku tidak memiliki telepon genggam (orang melayu menyebutnya telefon bimbit). Aku tinggalkan pesan, “Dik Nawawi kemana saja? Kakak datengi berkali-kali namun tak pernah di kost”. Aku sempat khawatir, jangan-jangan dia tiba-tiba pulang kampung ke lombok secara mendadak, namun aku tetap menjaga hati dan berprasangka baik. Di kunjungan selanjutnya, aku temukan pesan balasan di bawah pintunya, “maaf kak, saya habiskan hari-hari kat library UM untuk persiapan ujian semester. Kalau kakak hendak temui saya bisa langsung datang ke Lembah Pantai 50603 Kuala Lumpur, Malaysia. Naik RapidKL lalu turun di station Universiti, dan tanya jalan menuju main library”.

Perasaanku bercampur geger dan leger antara geger ingin meliat kampus UM dan leger karena aku belum pernah pergi sendiri kemana-mana. Jikapun meninggalkan kilang, aku selalu bersama dengan encik Tihar sebagai driver untuk mengantarkan pesanan kue ke pelanggan. Tetapi setelah aku pikir-pikirkan lagi, mungkin ada baiknya aku coba, aku tahu ada station RapidKL yang sangat dekat dengan kilang. Karena aku kerja dari tengah malam sampai kira-kira waktu dhuha, jadi sepanjang hari aku punya waktu untuk pergi. Terlebih lagi, aku tulis surat itu dengan segenap pengetahuan kesusastraan yang aku miliki. Berkali-kali aku tulis dan perbaiki, sampai akhirnya jadilah seperti yang mungkin akan engkau baca suatu saat nanti. Akupun bangga  membacanya, putra lombok buruh migran ini cakap juga menulis, gumamku. Aku tidak menyangka, setelah baru beberapa kali menulis, tulisanku bisa sebagus itu.

Siang sehabis dzuhur aku pamit ke si engkong bos di kilangku, juga ke encik Tihar. “Ini” kata cik Tihar, sambil dia sodorkan kertas dan ada nomor telefon bimbit tertulis di sana, “kalau-kalau nyasar, tak payak lah berpusing-pusing, awak telepon aku” katanya. Akupun bergegas dengan semangat 45 ingin bergrilya ke kampus UM, yang konon merupakan university terbaik di Malaysia, sama derajatnya dengan UI, ITB, UGM, ITS dan kampus-kampus ternama lainnya di Indonesia.

Ternyata tidak sesusah yang aku bayangkan. Begitu masuk ke station sudah tersedia peta-peta rute rapidKL di sana. Jadi kita cukup tahu station akhirnya lalu kita cari sisi sebelah mana untuk naik, karena hanya ada dua jalur, yang ke kiri atau yang ke kanan. Singkat cerita, sampailah aku di station university. Dari sana, aku sudah bisa melihat megahnya masjid UM. Dengan sigap  aku bertanya kepada mahasiswa yang juga baru turun dari RapidKL. Lalu dia dengan telaten menunjukkan aku jalan dan arah untuk mencapai library.

Rupanya cukup dekat juga, kurang lebih satu kilometer, dan cukup 15 menit berjalan kaki. Aku ingat pesannya, bangunannya besar berwarna putih dan terletak dekat sungai. Karena keterangan yang sangat jelas, akupun dengan mudah menemukannya. Megah sekali bangunannya, tampak macam gedung tua peninggalan kolonial kerajaan Britania raya. Begitu mau menginjakkan kaki masuk aku di hadang security. Aku bilang padanya, aku hendak temui adikku. Namun “tak boleh” hardiknya. Aku kurang tahu, mengapa orang satu ini begitu kasar perangainya. “Korang ni pelajar ato ape?” tanyanya. Dengan gagap aku jelaskan kalau aku ini TKI dan mau menemui salah seorang pelajar asal lombok yang bernama Nawawi. Entah mengapa dia tampak marah begitu aku sebutkan bahwa aku juga berasal dari lombok. “You indon dateng kat sini, dulang duit kat malaysie, terus kau orang lombok terutame bawa lari gadis-gadis malaysie. You tak boleh masuk, kena tinggalkan tempat ini skrang juga”, hardiknya. Aku hampir naik pitam, ingin kehempas dia dengan senggertak tuan guru bidas dan hampir kuhentakkan tanah dengan senjejeak dewi anjani, tidak sengaja aku rapal ajian sengkawat,

“Aku kukuh, aku kuat, awakku bekulit waje, matengku nyale

Embokku belae, Bulungku maje

Sekali jagur, Lebur segubuk, mate satus nunggal sopok

Berkat La Ila haillallah”

Namun Alhamdulillah, niat itu aku urungkan, rasa maluku melebihi emosi sesaatku. Jika sampai saja terjadi, mungkin kau tidak akan pernah membaca surat ini, dan tidak akan ada surat-surat lainnya lagi, karena sudah pasti aku dibui.

Aku malu sekali. Baru sekali aku merasa malu seperti itu. Seperti kata ibu, kelopak mataku dangkal sekali, aku gampang menangis. Sebelum mengalir bulir air mataku aku segera berbalik menjauh, hanya satu yang ada di pikiranku, masjid UM. Di setiap orang sasak merantau, satu pesan yang aku ingat selalu disampaikan papuk-balok kita. Di manapun kamu berada, baik dalam keadaan senang apalagi susah, “dendek jaok-jaok elek masjid” (jangan jauh-jauh dari Masjid), “onyak-onyak meranto lek gumin dengan” (hati-hati merantau di negeri orang).

Mungkin karena banyak yang mendengar pesan itulah, di masjid-masjid dan musalla-musalla di Malaysia, muadzinnya banyak orang lombok. Sifat taat beribadah laki-laki lombok, dan kecekatan dan kecakapan dalam bekerja inilah yang mungkin sering menaklukkan hati gadis-gadis malaysia, hingga merelakan diri meninggalkan orang tua untuk ikut suami mereka ke lombok. Ditambah lagi dengan sekian banyak senggeger yang sepertinya sangat mandi (mujarab) menggegerkan dedare-dedare malaysia. Mulai dari yang kelasnya menengah seperti senggeger jangkrik ngencik, geger mayang, hingga yang paling dahsyat jaran guyang. Konon kalau sudah terkena jaran guyang, nyawa sang gadis bagai terputus dan hanya tersambung jika menikahi si bajang yang melepaskan ajian geger-nya. Kekuatan senggeger ini menembus rintangan samudra dan padang sahara. Begitu terlepas, pasti terkena.

Sesak hatiku disebut indon, meskipun sering aku dengar sebutan indon oleh orang melayu di sini. Bukan katanya yang menyakitkan, namun cara pengucapannya yang membuat kita merasa begitu dilecehkan dan direndahkan.

Setelah berwudhu dan sholat tahiyatul masjid aku sedikit lebih tenang. Aku tahu, Nawawi pasti akan datang sholat asar di sini. Aku dengar dia tidak saja sering jadi imam sholat, namun juga beberapa kali diminta jadi khotib jum’at. Latar belakangnya yang lulusan Al-Azhar Mesir dan juga hafidz Al-quran membuat teman-teman bahkan dosen-dosen segan kepadanya. Betul pikiranku, setelah adzan berkumandang, aku lihat dia masuk ke masjid dan langsung aku hampiri dia. Singkat aku ceritakan padanya pengalamanku dengan security, lalu dia tersenyum simpul saja dan bilang kita lanjutkan lagi setelah asar, seraya mengajakku untuk mengambil shaf sholat terdepan.

Kak, mule nani niki nyeken sensitif dengan melayu. Loek gati laporan dedare melayu milu pelai juk lombok, ongkatne. Loek teberiteang lek surat kabar, malah lek TV mengenai pendait dedare malaysia lek lombok. Dengan lombok tegambaran penine daet endekne bertanggung jawab. Ite ni marak kayen pepatah “satu makan nangka semua kena getahnya”, endek taon ape-ape laguk ite milu bakat. Kasus ni marak kayen ungkapan imam Al-Ghazali mengenai dengan selam, al islaamu mahjuubun bil muslimiin, islam itu hancur karena orang islam sendiri, aran dengan lombok lengek sik dengan lombok mesak. Laguk, insyaalloh lamunt solah-solah akhlak pegawean, timakn sak marak batu angen dengan, laguk bau tetembus sik elek-elek aik istikomah.

Aku terharu mendengar nasihan Nawawi, anak ini tujuh tahun lebih muda dari aku, namun ilmunya serasa seratus tahun lebih tinggi. Nama lombok boleh tercemar oleh bajang-bajang tidak bertanggung jawab, namun orang-orang seperti Nawawi ini akan mengharumkannya dan mengangkatnya setinggi-tingginya. Mungkin orang-orang dengan kualitas dialah yang menyebabkan syiar islam sangat kuat di lombok, hingga mendapatkan gelar pulau seribu masjid.

Setelah aku serahkan surat kebangganku yang kuanggap maha karya terbaikku itu, aku pun beranjak pulang, sementara Nawawi kembali ke library. Di jalan, aku menyesal mengingat kejadian ini, padahal bisa saja aku selipkan surat itu di bawah pintu kost-nya, dan tentunya dia tau apa maksudku. Rasa banggaku yang berlebihan rupanya langsung diganjar oleh Allah dengan mengalami kejadian tersebut. Namun di sisi lain, aku bersyukur karena dengan itu aku jadi semakin banyak tahu, terutama dari penjelasan dik Nawawi. Aku kemudian teringat do’a nabi Ibrahim, yang juga tercatat dalam al-quran, robbanaa laa tajallanaa fitnatan lilladziina aamanuu, ya Tuhanku janganlah kau jadikan aku fitnah bagi orang-orang yang beriman. Bajang-bajang sasak yang mungkin kurang pandai memikirkan akibat dari perbuatan mereka tersebut justru ternyata menjadi fitnah bagi suku bangsanya. Nauudzubillah.

Sengaja aku ceritakan ini, agar aku selalu ingat apa yang aku pelajari dari kejadian ini. Juga jadi pelajaran bagi siapa saja terutama semeton sasak lain yang membacanya di manapun mereka berada. Aku ingin menjaga diri, juga ingin engkau jaga dirimu dan anak kita, jangan sampai menjadi fitnah bagi keluarga, bangsa dan agama. Aku yakin, bukan seribu satu macam ajian-ajian sasak atau senggeger-senggeger itu yang penting, namun iman yang tertanam dalam hati dan akhlak yang mulia itulah yang utama. Andai saja, semakin banyak orang islam dan orang sasak yang seperti nawawi, niscaya base sasak pada khususnya, dan islam pada umumnya akan selalu jaya.

Salam kangen,

Suamimu

2 Comments

  1. muzammi says:

    bismillah
    tulisan yang kosta katanya bercampur sastra, di rangkai nuansa fiksi dan mengesankan tulsan dengan dua gaya budaya yakni melayu dan sasak.
    tetep lah posting hep..
    tak ada teman setiap dan pendengar yang bijak kecuali kecuali MENULIS,, teruslah berteman dengan MENULIS kawan..kelak cerita-cerita hep banyak mengispirasi..selamat berjuang dan berhati-hati,,
    salam

  2. Yusuf says:

    Maik Gati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *