Glottal Stop X
March 25, 2012
Program Bangun Desa, Pabrik POG dan Investasi Kambing
April 5, 2012

Bahasa, Adat dan Pakaian Sasak.

Hazairin R. Junep

Bagan – Luang Prabang- Angkor Wat (www.sasak.org) Sudah lima tahun saya secara khusus menuliskan catatan catatan kecil di KS dan sasak org. mengenai masalah kesasakan, yakni bahasa, budaya, adat dan pakaian Sasak. Sejak tulisan pertama sampai saat ini masih terus bermunculan pertanyaan yang sama maupun yang baru tentang perkara itu. Dalam usaha dan kerja keras para budayawan dan agamawan Sasak, merekonstruksi kembali karakter kesasakan atau jati diri Sasak itu, banyaklah mendapat kendala baik dari kubu sendiri maupun dari kubu yang berseberangan. Kelompok budaywan fanatik merasa terhalangi oleh kelompok agamawan fanatik. Kedua fanatik itu bersitegang sampai lupa objektifitas dan mengabaikan maksud hati mereka dalam memberi sumbang pemikiran dan suri tauladan bagi perkembangan kesasakan kita.

Sejak dihapusnya pelajaran bahasa Sasak dari SD sampai SMA entah zaman kapan, yang terakhir adalah pada saat proyek muatan lokal digencarkan lalu lenyap setelah bagi bagi hasil pelaksanaan proyek. Dahulu ada buku teks berjudul GALANG BOELAN yang ditulis oleh Laloe Mesir dari Selong. Saya tidak pernah melihat buku itu tetapi salah seorang tetua menceritakan bahwa teks itu ia pakai saat SR dan ia sempat mengulang kalimat yang masih dihafal. Bahasa Sasak yang digunakan adalah bahasa sehari hari dan itulah sebabnya generasi terdahulu mahir berbahasa Sasak dan mahir pula berbahasa Melayu (Indonesia).

Saat ini kita mendengar diseluruh negeri bahwa pengajaran bahasa daerah mengalami stagnan, kemandegan, kemacetan, kegagalan. Termasuklah kegagalan dalam pengembangan dan pengajaran bahasa Sasak itu. Pengajaran gagal karena penyusun kurikulum dan apalagi yang mengajar tidak mengerti akan kaidah bahasa Sasak. Bagaimana mungkin seorang anak SD yang sedang belajar mengucapkan dan merangkai kata dalam bahasa Ibunya sehari hari langsung diajar bahasa sastera kuna yang disebut bahasa Kawi, yaitu bahasa neo Sasnskrit. Klaim bahwa bahasa sastera atau Kawi itu atau lebih dikenal sebagai bahasa Jawa Kuna itu adalah bahasa Sasak, apalagi ditambah degan istilah bahasa Halus adalah pemutar balikan fakta yang dilakukan selama ini. Bahasa Sasak yang sebenarnya adalah bahasa yang dipakai sehari hari oleh seluruh rakyat Goemi Paer sebanyak 3.5 juta itu. Gaya bicara yang membingungkan anak generasi baru yang dilakukan oleh sebahagian kecil para penyembah budaya yang menyusupkan he ne ce re ke de te se we le pe de je ye ne me ge be te nge didalam pelajaran sekolah dasar dan SMP hanya bermotif politis belaka.

Adat anak bangsa Sasak adalah perilaku sehari hari yang dapat dilihat, dirasakan dan dimengerti setiap berinteraksi dengan mereka. Mereka bicara dan bertingkah laku sopan dan halus budi pekertinya. Bahasa Sasak tidak ada yang halus, yanga ada adalah perilaku yang halus dan hormat. Bukan rangkaian kata yang menentukan halus tidaknya seseorang dalam berbahasa tetapi intonasi, ekspresi wajah, gesture (gerak gerik tubuh) pilihan kata dan kejelasan pelafalan. Orang USA berbicara dalam bahasa yang sama dengan orang Britania. Kita dapat melihat, mendengar dan merasakan bahwa orang USA lebih kasar bicaranya disbanding dengan orang Britania, karena orang Britania adalah orang yang lebih berpendidikan budaya daripada orang USA yang cowboy. Marilah kita bicara dengan sopan dan sesuaikan dengan keadaan serta kepada siapa kita berbicara. Itu lebih mendasar daripada mengganti bahasa yang akhirnya membuat anak kita gagal baik dalam memakai bahasa sehari hari (kolokial) maupun, apalagi bahasa sastera yang asing.

Pakaian adat sebagaimana arti kata adat yaitu yang merupakan kebiasaan sehari hari, maka pakain adat adalah pakaian yang kita kenakan setiap hari. Pakaian asli orang Sasak adalah sarung berwarna merah, atau kuning, dll yang masih ada di dasan dasan yang merupakan hasil tenunan sendiri dengan pewarnaan alami. Pakaian perempuan adalah lambung sedang pakaian pria tidak ada atasannya. Tetapi agar dapat menyesuaiakn nilai adatgame maka pria dapat mengenakan kemeja atau kaos. Dalam suatu keperluan tertentu seperti upacara, atau pawai dan pesta sebagimana layakanya manusia, maka sering diperlukana pakaian yang merupakan hasil olah seni fashion yaitu haute couture (pakaian dengan jahitan/potongan khusus berselera tinggi). Disitulah orang boleh memilih haute coutre Bali, Jawa, Italia atau Prancis. Hal itu merupakan kebebasan individu yang menyesuaikan dengan kemampuan daya beli dan daya dukung pribadi.

Selanjutnya perlu dikemukakan hal hal yang sangat berkaitan erat dengan berbagai permasalahan yang sering saling bergesek didalam masyarakat luas adalah karean perbedaan niali dan visi. Perbedaan itu terjadi antara kaum elit dan orang kebanyakan. Orang elit dimanapun didunia ini memiliki pengaruh besar. Salah satu kaum elit itu disebut sebagai bangsawan. Bangsawan dari kata Vangsa (Sanskrit) artinya dinasti, keturunan, trah yang akan meneruskan kekuasaan keluarga besar yang menurunkannya. Bangsawan pada umumnya tinggal di istana, kastel atau wilayah khusus dengan tembok tinggi disekelingnya. Di Goemi Paer ada suatu tempat yang disebut pedaleman. Pedaleman merupakan tempat tinggal serupa getto yang dikelingi pagar atau tembok. Pedaleman dari kata dalem yang artinya disanjung, dihormati adalah karena orang yang menghuni tempat itu merupakan orang yang dihormati baik karena pengaruh harta maupun silsilah keturunan (dinasti). Orang orang yang ada dipedaleman itu menjaga dan memlihara keluarganya dengan nilai nilai tertentu yang diwarisi dari nenek moyang mereka. Mereka memiliki adat tertentu yang bisa saja berbeda dengan orang kebanyakan. Orang orang pedaleman itu memeilhara tradisi sastera mereka dengan baik sehigga banyaklah datang dari orang luar untuk belajar disana. Berapa banyakkah kita punya pedaleman?. Kalau mau jujur pedaleman dalam arti sebenernya telah punah oleh virus modernisasi yang memberangus tradisi sastera mereka yang merupakan inti dari sumber nilai yang dianut. Sekarang orang orang pedaleman sudah tidak lagi peduli bahkan banyak yang menjual pusaka untuk dapat menjadi pejabat atau bertahan hidup. Orang pedaleman sejati pada umumnya adalah kesatri kesatria. Banyak pahlawan yang berasal dari keluarga itu dicatat dalam sejarah dunia.

Pertentangan nilai nilai lama dan baru pada dasarnya diekploitasi oleh orang orang yang mengkhususkan diri dalam bisnis itu. Suatu hari ada orang menikah dengan mencuri istri. Seharusnya keluarga lelaki langsung datang ke ke keluarga perempuan dan menyelesaikan dengan seksama masalah pernikahan kedua putra putri mereka itu. Apa yang sering terjadi adalah ikut campurnya para makelar yang sengaja memelihara nilai tertentu seperti memelihara fungus untuk membuat tempe!. Kalau diteliti lebih jauh para makelar itu banyak berasal dari sempalan orang pedaleman atau orang kebanyakan yang suka berlagak sebagai berdarah biru. Semua perkara didunia ini adalah sederhana sampai ikut campurnya makelar. Makelar sanggup membuat orang menjual sawahnya untuk mengikuti bualan ala kerajaan ghoib yang dikarang karang yang katanya berasal dari kitab mbahnya zaman lepang lolat. Orang kebanyakan adalah korban terbesar dari permainan makelar yang sering menghilangkan kehormatan keluarga besar bangsa Sasak. Lebih berbahaya lagi apabila ada orang yang dengan gagah berani menginjakkan satu kaki pada para penyembah budaya dan satu kaki pada penyembah agama.

Anak bangsa Sasak harus mulai membenahi diri dengan tidak gampang melupakan sejarahnya. Kalau sudah dikadali oleh makelar ala dinasti sampai menjual martabat diri untuk mengikuti tetek bengek ritual adat yang dipungut sana sini seperti tergambar dalam selera makan dan berpakaian mereka maka kita semua mesti, harus dan wajib mewaspadai makelar yang menunggangi agama. Banyaklah kita saksikan selain tokoh penyembah adat, para tokoh penyembah agama berduyun duyun mengacungkan tangan dengan jubbah kebesaranya sambil mengancam dengan neraka, sama saja, orang banyak hanya dieksploitasi sehingga ada pula yang memberikan harta bendanya untuk ikut acara mereka padahal rakyat tidak mengerti apa apa sebab memang ilmu tidak diberikan yang penting disihir lalu ikut ikutan. Janganlah kita terkena pepatah yang mengatakan bahwa anak Sasak lepas dari buaya masuk ke cengkram harimau!.

Pendidikan budi pekerti – budhi artinya ilmu dan pekerti artinya tingkah laku. How to behave?. Sudah sejak zaman dahulu kala nenek moyang kita mengajarkan dengan sangat baik yaitu, sax sax Lombox. Harus lempeng. Untuk dapat menjadi orang lempeng maka harus berilmu sebab terbukti tanpa ilmu anak bangsa ini hanya menjadi bahan eksploitasi makelar.
Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

9 Comments

  1. ari says:

    anda di angkor wat sanak??

    • Hazairin R. Junep says:

      tidak menetap tetapi berbagai objek dan kota di ASEAN, saya insyaallah kembali ke Angkor Wat bulan Mei. salam

  2. Sandi says:

    Truskanlah usaha semeton buat mndidik dan mmbuka mata batur sasak sak ndek man ngase.

  3. bach hariyanto says:

    Salut atas usahe pelinggh,tiang turut prihatin leq semeton2 sak merantau,hampir2 telang identitas kesasak-nya…..

  4. D'perindu Queen says:

    sasak selalu di hati,,,

  5. pasek arianta says:

    Point sama sekali tidak dimengerti anda mau menjelaskan pakaian atau mencela orang baikx ada paparkan saja pakaian sasak menurut penelusuran anda maaf apakah apakah anda budayawan? belajar lebih banyak ya maaf sy betul bingung dg tulisan anda

  6. pasek arianta says:

    Point sama sekali tidak dimengerti anda mau menjelaskan pakaian atau mencela orang baikx ada paparkan saja pakaian sasak menurut penelusuran anda maaf apakah apakah anda budayawan? belajar lebih banyak ya maaf sy betul bingung dg tulisan anda

  7. Hazairin R. JUNEP says:

    Pasek Arianta yth. terimaksih atas masukannya. saya bukan budayawan. Saya banyak belajar sampai ke ujung dunia agar tidak jadi manusia bingung, meskipun saya sudah keliling dunia untuk belajar dan belajar tetap saja saya tidak tidak tahu apa apa. Itulah sebabnya saya menuliskan pandangan saya dengan cara paling sederhana seperti yang Anda baca. Saya sangat suka belajar dan oleh karena itu saya bersedia menjadi murid Anda, mohon tuntunannya. terimaksih. Salam dan maaf.

  8. Hazairin R. JUNEP says:

    Pasek Arianta yth. terimaksih atas masukannya. saya bukan budayawan. Saya banyak belajar sampai ke ujung dunia agar tidak jadi manusia bingung, meskipun saya sudah keliling dunia untuk belajar dan belajar tetap saja saya tidak tidak tahu apa apa. Itulah sebabnya saya menuliskan pandangan saya dengan cara paling sederhana seperti yang Anda baca. Saya sangat suka belajar dan oleh karena itu saya bersedia menjadi murid Anda, mohon tuntunannya. terimaksih. Salam dan maaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *