Sastra Kanak Sasak: Cinta lombok kuala lumpur-5

KS dan BI Mataram Latih Perajin Tenun Tradisional
June 12, 2012
Komunitas Sasak Kenalkan Presean di Dahsyat RCTI
July 28, 2012

Sastra Kanak Sasak: Cinta lombok kuala lumpur-5

Assalamualaikum…..

Menara kembar petronas sangat jelas menjulang terlihat dari kilang tempat aku bekerja. Setiap aku melihat dua menara itu, aku merasa malu. Tidak menulis membuatku tertekan, dan angan-angan tentang cita-cita yang sering aku gembor-gemborkan dalam suratku terdahulu seperti membakar hatiku. Hari-hariku jadi kurang lepas, seakan ada beban pekerjaan yang belum tuntas aku kerjakan. Setidaknya aku harus layangkan sebuah surat terakhir, seperti layaknya dessert santapan penutup dalam gaya makan para mat saleh (bule). Berkali-kali Nawawi menanyakan mengenai kelanjutan suratku, juga teman-temannya yang aku tidak kenal. Ini juga membuatku merasa harus bersurat lagi. Setidaknya untuk yang terakhir kalinya.

Bisa jadi ini adalah suratku yang terakhir. Tidak saja karena aku kesulitan mendapatkan inspirasi baru tentang bahan yang pantas aku bagi, namun juga susah bagiku untuk terus menerus menulis begini tanpa mendapatkan jawaban. Aku ini bukanlah Gibran yang surat-surat cintanya kepada belahan hatinya layak terabadikani dalam sebuah buku cinta. Aku juga tidak setangguh Garret dan tiada henti bersurat kepada Catherine dalam imajinasi Nicholas Sparks di novel pesan dalam botol (Message in a bottle).

Keyakinanku bahwa teknologi informasi akan mudah menjangkaumu, ternyata tidak seperti yang aku bayangkan. Bisa jadi engkau sudah tahu, namun belum yakin bahwa aku ini benar-benar suamimu. Cukup masuk akal sebenarnya, karena sebelum ke Malaysia aku hanya seorang buruh tani, di Kualalumpur juga jadi buruh kilang, tiba-tiba berlagak sok sastrawan yang bersurat layaknya di zaman kertas dan daun lontar. Ustadz Rahmat bilang, sekarang ini sudah zamannyalayar sentuh (touch screen). Segala hal bisa dikirim dalam sekejap mata melalui serat optik, bukan lagi zaman tulis-menulis di atas kertas semacam ini. Sekarang adalah zaman teknologi komunikasi menggunakan telepon genggam dan internet. Surat-menyurat seperti ini sudah kuno, kolot dan obsolete. Anak-anak muda sekarang ber asyik-masyuk dengan gadget keluaran terbaru. Cukup dengan pesan singkat (sms), tcukup bahasa alay ak butuh bahasa baku menurut ejaan yang disempurnakan yang dahulu kita pelajari di bangku sekolah. Banyak lagi yang aku dengar anak-anak muda ramai perbincangkan, facebook, tweeter, BBM, dan lain-lain yang tak mampu kusebut satu persatu.

Surat ini seharusnya aku tulis dengan riang gembira. Karena jika aku tidak mau lagi bersurat seperti ini, aku akan bersurat dengan cara lain seperti layaknya orang-orang di zaman mutakhir. Di satu sisi aku merasa senang karena, apa yang sudah kucapai jauh dari yang saya harapkan. Dengan bantuan teman-teman Nawawi, suratku bisa tersiar ke seluruh penjuru mata angin. Aku senang bisa menumpahkan sebagian perasaanku, sebagian pikiranku dan pencerahan kecil yang aku dapatkan selama merantau di Malaysia. Nawawi bilang, banyak yang membaca surat-suratku, dan tidak sedikit yang berharap aku terus menulis. Katanya, surat-surat tersebut dapat tersimpan di internet dalam waktu yang lama sehingga bisa jadi anak-anak kita nani juga berkesempatan membacanya.

Tidak lagi menulis bukan berarti harapanku telah pupus, seperti yang kamu tahu bahwa sikap optimisku tidak pernah surut sedikitpun, meskipun aku pernah menjalani periode surut. Keberanianku untuk berbagi dalam surat-surat sederhana ini merupakan bagian kecil wujud  keyakinanku bahwa seiring dengan waktu kita akan menuju ke situasi yang membaik. Pengalaman bersurat membuatku semakin meyakini bahwa seburuk apapun kondisi yang kita jalani, hidup itu tetap indah. Tekanan dan terpaan masalah mengasah kemampuan kita untuk melihat relung-relung kebahagian yang sebelumnya tersamar karena obsesi kita akan bentuk lain yang tidak mampu kita raih. Niat tulus dan perbuatan baik tidak serta-merta berakhir indah dalam sekejap. Waktu akan menjawab semuanya, dan pada saatnya nanti kita akan memanen semua yang kita tuai selama ini. Semua akan terbayar pada waktunya. Kita harus bersyukur dengan nikmat yang kita peroleh, bukan menghabiskan masa untuk berharap berlebihan mengenai apa yang dimiliki oleh orang lain.

Aku tidak akan pernah berhenti untuk menyatakan syukurku pada Rab karena mempertautkan hati kita sebagai pasangan hidup. Aku bersyukur karena engkau adalah sebaik-baik madrasah bagi anak kita yang menanamkan nilai luhur kepada mereka sebagai bekal hidup bagi mereka. Kesempatanmu yang penuh untuk bercengkrama dengan anak kita sering membuatku cemburu, meskipun aku selalu tahu bahwa betapapun baiknya aku sebagai ayah, kasih sayang engkau ibunyalah yang utama bagi mereka.

Aku sudah tidak mampu lagi menuaikan kalimat cinta dalam suratku ini. Namun, setiap aku merasa bahwa aku telah memberikan cintaku sepenuhnya, perasaan cinta yang aku terima darimu membuatku harus menggali bejana cintaku lebih dalam lagi. Di tengah malam ini, bulan penuh purnama nisfu sa’ban, malam dimana amalan manusia diangkat dan doa mereka diijabah, aku bermunajat kepada Rabb agar aku jatuh cinta lebih dalam lagi, jatuh lebih jauh menuju cinta yang terdalam.

Salam kangen,

Suamimu

1 Comment

  1. @lmjaelani says:

    Ini edisi terakhir rupanya @mbahopik http://t.co/9PMs2jSZ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *