Majelis Adat Suku Sasak Lombok Senang Jokowi Gelar Kirab Budaya Keraton
December 8, 2013
Menara 99, Catatan Tentang Islamic Center
December 16, 2013

MIAONG MIAONG BERTOBATLAH.

Miho dan Hiroi

Miho dan Hiroi

[Sasak.Org] Perkenalkan, nama saya Miho, saya seekor kucing putih betina bermata hijau dan anak saya Hiroi yang bermata biru. Saya adalah kucing pertama sebagai warga negara GSD, Pas Lelampan (passport) seumur hidup sedang diurus. Pak bos saya adalah tukang kebon yang setiap hari memacul dan menyabit rumput. Saya senang dengan pak bos karena ia sangat sayang pada kami, hewan hewan kecil yang disia siakan oleh manusia lain di dusun ini. Sering sekali berkumpul di indekos kami para hewan kecil yang luka, dehidrasi dan sekarat , pun juga hewan yang sudah besar korban bully disiram air panas, ditembak matanya, dipatahkan kakinya atau dihancurkan congornya. Ya, korban bully, saya, bagaimanapun tak tega mengkrimalisasi manusia.Oh manusia…

Kemarin pak bos membawa anak kucing yang masih buta. Pak bos sedih melihatnya luka dan penuh kotoran sampah. Dia bilang bahwa jika bayi kucing itu mati biarlah mati di indekos agar aib manusia tak terlalu transparan. Aneh sekali tabiat manusia, mereka tidak hanya membuang sampah sembrangan tapi membuang hewan yang masih bayi dan buta tanpa membuat wadah masing masing. Seharusnya ada kotak khusus sampah untuk bahan alamiah atau organik, kertas, plastik dan kaca. Sedangkan untuk makhluk bernyawa seperti kami para khewan kecil termasuk bayi manusia yang juga sering tergolek di tempat sampah itu mestinya diberi kotak tersendiri.

Kami bangsa kucing adalah kesayangan Rasulullah SAW karena kami bersih, rajin tayammum dan tidak suka aneh aneh. Pak bos pernah cerita padaku bahwa selama 9.450 hari dia tinggal di tempat kosnya ini, perilaku manusia tidak berubah. Pendidikan makin makan waktu lebih lama tapi tidak makin baik atau bermutu. Sebab mereka memang pergi ke sekolahan atau universitas tapi tidak untuk belajar melainkan untuk hal hal yang lebih remeh seperti keharusan menirukan kata kata gurunya. Berpakaian seperti gurunya, menipu sertifikasi seperti gurunya dan membeli ijazah seperti gurunya.Meskipun saya seekor kucing tentu saya tahu tidak semua demikian, maklumlah.

Sudah agak lama saya merasa ada kejanggalan pada tabiat para pengikut tokoh manusia paling berpengaruh sepanjang masa – Nabi Muhammada SAW itu, mereka sering memfitnah, mengeksploitasi bangsa kami. Perbuatan itu memang tidak seburuk dan sedahsyat derita fisik bayi kucing buta digulung sampah itu tapi harkat dan martabat kami rusak di depan Orang yang paling sayang pada kami, Rasulullah SAW.

Para pejabat, pedagang, konglomerat, anak muda dan anak mudi yang berlimpah harta tak halal atau abu abu suka sekali datang ke tempat yang diancam hukuman rajam, yaitu tempat mandi kucing. Mereka tak dapat menahan diri terperosok karena telah nekad membeli kucing dalam karung. Mau jalan jalan saja mereka harus waspada dan tunggu hari gelap bak kucing memburu tikus. Hidup selalu dalam ketakutan karena petugas siaga 24 jam kucing kucingan dengan para bromocorah.

Saya tentu tidak ingin didewa dewakan seperti Firaun dahulu, sampai nyembah nyembah nenek moyang kami, tidak sama sekali tidak. Akan tetapi janganlah perlakukan kami seolah kalian tak tahu bahwa kami adalah kesayangan tokoh panutan kalian. Kami adalah patner dalam memelihara keseimbangan sebab tikus akan terkontrol sehingga padi dan palawija kalian terjaga, agar kalian terhindar dari penyakit pes, rabies dan leptospirosis. Kalian tidak usah repot membunuh cecak tiap malam jum’at karena akan menngganggu aktifitas sunnah lainnya, biarlah kami yang menangani cecak sebagai tambahn gizi.

Kami memang seekor kucing, tapi dari kami manusia banyak mengambil hikmah. Saking bekennya bangsa kami maka segala macam hal dijadikan referensi. Lumayan kalau ada yang berkata baik, kami akan bangga tapi tabiat manusia sering keterlaluan sampai menyebut sesamanya, kucing garong, kcuing buduk, dan yang paling mengancam hidupnya adalah jika sampai naik pitam lalu keluar kata TAI KUCING, sekejap kemudian jantung terhenti…

Mestinya mereka istigfar…

Miaong, miaong, miaong…

Ampunilah kami yang telah menzholimi diri sendiri ya RABB. Aamiin.

Mohon banyak maaf dan salam

Kaki Merapi 16.12.2013

 Hazairin R. Junep

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *