Pantun Sasak: Lalu Lintas
June 23, 2013
Malu mengeluh
July 4, 2013

Ngurek

Zulkipli, SE, MMSebuah tradisi disebagian wilayah lombok, utamanya lombok selatan. “Ngurek” biasa masyarakat menyebutnya. Di daerah lain sepertinya banyak juga. Yaitu menekan-nekan, mengiris-iris bagian tubuh dengan keris, kelewang, atau benda tajam lainnya.
Untuk daerah lombok selatan. Ngurek menjadi “seperti” kewajiban untuk dipertontonkan ketika ada nyongkolan, diiringi dengan irama gedang belek, kecimon, atau ale-ale, ngurek dipertontokan dengan wajah penuh “aura” kesombongan.
Tidak sedikit ngurek yang memakan korban. Ceritanya banyak juga orang lombok yang pandai membuka “kekebalan” orang yang ngurek. Seperti yang pernah terjadi di Kediri Lombok Barat. Orang yang ngurek harus dilarikan ke rumah sakit karena keris yang ditancapkan ke perutnya ternyata benar-benar tertancap.
Mendapatkan ilmu kekebalan seperti menjadi tradisi di sebagian masyarakat sasak. Saat menginjak usia sekolah menengah atas, penulis juga pernah akan melaksanakan ritual tersebut. Tetapi beruntung dilarang oleh ibu. Memasuki umur belasan, orang tua yang terbiasa melaksanakan tradisi “kekebalan” itu melewati ritual yang entahlah, prosesnya seperti apa.
Salah seorang perawat rumah sakit di praya bercerita kalau dia sering merawat remaja yang terluka akibat sabetan pedang atau tusukan keris. Ketika ditanya, ternyata itu adalah bekas latihan bukan karena perkelahian.
Salah seorang teman penulis yang dia adalah dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Mataram pernah juga mempertontonkan keahliannya ngurek di depan orang banyak. Ngurek ternyata untuk sebagian besar golongan.
Yang ingin mempelajari ngurek dan mencobanya, sebaiknya jangan. Mendik kita ngurek kue tar kemudian kita makan dengan lahap atau bagikan ke anak panti asuhan.

2 Juli 2013,

Zulkipli Amaq Nune

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *