Pelatihan Pembuatan Kompos di Pabrik POG Binaan KS IPEBI
May 17, 2012
KS dan BI Mataram Latih Perajin Tenun Tradisional
June 12, 2012

1001 SAPI

Hazairin R. Junep


Seoul, Republik Korea (www.sasak.org) Memasuki daerah demarkasi militer (demarcation military zone) yang membelah Korea menjadi Republik Rakyat Demokratik Korea yang beribu kota di Pyong Yang dan beraliran Sosialis komunis dan Republik Korea yang kapitalis, beribukota di Seoul, terbentanglah satu jembatan yang disebut jembatan Sapi. Dilarag memotret apapun diwilayh itu. Di beberapa ruas jalan terbentang diatasnya iklan besar berwarna hijau, bertuliskan DMZ. Itu bukan baliho biasa, didalmnya ada berton bahan peledak yang sanggup menghentikan serang an tanki dari utara sehingga penduduk bisa melarikan diri sementara jalan diledakkan. Itu dirancang setidaknya tersedia waktu 3 jam untuk penyelamatan. Saya memasuki zona terlarang itu dengan prosedur birokrasi rumit. Kalau terjadi pengurangan jumlah penumpang atau sebaliknya maka proses harus dimulai dari awal. Keadaan sangat lengang dan desa terdekat dengan perbatasan dihuni 200 orang petani Korsel sedang disisi lain berdiri bangunan kota palsu Korut untuk propaganda seolah disana ada penduduknya.
Saya berbicara panjang lebar dengan sopir yang mantan guru bahasa Korea, bahwa perpecahan itu sangat menyedihkan karena banyak keluarga yang terpisah sejak adanya perang saudara itu. Ia berkata bahwa orang Korut tidak bersalah karena mereka adalah korban. Kami ikut bersalah dengan keadaan ini. Saya sangat terharu bahwa orang Korsel merasakan betul kepedihan saudaranya di utara. Sebagai sahabat kedua Korea itu saya telah berkoresponden cukup lama baik dengan Pyong Yang maupun Seoul. Saya bahkan mempelajari Jucheisme yag disusun sebagai panduan hidup bangsa Korut oleh regim Kim Il Sung. Perpecahan itu sudah pasti disebabkan oleh kekuatan asing utamanya dimasa perang dingin. Utara bersama Rusia dan China yang selatan nempel USA.
Bicara sejarah akan sangat panjang tetapi saya sangat tertarik dengan jembatan sapi itu. Tentu semua sudah mengerti perusahan Hyundai Kia yang menduduki peringkat 4 industri otomotif dunia. Tapi sedikit yang tahu tentang siapa yang membangun perusahan besar itu. Tanah Korea itu tidak lebih baik dari tanah di Indonesia tengah dan timur seumpama daerah tadah hujan saja. Tapi berkat kerja keras mereka bisa panen dan hidup dari biji bijian. Seorang anak lelaki bernama Chung Ju –Yung lahir di tanah itu pada zaman pendudukan Jepang, tahun 1915. Keadaan sangat prihatin, CJY dan keluarganya hidup dalam kemiskinan berat. Sebagai anak tertua dari 6 bersaudara, ia ingin menjadi guru. Sayang cita cita itu tak tercapai karena mereka terlalu miskin. Namun demikian setiap ada waktu sela ia selalu hadir di sekolah konfusius yang dikelola kakeknya.

Usia 16 tahun ia lelah jadi orang miskin maka ia minggat menembus jalur lembah dan gunung yang sangat sulit sejauh 15 mil. Bersama seorang kawan ia bekerja di bangunan, sayang setelah bekerja 2 bulan ayahnya tahu keberadaannya dan dijemput pulang. Kedua kalinya ia dan dua kawan melarikan diri, sayang ketahuan sepupu dan tertipu orang tak dikenal yang mengambil semua uangnya. Ayahnya menemukan mereka menginap di rumah kakeknya.==
Setahun dia tinggal bersama keluarga dan ketika tugas selesai ia berhasil melarikan diri dengan naik kereta api setelah mencuri dan menjual seekor sapi ayahnya. Ia langsung mendaftar sekolah tata buku karena ingin membangun karier sebagai akuntan. Dua bulan berjalan mulus lalu ayahnya menemukan dia lagi. Setelah berdebat sengit akhirnya ia pulang lagi ke kampungnya.

1933 saat usia 18, Ia minggat untuk ke 4 kalinya dengan seorang kawan yang lari dari kawin paksa. Sesampai di Seoul ia kerja serabutan dan akhirnya diterima sebagai pengantar ditoko beras. Disitu ia dapat kamar dan akhirnya memutuskan bekerja tetap. Keberhasilannya dalam bekerja dipuji majikan dan dalam 6 bulan ia dipercaya sebagai akuntan. Pengalaman sebagai akuntan itu mebangkitkan indera bisnisnya. Pada tahun 1937 pemilik took sakit sakitan dan menyerahkan usahanya kepada si Chung itu. Usahanya sangat emnguntungkan sampai 1939 dan ketika Jepang masuk semua beras di rangsum dan habislah took itu. Namun Chung membawa uang pulang ke desanya. Ia tinggal disana setahun lalu pergi lagi ke Seoul. Tidak kurang akalnya meskipun Jepang sangat ketat mengawasi bisnis, ia membeli bengkel mobil dari kawannya dengan uang pinjaman sebesar 3000 won. Dalam 3 tahun usahanya pesat dari 20 karyawan menjadi 70. Usahanya sangat menguntungkan tapi Jepang memaksanya bergabung dengan perusahan baja untuk kebutuhan perang. Iapun berhasil dengan susah payah pulang dengan uang 50.000 won.

1946 Korea lepas dari kekuasaan Jepang dan Chung membangun Hyundai. Setelah invasi Korut 1950 ia bersembunyi di Busan dan bisnis serabutan. Setelah PBB menguasai Seoul, ia membangun kembali bisnisnya dan mendapat kontrak baru dari Amerika. Ia mendapat banyak kontrak dari pemerintah, 1967 membangun Dam Soyan. 1970 membangun jalur kereta api ekspres, dan pusat nuklir Korea. Berkat adiknya yang bisa berbahasa Inggris ia dapat kontrak istimewa dari militer USA. Tahun 1980 terjadilah kelapan di Korut, Chung mengirim 1001 sapi untuk membantu. Sebagai olok olok, orang mengatakan bahwa ia ingin mengganti sapi yang dicuri dari ayahnya saat usia 18 tahun dahulu. Ia seorang filantropis; pecinta kemanusiaan dan menjadi orang kepercayaan presiden Kim untuk mengurus tugas rahasia menolong Korut. Ia membawa uang 100 miliar dolar dari presiden Kim dan 500 sapi dengan iringan kendaraan sebagai tanda unifikasi Korea saat ia berusia 84 tahun. Dialah yang melobby sehingga Korea Selatan menjadi tuan rumah Olimpiade 1988. Chung Ju –Yun, meninggal dunia pada usia 86 tahun dikebumikan dengan tradisi Budis dan konfusinis.

Saya merasakan energy dahsyat si Chung saat saya memasuki perlintasan jembatan sapi yang ia bangun dengan cinta yang luar biasa kepada anak bangsanya. Saya menitikkan airmata didalam terowongan yang digali 75 meter dibawah tanah kearah Seoul oleh regim utara untuk menyerang dan membumi hanguskan Korsel. Tidak hanya satu terowongan tetapi 4, karena mendiang presiden Kim Il Sung percaya bahwa nuklir kurang cepat dibandingkan dengan 35.000 pasukan sekali terobos!. Meskipun demikian Si Chung datang sendiri mengantarkan sapi dan uang untuk saudara saudaranya karena didalam keberhasilan dia, ada bagian untuk keluarga besarnya nun diutara sana.
Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *