Potret Buram Sepenggal Firdaus
April 21, 2013
Biogas Bunmundrak Ikut The 5th Annual Global CSR Summit 2013 di Filipina
April 23, 2013

Pahlawan Anggun di Negriku

Firman Pensil

Firman Pensil


Dia adalah satu di antara berjuta mutiara elok di samudra negeriku yang bernama Indonesia, dia adalah pendekar satria bagi geliat kebangkitan kaumnya, kaum hawa.
Kartini namanya.
Dia tak berjuang lewat tajamnya mata pedang, tapi dia berlaga sebagai satria bagi kaumnya lewat aksara di ujung pena.
Dia bagai secercah cahaya di saat gulita, sebagai pencerah dari keterpurukan pendidikan bagi kaum wanita.
Kenapa gelar pahlawan perempuan mesti disematkan pada Kartini, padahal teramat banyak para serikandi di negeri ini yang menorehkan jasa?
Salahkah predikat itu kita sematkan?
Secara nalar yang dangkal saya tak ingin menyangkal, karena Kartini lah titik balik kebangkitan kaum wanita Indonesia secara intelektual, yang menorehkan segala ide dan asa citanya lewat tulisan, yang dapat kita baca dan nikmati secara jahir ataupun sirr sampai sekarang.
Namun, selayaknya sebagai bangsa yang berbudaya dan menghargai para pahlawannya, kita tidak terjebak mengkultuskan sosok pahlawan tanpa menghargai idenya sebagai suatu cita-cita luhur, yang mesti diemban dan diteruskan tanpa harus menanggalkan kodrat kewanitaan ataupun harkat kemanusiaan berlandaskan aturan Tuhan.
Emansipasi yang ditiupkan oleh ruh juang Kartini pada jiwa-jiwa perempuan kita saat ini sejatinya adalah ruh kebangkitan pada titik nilai-nilai kodrati sebagai insani, nilai kodrati sebagai putri srikandi, bukan sebagai sabda pandita ratu tanpa aturan dan batasan.
 
Kartini,,
dia adalah salah satu lentera diantara beribu cahaya dari jutaan sinar yang memancar dari binar aura jasa para wanita.
Yach, terlalu banyak,
terlalu banyak untuk kita sebutkan,
tentang para wanita yang menoreh jasa bagi bangsa.
Seperti para srikandi yang binasa dimedan laga, Cut Nyak Dien, Cut Muthia dan banyak lagi yang telah bersimbah darah demi bumi Indonesia tercinta.
 
Begitupun mereka,
para wanita yang jarang tercatat dalam kamus kepahlawan kita juga tak kalah berjasa meski jasanya tak berbentuk, tidak berupa, merekalah pahlawan tanpa tanda jasa,
yang mendidik anak negeri dengan cinta.
Yang mengajar rasa dan akal dengan sepenuh jiwa.
Juga para pahlawan devisa,
mereka bermandi peluh di negeri orang demi devisa negeri sendiri. Mengenyam pahit getir rasa di negeri seberang demi manisnya senyum negeri sendiri.
Begitupun para medis, membalut rasa sakit denyan senyum manis. Menanamkan sugesti kesembuhan dengan rengkuh rangkul kelembutan perawatan.
Dan satu lagi pahlawan perempuan yang super dahsyat darma baktinya, meski tanpa mahkota  tersandang di kepala, tetapi syurga ada di bawah telapak kakinya.
 
Dialah pahlawan kehidupan,
pahlawan kasih sayang,
pahlawan cinta, dan pengorbanan,
 
Tanpa anugrah tanda jasa disematkan,
hanya satu predikat dari Tuhan yang dia emban.
Predikat mulia tanpa plakat ataupun sertifikat, tetapi derajatnya tiga tingkat dibanding ayah.
 
Dialah pahlawan yang biasa kita panggil dengan sebutan ” IBU “.
Selamat hari Kartini.
 
Habis gelap terbitlah terang.
21 April 2013
 
Firman Pensil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *