Coretan ringan Ramadhan (4)
June 22, 2015
Sesajen untuk Masjid Kuno 9 Wali di Lombok
June 23, 2015

Celoteh ringan Ramadhan 5

Muhammad Roil Bilad

Muhammad Roil Bilad


Globalisasi adalah kata yang sangat tidak dianjurkan untuk mengawali tulisan. Saran ini (seingat saya) dari tim redaksi kompas untuk kontributor umum yang ingin mengirimkan opini ke media tersebut. Percayalah, tulisan ini benar-benar tentang globalisasi, sehingga saya berhak sepenuhnya untuk memulai dengan kata tersebut.
Bagi penceramah-penceramah di kampung, penggunaan jargon (istilah keren, umunya dari bahasa Inggris) merupakan vitsin (penyedap rasa) sebuah pidato. Bisa jadi ukuuran keluasan ilmu penceramah. Semakin banyak kata-kata yang tidak dimengerti pendengarnya, semakin keren seolah-olah sebuah ceramah. Kutipan berbahasa inggris juga banyak diangkat sebagai penghias, meskipun ada kutipan sumber lokal yang tidak kalah bagusnya. Mereka akan lantang bilang “Science without religion is lame, religion without science is blind.”

Fenomena pamer, keren-kerenan, rupanya terbawa oleh mahasiswa-mahasiswa asal Indonesia yang belajar di luar negeri. Pernah saya menghadiri sebuah konferensi pelajar Indonesia tingkat antar-bangsa (internasional) yang sangat menghibur, karena menyangkut hal di atas. Mahasiswa-mahasiswa ini seperti kehilangan batas-batas bahasa. Dalam satu kalimat, 50% kata-katanya berbahasa Indonesia dan sisanya bahasa Inggris. Sebagai ilustrasi, mereka berbicara seperti Cinta Laura sepanjang konferensi berlangsung, namun aksen bulenya diganti aksen bahasa lokal (misalkan, jawa atau batak, jadi lebih lucu lagi kedengarannya). Bahasa Inggris sudah begitu mengglobal hingga menggerogoti saraf pengendali bahasa di otak anak-anak Indonesia, menggerogoti identitas bahasa nasional.
Tidak seperti bapaknya yang produk lokal, Adore benar-benar terpengaruhi oleh globalisasi. Lagu-lagunya bukan pelangi-pelangi, balonku, atau pada hari minggu, dll; tetapi Five little duck, Old Mcdonald, Binggo, dll. Tidak hanya Adore, mungkin semua anak yang bermain dengan gadget (perangkat cerdas) mengalami hal yang sama. Generasi gadget, lebih maju dari buyanya yang generasi potlot pensil.
Tata cara berbuka puasa juga ternyata cukup mengglobal. Jika tidak pernah berpuasa di berbagai negara, dengan bangga saya akan berceloteh tentang betapa kerennya budaya buka bersama sasak. Tidak hanya tempatnya yang sama, makanan juga dari nampan yang sama: buka bersama 2.0. Klaim tersebut ternyata 100% tidak sah. Hal yang sama juga saya lihat di Belgia, Malaysia dan Singapura. Di singapura, peserta buka bersama di masjid sangat ramai, bisa mencapai ratusan orang. Justru yang tidak begitu di negara arab, dimana setiap orang dibagikan nasi kotak.
Jadi, jangan minder buber dari nampan, kalau memungkinkan, mari ganti nampan dengan daun pisang. Karena daun pisang akan menawarkan keunikan geografis. Pisang hanya tumbuh baik di lingkungan tropis. Jadi saya tidak harus khawatir mengakhiri tulisan ini dengan lokalisasi, bukan globalisasi.
Edisi ngabuburit di kampung Jurong East, Singapura
5 Ramadhan, 1436 Hijriah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *