Celoteh ringan Ramadhan 13

Perusahaan dari Korsel Kembangkan Tenun Ikat di NTB
July 9, 2015
Tradisi Malam Ramadhan, Warga Lombok Nyalakan 'Dile Jojor'
July 13, 2015

Celoteh ringan Ramadhan 13

Muhammad Roil Bilad

Muhammad Roil Bilad


Di kegiatan pramuka, ada sebuah simulasi menarik tentang komunikasi. Biasanya dilombakan antar-regu. Sepuluh orang anggota regu berbaris lurus, kemudian yang paling depan diberikan sebuah kalimat yang disampaikan ke anggota di belakangnya. Kalimat-kalimatnya memang sengaja dipilih yang agak aneh mirip permainan bunyi sehingga agak susah diingat dan dilafalkan. Misalkan, “Keledai makan kedelai di kedai dilihat kadal,” atau “Kuku kaki kakak-kakak ku kaku kayak kuku kaki kakek-kakek ku itu,” atau yang lebih sulit lagi “Sempat-sempatnya semut-semut itu saling senyum-senyum dan salam-salaman sama semut-semut yang mau senyum-senyum dan salam-salaman sama semut-semut itu.” Kalimat tersebut disampaikan dengan berbisik dari anggota regu terdepan, satu per satu, ke yang paling belakang. Coba tebak apa yang sampai ke anggota regu paling belakang? Ini adalah simulasi menarik tentang distorsi informasi.
Secara umum, Ramadhan terbagi menjadi tiga: 1-10 penuh rahmah, 11-20 penuh ampunan dan 21-30 pembebasan dari api neraka. Begitulah ganjaran bagi mereka yang sukses beribadah. Perubahan ke paruh ketiga ditandai dengan berubahnya ayat Al-quran yang dibaca saat tarawih. Biasanya surat ke-4 sampai ke-14 Al-quran dari akhir pada rakaat pertama diikuti surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua. Namun begitu sampai malam duapuluh satu berubah: rakaat pertama dengan bacaan surat Al-qodr, dan rakaat kedua dengan bacaan surat ke-4 sampai ke-14 Al-quran dari akhir. Tidak jelas dari mana asalnya, kapan dimulainya, tapi ini mungkin cara mengingatkan jamaah bahwa Ramadhan telah memasuki hari-hari yang salah satu malamnya adalah lailatul qadr. Malam yang dijelaskan dalam al-quran lebih baik dari seribu bulan.
Fenomena lailatul qadar ini dipahami masyarakat sasak lombok secara berbeda. Jika kita telaah hadits-hadits yang berhubungan dengan malam ini, kita akan mendapatkan informasi mengenai manfaatnya, perkiraan tanggalnya, tanda-tanda yang mengiringinya serta ibadah apa yang disunnahkan. Tidak lebih dari itu. Namun apa yang sampai ke masyarakat sasak sungguh berbeda. Malam lailatul qadar dimengerti secara distorsif sebagai momen dimana diijabah (diterima) doa-doa secara absolut, apapun itu.
“Malam” terdistorsi sebagai momen, yang ditandai dengan fenomena-fenomena aneh luar biasa. Misalkan, air sumur menjadi begitu kental sehingga tidak bisa ditimba. Ada yang menandainya dengan melihat cahaya yang mencorot terang-benderang di langit lalu jatuh di atap rumahnya. Ada juga yang mengidentifikasinya dengan pengalaman fisik. Ketika lailatul qadr turun menghampiri, tiba-tiba badan kaku lumpuh, lidah kelu sehingga tak mampu lafalkan permohonan. Masih banyak tanda-tanda aneh/unik lainnya dan mungkin spesifik orang per orang ada kampung per kampung.
Pemahaman tentang lailatul qadar ini sedikit tidak digunakan menjelaskan fenomena-fenomena abnormal yang setelah Ramadhan. Misalkan si fulan tiba-tiba kaya, tiba-tiba pintar, tiba-tiba miskin, tiba-tiba alim, dll. Mereka dianggap mendapatkan jackpot lailatul qadr. Kadang-kadang ada juga yang terkena sial lailatul qadar. Mereka mengaku mendapati lailatul qadar, namun saking groginya hanya menyaksikannya berlaku sehingga momen mulia ini terlewatkan begitu saja.
Sudah jadi tabiat saya yang keras kepala. Saya tidak terima dengan pemahaman-pemahaman di atas. Salah seorang bibi saya bercerita (saya tidak verifikasi kebenarannya). Dia bercerita, pernah suatu ketika seseorang bertemu momen lailatul qadar ini. Menyadarinya, dia grogi alang-kepayang, tapi masih sempat berdoa “mudahaak butih.” Beberapa hari kemudian kutil-kutil tumbuh di badannya. Dia terkena sial lailatul qadar, bermaksud meminta sugih (kaya), salah sebut, malah minta butih (kutil). Beberapa cerita sejenis masih beredar di kalangan masyarakat tradisional sasak.
Memang betul bahwa lisan dan langsung adalah bentuk komunikasi termudah dan terbaik. Betul juga bahwa, tulisan adalah bentuk komunikasi terburuk. Budaya masyarakat kita juga tumbuh dengan tradisi lisan yang masih lestari hingga kini. Namun tulisan resisten/tahan perubahan dan lisan rentan kesalahan. Distorsi informasi menjamur dimana-mana, ilmu menjadi terserak entah jadi apa. Padahal sebenarnya mudah saja, seperti salah seorang kawan, ikatlah ilmu dengan menuliskannya.
Edisi ngabuburit di kampung Jurong East Singapura
23 Ramadhan, 1436 Hijriah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *