Memaknai Ungkapan-Ungkapan Tradisional Sasak di Lombok

Membangun NTB Dengan Waqaf 1000 Rupiah, Mungkinkah?
December 31, 2012
Kebiasaan Sebagian Orang Jepang Menyambut Tahun Baru
January 3, 2013

Memaknai Ungkapan-Ungkapan Tradisional Sasak di Lombok

Oleh : Lalu Pangkat Ali

Lalu Pangkat Ali

Lalu Pangkat Ali

[Sasak.Org] Berbagai ungkapan tradisional yang diinventarisir ini, mengandung unsur ajaran yang bermakna. Pada setiap ungkapan, selalu disajikan cerita rekaan untuk memperjelas maknanya. Cerita, diketengahkan secara fiktif. Tidak ada niat untuk mengisahkan kisah seseorang dalam nama tokoh. Ini terungkap secara kebetulan dan tidak disengaja. Berikut beberapa ungkapan tradisional suku Sasak.

Adeq te tao jauq aiq (Supaya kita dapat membawa air):

Ungkapan ini mengandung makna bahwa, dalam suatu perselisihan/pertengkaran yang memanas, kita mampu menjadi pendingin. Dalam ungkapan ini pula, diumpamakan sebagai pembawa air, karena air memiliki sifat pembunuh api. Jika suatu pertengkaran menjadi panas diumpamakan seperti api, maka airnya adalah orang yang memberi nasihat, sehingga mereka yang sedang panas hati karena bertengkar menjadi dingin.

Untuk memperjelas, disajikan cerita rekaan: Icok dan Imok sedang bertengkar ramai sekali, disaksikan beberapa teman. Pertengkaran itu muncul karena, Icok dikira telah merebut pacar Imok. Pada saat mereka bertengkar, kemudian lewatlah Inaq Minok. Setelah mengetahui duduk persoalannya, Inaq Minok kemudian menasihati kedua gadis itu. “Dik Icok dan Imok, pertengkaran ini hanya salah faham dan praduga. Untuk itu kalian supaya rukun kembali dan saling memaafkan”. Rupanya nasihat Inaq Minok dapat dipahami kedua gadis yang baru saja usai bertengkar. Keduanya langsung menjadi dingin dan akhirnya saling memaafkan.

Dalam contoh cerita di atas, Inaq Minok disebut tao jauq aiq, bisa membawa air yang mendinginkan suasana panas karena pertengkaran.

Asaq ngompal bawon aiq (Batu asah terapung di atas air) :

Ungkapan ini menggambarkan suatu pengharapan yang tidak mungkin terpenuhi, karena keadaannya memang tidak memungkinkan. Hal ini tampak dari penggunaan perumpamaan batu asah. Benda ini jelas tidak mungkin terapung di atas air, tapi harus tenggelam karena berat.
Ungkapan ini ingin menggambarkan suatu perbuatan yang sia-sia. Orang yang mengerjakan suatu yang tidak sesuai dengan keadaan, baik berupa materi, kecakapan, pangkat dsb. Ungkapan ini memilih perumpamaan dengan batu asah, sebab pada masyarakat pedesaan, asah merupakan peralatan kebutuhan sehari-hari mereka. Biasanya setiap rumah punya asah, dan untuk memelihara asah ini biasanya direndam dalam air. Dan pasti tenggelam, tidak ada yang mengapung.

Contoh cerita rekaan:

Amaq Iying, seorang buruh tani, tinggal disebuah desa. Penghasilannya sangat kecil. Untuk memberi makan keluarganya yang berjumlah lima orang, ia sering kekurangan, apalagi kebutuhan lainnya seperti sandang. Soleh, anak sulung Amaq Iying sudah menjadi remaja dan pergaulannya luas, terutama dengan anak-anak orang mampu. Karena pergaulan seperti itu, Soleh bergaya seperti anak orang mampu baik cara berbusana dan gaya hidupnya berpoya-poya. Orang tuanya sering dipaksa memenuhi kebutuhannya. Karena sayang anak, Amaq Iying memenuhi kebutuhan Soleh, meskipun dengan cara susah payah. Akhirnya, Soleh juga minta dibelikan sepeda motor. Mendengar permintaan yang berlebihan itu, si ayah terkejut. Mana mungkin orang tua yang miskin papa itu bisa mengabulkan permintaan Soleh. Pertengkaran pun terjadi.

Seorang tetangga yang mendengar peristiwa itu berkomentar seputar permintaan Soleh dengan ungkapan: “Asaq ngompal bawon aiq”. Sangat mustahil.

Bareng anyong jari sejukung (Bersama-sama lebur jadi seperahu) :

Ungkapan ini mengandung makna senasib sepenanggungan. Di sini digunakan perumpamaan seperti orang dalam satu perahu. Kalau perahu itu mengarungi lautan, maka orang-orang dalam perahu itu akan senasib sepenanggungan. Apa yang dialami selama mengarungi lautan, akan ditanggulangi bersama.

Ungkapan ini biasanya ditujukan sebagai nasihat dalam berumah tangga atau hidup bermasyarakat. Untuk memperjelas, disajikan cerita fiktifnya: Maman dan Mimi adalah sepasang suami istri. Awalnya mereka hidup rukun dan bahagia, namun belum sampai setahun berumah tangga, cobaan terus menimpa. Mimi sering sakit dan memerlukan pengobatan. Untungnya Mimi tekun mencari nafkah untuk hidup mereka. Tapi Maman belum dapat pekerjaan tetap, hidup mereka menjadi serba susah. Makan sehari pun kadang susah diperoleh. Kesulitan mereka semakin parah, karena Maman tidak mau berusaha mengatasi kesulitan rumah tangganya. Pertengkaran pun tidak bisa dielakkan.

Hal ini diketahui oleh mertua Mimi, orang tua Maman : “Sekarang kalian sudah menjadi suami istri. Artinya, kalian berdua harus membangun rumah tanggamu sendiri secara bahu membahu. Susah senang harus dirasakan dan ditanggulangi bersama. Seperti kara orang sasak, bareng anyong jari sejukung” Mendengar nasihat itu, suami istri itu akhirnya menyadari kekeliruannya dan berjanji untuk membina, mengatasi bersama segala kesulitan.

Bodo-bodo tokoq, belok nyenyedaq (Bodoh-bodoh tokoq (jenis ikan), bodoh merusak):

Kelihatannya bodoh, tapi kebodohannya itu merusak. Ungkapan ini mengandung makna bahwa, anak yang tampaknya bodoh dan pendiam, tapi ternyata tidak patuh pada orang tuanya.
Dalam ungkapan ini, sifat seperti itu diumpamakan sebagai ikan tokoq. Ikan tokoq adalah sejenis ikan air tawar. Ikan ini sangat jinak, bisa ditangkap dengan mudah. Tapi ikan ini bisa melukai karena senjata pada siripnya. Ia juga memiliki kulit yang licin.

Ungkapan ini biasanya ditujukan kepada anak gadis yang kelihatan pendiam, tapi ternyata tak patuh kepada orang tuanya. Bisa juga ditujukan kepada orang yang pendiam dan tampak penurut, tapi melakukan perbuatan yang menyulitkan orang tuanya.

Untuk memperjelas ungkapan ini, disajikan cerita : Haji Dullah mempunyai anak gadis bernama Fatimah dan suka pendiam dan pemalu. Karena itulah orang tuanya mencarikan jodoh untuknya. Orang tuanya menginginkan jodoh dengan seorang pemuda yang taat beribadah, berbudi pekerti baik, memiliki pekerjaan tetap dan bertanggung jawab. Alhasil Fatimah dikawinkan dengan seorang misan dan tak ada kesulitan keluarga kedua belah pihak untuk mengawinkan kedua remaja itu. Namun tak disangka, Fatimah merariq (kawin lari) dengan seorang pemuda lain pilihannya sendiri. Orang tuanya sangat kaget setelah mengetahui Fatimah merariq dengan seorang pemuda pengangguran dan akhlaknya tidak baik.
Orang sekampung yang mengetahui kejadian itu mengatakan, sifat Fatimah yang pendiam dan pemalu berkomentar : “Iya aran kanak bodo tokoq, belok nyenyedaq” artinya, itu namanya anak bodoh bodoh tokoq, tapi merusak. Ungkapan ini mengandung ajaran, seorang anak pada dasarnya harus patuh kepada orang tua.

Endaq ampahang simbur paleng (Jangan remehkan lele pingsan) :

Ungkapan ini mengandung makna, jangan meremehkan hal-hal yang nampaknya sepele, tapi harus selalu waspada. Dalam ungkapan ini diumpamakan sebagai lele pingsan. Lele adalah jenis ikan yang memiliki pantek/saeng. Lele yang pingsan, jangan dianggap tidak berbahaya, sebab sewaktu-waktu bisa sadar lalu menyengat/memantek. Ungkapan ini sebagai nasihat, agar kita selalu waspada. Untuk jelasnya, disajikan cerita rekaan :

Pak Jemang memiliki sawah yang cukup luas. Untuk mengerjakannya memerlukan pembantu. Ia lalu mengajak Sidik, seorang pemuda pengangguran dan sering keluar masuk penjara karena kasus mencuri. Maksud Pak Jemang, agar Sidik punya pekerjaan dan kesibukan. Dengan pekerjaan dan penghasilannya itu, Sisik bisa bertaubat dan menjadi orang baik-baik.

Saat itu pula seorang tetangga yang kebetulan lebih tua dan berpengalaman menasihati Pak Jemang: “Endaq ampahang simbur paleng” Mendengar nasihat tersebut, tahulah pak Jemang bahwa ia harus waspada. Walaupun nampaknya Sidik orang baik-baik, tetapi tetap harus waspada.
Ungkapan ini mengandung ajaran, agar kita selalu waspada, lebih-lebih kepada orang-orang yang sudah kita kenal tabiatnya kurang baik.

Ulah mandi isiq bisana (Ular bertuah oleh bisanya (racunnya):

“Ular bertuah oleh bisanya”, ungkapan ini mengandung arti bahwa, seseorsng itu berharga atau berguna karena ilmunya. Dalam ungkapan ini diumpamakan sebagai ular dengan bisanya. Makin keras bisa ular, makin ditakuti. Maksudnya makin berilmu seseorang, makin dihargai dan disegani.
Ungkapan ini biasanya digunakan untuk melukiskan seseorang yang disegani dan dihargai karena kepandaiannya, untuk dapat dijadikan contoh dan anak-anak muda yang sedang dalam usia menuntut ilmu.

Untuk jelasnya, disajikan cerita : Ali, seorang pemuda. Di desa tempat tinggalnya, ia banyak membantu kepala desa dalam usaha membangun desanya. Kepada orang-orang tua, Ali selalu menaruh hormat. Banyak warga desa yang senang dan berkunjung ke rumahnya untuk menyatakan berbagai hal. Dalam setiap kesempatan musyawarah desa, Ali selalu diundang untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat. Ini disebabkan karena Ali pemuda yang berpendidikan dan banyak pengetahuan, sehingga mampu memberikan sumbangan pikiran kepada masyarakat. Karenanya orang-orang tua pun menghargai dan menaruh hormat kepadanya. Kemampuan Ali yang demikian itu digambarkan sebagai Ulah mandi isiq bisana.

Menurut ilmu, untuk meningkatkan martabat manusia adalah salah satu nilai kemanusiaan yang perlu dijunjung tinggi.

Demikian beberapa ungkapan tradisional suku Sasak. Masih banyak lagi ungkapan lain yang belum tersaji. Pada kesempatan lain akan dibahas lagi. Semoga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *