Cerita Dari Negeri Jiran: Katakan TIDAK untuk Pulang Nyelundup!
April 20, 2013
Pahlawan Anggun di Negriku
April 21, 2013

Potret Buram Sepenggal Firdaus

Firman Pensil

Firman Pensil


“Dalam ranah nusantara yang konon gemah ripah loh jinawi, tongkat kayu dan batu bisa menjadi tanaman, tiada badai, tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimu” sebuah ungkapan lugu yang mengusik bulu perindu, rindu pada masa-masa digdaya dulu.
Yach, sebuah masa yang pernah menjadi kebanggaan mimpi-mimpi anak negeri yang terbuai lelap dalam halusinasi, silau oleh kemilau zamrud khatulistiwa, kala itu.
Sebuah masa dimana kita kaya oleh hutang-hutang di dunia maya, dimana para jelata tak mengerti bahwa bendera mereka tergadai demi menjulangnya tiang bendera dari batang pohon yang kian rapuh.
Dan kini, disaat mata mulai terjaga, ternyata pagi telah meninggi. Derap reformasi telah bangunkan kita dari mimpi.
Semua terperanjat, terkesiap, bahkan ada yang tergagap tidak siap kala dibangunkan dari tidur lelap.
Mentari telah meninggi, laju reformasi telah kita lewati, dan ternyata mimpi tak mampu kita beli.
Disini, di ranah subur makmur ini, ternyata masih banyak ketimpangan menggores ulu hati, melukai sanubari.
Pemerintah sibuk berbagi jatah,
politisi sibuk dalam laga uji taji dengan cara yang keji,
media publik tak lagi apik, kecuali bagi pemilik saham beritanya pasti simpatik.
Anak negeri kocar kacir mengais ilmu, di sisa rongsokan bangunan sekolahnya yang rubuh kala Subuh.
Telat sampai di sekolah, hukuman telah menanti, padahal jalan dan jembatan menuju sekolah belum diperbaiki, padahal kemacetan di jalan juga jadi hambatan.
Yach, mungkin dengan alasan agar anak negeri belajar kedisiplinan, tapi mengapa disaat ujian nasional datangnya terlambat tidak ada hukuman?
Semua bingung, tak tahu siapa yang mesti dihukum, karena yang salah adalah si pembuat hukum.
Banyak hal memang yang membuat hati kita kian jenuh, seperti raga yang kehilangan ruh.
Di dunia politik kita dipertontonkan adegan-adegan kejam, kadang memilukan kadang juga memalukan, sehingga rasa kasih kita kehilangan makna.
Iklan mesra dan sinetron laga lebih meresap jiwanya daripada dunia pendidikan yang mengutamakan target nilai semata, sehingga perlahan hati kita kian kehilangan cinta.
Secara tidak sadar kita telah kehilangan ruh cinta. Ruh cinta negeri, ruh cinta sesama, ataupun ruh cinta semesta.
 
Kehilangan ruh dari cinta inilah yang membuat dunia politik terlihat kejam.
Kehilangan ruh cinta membuat anak negeri sibuk tawuran.
Kehilangan ruh cinta membuat rakyat apatis terhadap pemerintahnya, dan pemerintah terlihat sinis pada rakyat jelata.
Kehilangan ruh cinta inilah yang membuat kita kehilangan semangat kerja membangun bangsa.
 
Dari itu,
 
Sudah saatnya rasa cinta itu kita pupuk kembali, kita sirami dengan kejernihan hati, bersama bekerja membangun negeri agar negeri kian harmoni.
Mari bekerja dengan penuh cinta.
Yach, harmonisasi cinta dan kerja, merupakan penyelarasan rasa, karsa, cipta dan karya.
cinta itu adalah rasa, sedang kerja itu adalah penyatuan karsa dan cipta sehingga terwujudlah sebuah karya.
Keselarasan atau keharmonian antara cinta dan kerja inilah yang menjadi cikal kekuatan dahsyat dan bekal membangun bangsa, agar sepenggal firdaus tewujud di bumi jamrud khatulistiwa ini, semoga.
 
Wallahu’alam
 
Firman Pensil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *