Asal Muasal Desa Kopang

Inaq Nurhayati, Seorang Sarjana Wanita Pemecah Batu
November 25, 2013
Reno, Dalang Cilik Generasi Penerus Mamiq Nasip
November 26, 2013

Asal Muasal Desa Kopang

Oleh: Lalu Pangkat Ali

Lalu Pangkat Ali

Lalu Pangkat Ali

[Sasak.Org] Sangat saya sadari, betapa sedikitnya pengetahuan saya tentang asal muasal desa Kopang. Karena, selain umur yang masih ‘bau kencur’ tapi saya selalu ingin jujur, betapa besarnya keinginan saya untuk mengetahui asal muasal desa kelahiran saya ini. Akhirnya, rasa keingintahuan yang dibalut penasaran menjulang, saya temukan informasi, kendati mungkin informasi ini menyimpang dari sasaran sebenarnya. Namun inilah realitasnya.

Realitas ini saya lakukan dengan melakukan perbincangan, dialog dengan seorang tokoh panutan asal Dusun Renggung, Desa Kopang kecamatan Kopang. Beliau adalah Lalu Syafii (sekarang, pembaos beliau terbata-bata karena faktor umur dan uzur). Perbincangan kami beberapa tahun lalu itu memakan waktu sekitar dua jam lamanya. Saat itu perbincangan kami berjalan lancar, ucapan beliau tidak terbata-bata, karena saya yakin beliau masih sehat bugar secara fisik, tidak seperti sekarang ini.

Dialog berlangsung dalam bentuk kupasan seperti di bawah ini. Sebagai kata pembuka dari perbincangan itu, saya awali dengan pertanyaan; ”dari mana sebenarnya asal desa Kopang?”

Menjawab pertanyaan itu, pada suatu ketika dan pada suatu acara, kata Lalu Syafii, pernah berlangsung percakapan tiga orang budayawan. Mereka masing-masing, Lalu Syafii dari Desa Kopang, Lalu Mungguh (Almarhum) dari Kota Mataram dan Gde Parman (Almarhum) dari Lombok Barat. Mereka bertiga terlibat percapakan, berselisih pendapat, apa dasarnya kok ada Kopang?

Dalam percakapan tersebut, mereka bertiga mengetengahkan argumentasi dan pendapat dengan versinya masing-masing. Almarhum Lalu Mungguh mengeluarkan pendapat bahwa, konon katanya, kopang itu berasal dari sebuah kampung di Sumatrea sana yang bernama kampung Kopang. Mungkin karena ada famili atau handai taulan, sehingga ada di antara mereka yang datang ke Kopang ini. Dengan begitu, mungkin ada pendapat dari mereka yang menamakannya Kopang. Begitu pendapat versi Lalu Mungguh.

Sementara Almarhum Gde Parman mengajukan versi yang berbeda lalu Mungguh. Kata beliau, pernah mendengar adanya satu pohon yang namanya pohon Kopang. Tapi pohon tersebut tak diketahui pasti, entah berada dimana.

Pada kesempatan pertemuan itulah, Lalu Syafii menimpali pendapat kedua orang budayawan dengan versi yang berbeda itu. “Baiklah,” kata Lalu Syafii. “Berarti kita semua berbeda pendapat,” lanjutnya. Versi Lalu Syafii sendirilah yang lebih dapat dibuktikan sekarang. Pengakuan itu lebih ditekankan pada pembuktian bersifat monumental. Sementara pendapat kedua almarhum budayawan tersebut, belum diketahui adanya pembuktian.

Dikatakan mantan anggota DPRD Lombok Tengah ini, Kopang itu berasal dari sebuah istilah, ‘kope’ yang berarti ‘unggul’. Cuma ditambah huruf ‘ang’ menjadi ‘Kopang’. Itu menurut kosa kata bahasa Sasak; sesutu yang ditekankan maknanya, lalu huruf ‘e’ yang ada di depannya berubah menjadi ‘a’ ditambah dengan huruf ‘ng’. Jadi, Kopang itu merupakan suatu jawaban pengakuan diri dalam berhadapan dengan orang lain.

Dalam sebuah percakapan, Lalu Syafii mengilustrasikan, “kok beraninya kamu berlaku sedemikian itu? Bagaimana kopenya”?

“O…, Kopang ko!”

Inilah suatu bukti monumentasi. Kalau itu yang dimaksud dengan sumber pembuktian adanya nama Kopang. Bukti lain lagi apa? Ke‘kope’an Kopang itu dibuktikan dengan adanya salah seorang ‘Pepadu Perisean’ (Kopang: Bladukan) yang dilarang oleh pemerintah zaman dulu, hanya berada di Kopang. Pepadu tersebut bernama Bepen Tijah dari Bakan (sekarang kecamatan Janapria).

Memang banyak pepadu kala itu. Tapi kenapa pepadu dari Kopang yang harus dilarang. Alasannya, karena di arena presean, suatu ketika perisean digelar, lawan Bepen Tijah langsung meninggal dunia akibat pukulan dan hantaman penyalin (Rotan) Bepen Tijah. Musuh Bepen Tijah langsung terkapar karena sabetan penyalin mengenai persis semanget (ubun-ubun) kepalanya. Jadi, pemerintah saat itu melarang, “Bepen Tijah tidak boleh lagi turun sebagai pepadu”, demikian kata Lalu Syafii yang saya amini seraya mengangguk-anggukkan kepala.

Bukti lain yang disebutkan Lalu Syafii, jauh sebelum itu, dalam soal peperangan misalnya. Raden Wirecendra dari Preye yang konon katanya begitu ‘kope’, sampai-sampai bisa mengangkat puluhan ton barang hanya menggunakan tangan kiri. Namun toh akhirnya bisa terbunuh oleh pepadu dari Kopang, yaitu Jero Wireseri. Raden Wirecendre terbunuh oleh Jero Wireseri dalam siap puputan (semacam sayembara) di Bodak. Saat itu bertindaklah Preye. Maka diadakan lagi puputan. Maksudnya untuk mencari siapa yang benar dan salah. Kedua pucuk pimpinan ini sudah menyatakan ikrar. Siapa yang salah, dia yang harus mati.

Ketika Preye menyerang Kopang, ternyata yang menjadi korban kala itu, hanya orang-orang Praya. Jadi, Preye sudah merasa salah kaprah. Mereka menyesal untuk menebus korban yang begitu banyak. Akhirnya kedua pucuk pimpinan mengadakan lagi siap puputan. Namun Preye dibawah pimpinan Wirecendra berhasil terbunuh oleh Jero Wireseri.

Itulah suatu monumentasi besar yang membenarkan adanya ‘kope’ yang dimaksudkan adalah ‘Kopang’ itu. Cuma negatifnya komentar Lalu Syafii, karena kenapa tidak dinamakan ‘kope’ saja. “Ya, itu tadi, ‘kopang’nya itu sudah bernada pengakuan diri”, sebutnya. Semestinya orang yang harus mengakui keunggulan lawan, bukan dirinya sendiri. “Itu sedikit negatifnya,” papar lelaki separuh tua itu dengan suara sedikit serak.

Tapi itu wajar ada persoalan keras dan ada ujung-ujung emosi. Seperti yang pernah terjadi, “kita sedang enak-enak tidur, dibakar oleh Preye,” ceritanya sembari memaparkan, Kopang dianggap terlalu membeo ke peperintah Bali kala itu. Dianggap penghianat, sementara Preye saat itu sedang saling intip dan bersitegang dengan pemerintah Bali. “Ini ada riwayatnya,” cetusnya.

Bali setelah menyadari pertikaian wilayah kekuasaan antara suku Sasak saat itu sukar mereda. Dan dinilai bernuansa sara. Lalu pemerintah Bali melahirkan ide. Agar langgengnya roda pemerintahannya, maka, salah seorang putra raja Bali akan dikhitan lalu masuk Islam. Putra satu-satunya ini didapat dari Dende Loyangsari, putri seorang Dende dari Kalijaga yang bernama Datu Pangeran yang akan ditetapkan sebagai raja di Lombok.

Saat itu di Peresak (batas antara Kopang dengan Mantang) diadakan gawe besar. Dalam acara tersebut, sebagai inen gawe (tuan rumah, yang punya gawe) saat itu adalah Mantang dan Kopang. Nah, ketika itu dendamnya Raden Wirecendre terhadap pemerintah Bali masih berkecamuk. Akhirnya dia (Raden Wirecendre) membikin akal dan inisiatif. Pada tengah malam mereka datang kirim surat kepada dua pucuk pimpinan; Kopang dan Mantang. Isi suratnya bernada ancaman dan sudah tentu akan membias ke pemerintah Bali.

Rencana acara gawe untuk menyunat putra Bali akhirnya digagalkan. Karena Kopang dan Mantang saat itu dianggap bersekongkol dengan Praya. Anak Agung akhirnya berboyong ke Mataram dan dipanggil Jero Buru dari Mantang dan dibunuh di Cakra.

Seharusnya, cerita Lalu Syafii, Jero Wiresari dari Kopang juga harus dipanggil pemerintah Bali. Tapi entah karena pertimbangan lain, justru yang dipanggil adalah Raden Wirecendre yang mengakibatkan kemarahan yang luar biasa bagi Raden Wirecendre. “Kalau begitu, Jero Wireseri juga penghianat, harus ditangkap,” begitu kira-kira ungkapan kemurkaan Raden Wirecendre.

Akhirnya pihak Preye menggempur Kopang. Bukannya memenuhi panggilan pemerintah Bali, namun membakar Kopang. Tapi Kopang saat itu dapat mengalahkan Preye dan mundur sampai di Bodak dan membikin pondok di Gawah Gandor. Sampai mereka bertahan ditempat ini dan menghembuskan nafas terakhirnya. Bahkan Jero Wireseri, juga ikut mengantar jenazah Raden Wirecendre langsung ke Preye.

“Kisah ini saya tahu, karena Jero Wireseri, itu baloq saya”, kenang Lalu Syafii sambil menunjukkan makamnya sekarang berada di Pemenang, Lombok Utara, karena dibunuh oleh Anak Agung dalam sebuah pertempuran di Pememang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *