Lesehan Dende, Wajib dicoba
January 30, 2014
Sepakbola, Lalu Mara dan Zaini Arony
February 4, 2014

Pelacur Adalah Pahlawan ?

Hazairin R. Junep

Hazairin R. Junep

Yogyakarta [sasak.org ] Para perempuan yang bekerja di pabrik pabrik berduyun  datang dipagi hari dan pulang menjelang senja. Mereka bekerja keras untuk dapat memenuhi kebutuhan pokok. Para karyawan hotel  besar tekun berkarya agar terjamin dapat gaji tak  ada potongan demi cukup untuk survive. Orang orang sakit digotong ke rumah orang sakit. Orang orang gila dijerat kaki dan  tangannya lalu dibawa ke rumah orang sakit jiwa. Orang yang  melakukan tindakan kejahatan dijebloskan  ke penjara. Lantas siapakah yang menjebloskan para pelacur ke rumah rumah bordil yang dibuka dan diresmikan oleh stakeholder yang sekaligus sedang menjadi, akan  menjadi dan sudah menjadi pelangganya itu?.

Adik Ahok yang   pemberani dan jujur, mengalahkan keberanian orang berjihad menegakkan  kemungkaran, telah dicaci maki ketika bermaksud mengurung para pelacur yang bergentayangan menyebarkan aroma tak sedap dan ancaman penyakit kutukan ala zaman Nabi kuno. Entah yang mencaci itu takut kehilangan  kesempatan menyalurkan hobby atau malah kehilangan sumber rezeki. Mungkin yang mencaci dan menggugat adalah para kiyai yang  takut kehilangan  lapak untuk berdakwah, demi punya kesempatan menyelamatkann pelacur menjadi perempuan terhormat. Mungkin para pekerja  proyek yang  tidak rela  mendapatkan  bahwa proyek  pembagian kondom gratis di jalan remang remang  akan tutup.

Tiba tiba muncul seorang perempuan yang  keberaniannya, mengalahkan adik Ahok, sebab dia tidak ingin menutup asrama yang dibangun dengan susah payah untuk menampung parapelacur agar dapat dikontrol kebersihan, kesehatan dan didata siapa saja yang datang dan sering datang ke lembaga itu. Saya setuju bahwa dia memberi label  PAHLAWAN kepada para pelacuritu demi melihat kenyataan bahwa mereka adalah pekerja keras  yang  untuk itu wajahnya tak dapat tegak karena  dicemooh.  Mereka bekerja dengan resmi dan mungkin berlisensi -bersertifikat yang  sudah pasti tanpa tunjangan tambahan atas prestasinya.  Mereka adalah para perawat yang meberikan jasa all round kepada pasien pasien sakit jiwa, sosiopat, psikopat, nympomaniak, Schizoprenia dan berbagai gangguan penyakit  fisik dan bathin. Jika dibandingkan dengan para dokter  dan perawat di rumah rumah orang sakit yang ogah ogahan memeriksa pasien, yang bila perlu disuruh nunggu 8 jam hingga mati, maka para pelacur itu jauh seribu kali lebih professional.  Laki laki paling berangasan dari  pecandu alcohol dan narkoba sampai residivis dijinakkan, mana ada dokter jiwa sanggup menjinakkan orang gila sesaat?.

Para pelacur itu adalah  pahlawan yang keluar dari rumahnya karena kegagalan laki laki yang dengan sombong menganggap bahwa dunia ini milik mereka tetapi tak sanggup menjadi tuan bagi  sesamanya. Para lelaki yang kesatria dan jantan itu adalah pelanggan para peramu nikmat, yang kenikmatan itu, tidak dapat diperoleh di rumahnya, itu juga  disebabkan kedunguan lain dari si lelaki. Jika diusulkan  cara mengatasi pelacuran dengan menangkap lelaki hidung belangnya, mana ada yang mau dengar. 

Para pelacur itu pada umumnya sangat lemah sehingga gampang jadi permainan semua fihak.  Hotel hotel menyediakan jasa pelacuran,  tentu tidak ditangkap sebab  hotel adalah lembaga resmi berizin usaha. Dengan demikian si pelacur bekerja dengan resmi dan dilindungi bukan?. Mereka datang menembus malam dengan membuang rasa pedih dihati  demi untuk uang SPP yang seharusnya ditanggung oleh pemerintah tapi  dananya di korup oleh bedebah  yang mungkin saja jadi pelanggan. Mereka  pergi dari desa  terlunta disudut kota sampai ditemukan germo, karena  hak hak orang miskin dan terlantar yang dijamin konstitusi, tidak  dilaksanakan oleh bedebah  pejabat  yang mungkin  suka melacur.

Jadi ibu bupati Kendal yang terhormat itu sangat betul ketika memberi  gelar Pahlawan kepada para pelacur.  Sebab mereka dapat mengambil keputusan tepat demi menyelamtkan diri dan keluarganya  dari keterpurukan. Berapa banyak perempuan yang menjadi budak dan diberi gelar PAHLAWAN, setelah diperas dari pemberangkatan  hingga pulang ke dusunnya?. Berapa banyak  babu yang distrika, diperkosa, dibanting, dipukul, dilemparkan  dari gedung tinggi, dibuang ke laut dan dimutilasi, yang diberi gelar PAHLWAN?. Tidak ada pemberontakan , perlawanan, kudeta dan peperangan yang diserukan dan diteriakkan untuk menyelamtkan mereka sebab mereka adalah PAHLAWAN!.

Para pelacur itu, ada didepan mata, dikompleks asrama yang jelas, jalannya, nomernya, RT, RW sampai lurah, camat, bupati, walikota dan gubernunya jelas. Siapa yang marah marah, silahkan undang  satu, dua , tiga atau empat dari para pahlawan itu untuk menjadi istri istri para lelaki kesatria yang  menguasi dunia ini, yang jadi peminpin dan yang sangat berkuasa.

Dengan banyak maaf dan salam

Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *