Anekdot Seputar TKI: Cek, Cok dan Cek-Cok

Kunjungan Kelompok Ternak binaan BI NTT ke Bun Mudrak
March 17, 2014
Resensi : Menanti Cinta
April 5, 2014

Anekdot Seputar TKI: Cek, Cok dan Cek-Cok

Cek, Cok dan Cek-Cok (Sebuah Anekdot Seputar TKI Malaysia)

Oleh: Lalu Pangkat Ali, S,IP *)

Lalu Pangkat Ali

Lalu Pangkat Ali

[Sasak.Org] Tulisan kali ini, karena saya terinspirasi oleh riwayat Tenaga Kerja Indonesia. Tenaga Kerja Indonesia atau TKI yang bekrja ke Malaysia ini, banyak kisah yang kita jumpai tentang kehidupan mereka. Terutama kehidupan mereka para kaum istri TKI yang ditinggal suami mengadu nasib ke negeri Jiran itu.

Kita sering mendengar kata yang cukup popular di Lombok. Kata itu semisal; “jamal” sebagai akronim dari “Janda Malaysia”. Kata ini merupakan julukan bagi istri yang ditinggal suami untuk mengadu nasib sebagai TKI ke Malaysia. Kata lainnya juga popular kita dengar dengan istilah “jatong” alias “janda sepotong”. Jatong atau janda sepotong ini merupakan kata ledekan, terutama bagi sang istri yang sudah lama, bertahun-tahun ditinggal suami. Mungkin jatong ini dimaknakan, dari daerah pusar ke atas memang masih bersuami. Alasannya, karena memang masih tetap dapat kiriman cek Ringgit uang belanja. Tapi dari bagian pusar ke bawah, sesungguhnya sudah lama men’janda’. Kalimat bagian pusar ke bawah ini tak perlu saya kupas secara fulgar dan bentuknya seperti apa. Karena hal ini akan menjurus ke persoalan biologis.

Gampang kita temukan cerita-cerita miring tentang jamal dan jatong ini. Bahkan hampir tak menemukan happy ending. Terkadang sang TKI, banyak yang harus rela menerima kenyataan ditinggal kawin oleh istri di tanah air, berselingkuh atau tuduhan miring lainnya. Memang banyak ragamnya kisah-kisah tentang mereka. Tapi yang paling mudah didapat biasanya tentang perselingkuhan meski tidak sepebuhnya demikian. Memang kasus yang satu ini akhirnya membuat para jamal atau jatong ini mendapat predikat janda.

Bagaimana riwayat sebutan jamal dan jatong ini? Belum ada yang dapat mengungkapkan sejak kapan istilah itu muncul. Yang jelas mereka dinilai miring. “Para istri yang ditinggal suaminya memang belum jadi janda. Tapi kalau ditinggal bertahun-tahun tingkahnya tidak kalah dengan seorang janda”. Ini salah satu ungkapan pendapat tetangga sebelah, karena ada seorang jatong yang sudah lama ditinggal suami. Tak ayal lagi mereka mendapat predikat jamal atau jatong. Inilah yang terkadang dituding menjadi biang kerok percekcokan seputar keluarga TKI tersebut. Tak jarang, alasannya karena faktor lahir dan bathin. Nafkah lahir memang penting, sama pentingnya dengan nafkah bathin. Keduanya memang harus berpadu satu sama lain.

Tak menutup kemungkinan, perselingkuhan itupun muncul karena faktor biologis. Dan nafkah bathin yang tidak tersalurkan, sadar tidak sadar, untuk memenuhinya harus melakukan perselingkuhan atau sejenisnya. Hal inilah yang berpotensi menjadikan keluarga TKI menjadi cek-cok, meskipun cek Ringgit tetap mengalir dikirim dari Malaysia. Dan setiap tutup bulan si jamal dan jatong tadi harus bolak balik masuk Bank untuk menukar valas, cek Ringgit.

Kesimpulannya, jika cek ringgit (duit) tidak ada, bisa dapat pinjam pada tetangga sebelah.Tapi betapa anehnya jika cok yang tidak ada. Ini yang rada-rada repot. Mau pinjam cok tetangga sebelah? Wah, tambah repot, berabe lagi. Terkecuali cok tetangga itu bisa cocok dengan saklar milik jamal atau jatong tadi. Tak apelah! Atau si jamal dan jatong tadi mungkin punya kiat khusus, pintar-pintar main petak umpet meskipun dengan cara betungkem jarang-jarang (tutup wajah jarang-jarang). Dengan kiat ini, jika saklar milik si jamal sudah cocok dengan cok pinjaman tadi, ya….si jamal harus menggunakan bola lampu lima watt saja. Jangan pakai bola lampu 100 watt, terlalu panas, begitu tegangan naik, bola lampu jadi meledak….darrr! Saklar dan cok tentu jadi terbakar hangus. Cek-cok deh jadinya.

Menyginggung soal cek-cok tadi, saya akhirnya jadi teringat kisah salah satu teman saya yang baru saja pulang dari Malaysia. Setelah selesai kontrak dua tahun, ia pun pulang dengan wajah riang, karena yang menyambut kedatangannya itu tak kalah riangnya. Betul juga, yang menyambut kedatangannya itu adalah istri dan seorang anaknya yang baru berumur tiga tahun.

Dengan menenteng travel bag di punggung, teman saya ini melangkah tegap persis seperti tentara yang baru saja selesai depile. Ia menemukan isrti dan anaknya. Mereka ingin melepas rindu yang sudah lama tersangkut dalam kesepian.

Karena amat sangat gembira, si anak jingkrak-jingkrak menyambut kedatangan ayahnya. “Holeee Amaq datang bawa cek!” anak itu sambil bertepuk tangan menyambut kedatangan sang ayah.Si istri yang sekarang bakal jadi mantan jamal itu, ikut juga jingkrak-jingkrak menyambut kedatangan arjunanya. “Horeee kakak datang bawa cok!”

Lantas teman saya ini jadi terkesima juga mendengar ucapan penyambutan dari anak dan istrinya. Lalu dia dengan tenang menimpali keduanya. “Ya, Amin, amaq sudah datang bawa cek. Nanti ceknya kita tukar di bank ya? Dan kamu Aminah, kakak sudah datang bawa cok. Nanti coknya kita sambung di kamar ya?”

Mendengar ucapan sang ayah, Amin langsung kegirangan. “Asiiiik…ceknya ditukar di bank!” Aminah juga menimpali dengan lebih semangat dan bergairah. “Asiiiiik….coknya disambung di…….”

“Sssssst…..!” Teman saya ini langsung mengatubkan bibirnya dengan telunjuk. Dia memberikan sinyal larangan, karena sesungguhnya, perkataan istrinya sebenarnya keliru tempatnya. Mereka khawatir, ucapan istrinya itu didengar Amin yang masih terpaku terbengong-bengong. Apalagi anak seumur Amin belum tahu bentuk cek yang dibawa ayahnya. Demikian pula belum tahu bagaimana bentuk cok yang dijanjikan ayah untuk ibunya.

Merupakan tindakan dan perbuatan yang bijak, seorang jamal atau jatong harus berpikir positif. Meskipun cek ringgit telat datang, bertindaklah dengan sabar. Jangan marah-marah, apalagi sampai-sampai semua isi kebun binatang disebut-sebut. Marah-marah sampai penggorengan di dapur yang tak salah apa-apa ikut jadi sasaran umpatan dan cacian. Kan ada pepatah klasik; sabar disayang Tuhan, terlebih bila cok belum ada, jangan sampai nekad cari cok yang bukan empunya suami. Yang penting jagalah iman, jangan sampai tergiur PIL (Pria Idaman Lain). Percayakan bahwa, suami mengadu nasib ke Malaysiademi istri, anak dan keluarganya. Lain hal bila terbukti sang suami betul-betul menyimpan WIL (Wanita Idaman Lain) di balik kepergiannya.

Semoga saja kisah-kisah miring tentang jamal dan jatong yang banyak ragamnya itu tidak lagi terdengar. Apalagi didiskriminasikan dalam bentuk perselingkuhan. Ikutilah jejak dan langkah kisah teman saya tadi. Si istri mampu puasa bathin hingga bertahun-tahun sampai menunggu kontrak usai. Intinya cuma saling percaya tanpa harus melepas keimanan dan ketaqwaan. Suasana taqarruf terus dikumandangkan. Tuhan tidak akan berpaling dari umat yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya. Sekali lagi tingkatkan niat tawakkaltualallah. Semua perjuangan suami, dilakukan demi keluarga dan masa depan anak-anak. Terutama terkait nafkah bathin, puasalah dulu…… []

*) Pegiat Budaya (Sasak), Pranata Humas Pelaksana Lombok Barat, tinggal di Kopang-Lombok Tengah.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *