Mengunjungi Desa Marong dan Sade di Lombok

Wayang Sasak Amaq Darwilis Menembus Amerika Serikat
June 18, 2016
Inaq Amaq dalam bahasa Arab
October 22, 2016

Mengunjungi Desa Marong dan Sade di Lombok

Lombok, sebuah pulau yang secara geografis terletak di kepulauan Sunda Kecil atauNusa Tenggara bisa dicapai dengan melintasi Selat Lombok selama 4,5 jam dari Bali.
Dengan luas mencapai 5.435 km persegi, pulau yang diapit Selat Lombok di sebelah barat dan Selat Alas di sebelah timur ini merupakan pulau dengan peringkat 108 di dunia dalam kategori luas daratan. Suku Sasak mendiami pulau Lombok dan mereka menggunakan bahasa Sasak dalam kehidupan sehari-hari.

Adat suku sasak

Marong adalah sebuah desa yang dihuni oleh Suku Sasak yang masih memegang teguh adat istiadat nenek moyang pulau Lombok. Sampai saat ini, masih banyak upacara adat yang diterapkan di desa yang mayoritas penghuninya muslim ini.

Lalu Lirekarte (39), –biasa dipanggil mamik atau paman– tetua Desa Marong tampaknya tahu betul kepenatan perjalanan kami. Oleh karena itu ketika menerima kami di kediamannya, dia langsung menyuguhi makanan khas Lombok, yakni Kelak Kuning. Ini merupakan hidangan ikan mas berkuah. Selain itu juga tersaji tumis kangkung yang mereka sebut dengan pelecing kangkung yang rasanya sangat pedas.

Untuk menggantikan bulir keringat kami, keluarga mamik kemudian menyediakan kesegaran air kelapa gading yang dipadu dengan semangka kuning yang langsung dipetik dari belakang rumah.

Rumah mamik memang tak terlihat seperti rumah adat Suku Sasak yang beratapkan rumbia. Rumah mamik tak bedanya dengan kebanyakan rumah yang terbuat dari tembok dan beratap genteng.

Suasana Desa Marong pun tak bedanya dengan desa-desa lain di pulau Jawa, banyak kendaraan lalu lalang seperti motor, mobil, dan truk. Bahkan kami dapat menemui pengemudi dengan motor terbaru TVS di sana, menandakan kalau penduduk desa cukup mengikuti kemajuan zaman.

Rumah ada suku Sasak di kampung Sade
Rumah ada suku Sasak di kampung Sade
© Mustafa Iman /Beritagar.id

Sekitar pukul 13.00 WITA, kami diajak mamik untuk menghadiri upacara adat Sorong Serah, salah satu upacara adat pernikahan khas Suku Sasak. Sorong Serah merupakan pengajuan pinangan pihak laki-laki kepada pihak perempuan dengan membawa beberapa syarat. Kami pun mengenakan sekepat — pakaian adat khas Suku Sasak– untuk menyaksikan acara tersebut.

Acara yang dihadirkan lengkap dengan hidangan kopi dan rokok itu berlangsung cukup alot diantara kedua belah pihak. Terjadi negosiasi antara pembayun atau pendamping pihak perempuan dengan pihak pemohon calon pengantin pria untuk mencapai kesepakatan.

Upacara adat Sorong Serah
Upacara adat Sorong Serah
© Mustafa Iman /Beritagar.id

Akhirnya kesepakatan terucap dengan pembayun calon pengantin pria menyerahkan “aji adat” atau mas kawin berupa olen atau kain sebanyak 23 lembar. Selain itu calon pengantin pria juga menyerahkan pisuke atau mahar untuk pihak wanita sebesar Rp66 ribu. Pihak lelaki juga menyerahkan salindede berupa selendang dan sarung, dan wadah sesaji penginang kuning yang terbuat dari logam kuningan.

Uniknya, para saksi yang hadir di upacara adat tersebut — mereka menyebutnya dengan saksi Lante — mendapatkan upah kesaksian sebesar Rp2 ribu. Namun uang tersebut dapat berbeda besarannya, tergantung keputusan sesepuh adat.

Ada yang unik sebelum diadakannya upacara Sorong Serah ini. Calon mempelai pria diwajibkan untuk menculik calon pengantin wanita, dan menyembunyikannya di satu tempat. Dan setelah upacara sorong serah ini rampung, barulah calon pengantin pria memulangkan calon pengantin wanita. Saat dipulangkan, status lelaki dan perempuan ini sudah suami istri.

Usai menyaksikan aji adat selama kurang lebih dua jam, mamik langsung mengajak kami wisata ke Pantai Kuta yang berjarak 12 km di bagian selatan Desa Marong.

Cenderamata Desa Sade

Sebelum sampai di Pantai Kuta, kami mampir ke kampung Sade, Desa Rembitan, yang merupakan sebuah kampung wisata di Lombok yang menjual cenderamata khas suku sasak. Di sana kami menemukan Bale Rei, rumah adat Suku Sasak.

Banyak sekali wisatawan domestik dan mancanegara yang kami temui. Mereka semua dipandu oleh para jejaka Suku Sasak. Dan karena memang langsung dibuat di tempat tersebut, harga cenderamata pun murah. Sebuah gelang rajut cukup ditebus dengan harga Rp10 ribu untuk 3 buah dari beragam jenis dan corak. Sementara itu dompet rajut harganya Rp30 ribu per buah. Ada pula cenderamata lainnya seperti kain, tas, dan selop. Semua barang ini ditawarkan mulai harga Rp25 ribu hingga Rp150 ribu.

Cenderamata yang di jual di kampung Sade
Cenderamata yang di jual di kampung Sade
© Mustafa Iman /Beritagar.id

Kuta dan Seger, dua pantai perawan di Lombok

Usai singgah sejenak di kampung Sade, kami melanjutkan perjalanan menuju pesisir Pantai Kuta. Jarak terdekat dengan pantai Kuta menurut pengakuan mamik dapat ditempuh hanya dalam waktu 15 menit saja. Dan benar saja, kurang dari 15 menit kami sudah berada di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, untuk melihat deburan ombak dari pinggir pantai.

Tak seperti pantai kebanyakan, Pantai Kuta masih terlihat sepi, namun terasa suasana asri dan tidak sumpek. Untuk menikmati ombak serta jernihnya air laut, kami tak perlu repot mengeluarkan dompet, karena memang gratis.

Puas menikmati pantai Kuta, kami menuju ke arah timur untuk menyaksikan panorama indah Pantai Seger. Seperti pantai-pantai lainnya yang ada di Lombok Tengah, Pantai Seger cenderung masih sepi. Pantainya memiliki air yang biru jernih serta berpasir putih. Hanya Rp5 ribu yang kami keluarkan dari dompet untuk menebus tiket masuk per orang berikut motor yang kami bawa.

Saat melintasi jalur pulang ke Desa Marong, ami melewati jalur berkelok di pesisir pantai. Mulai dari Pantai Aan, Teluk Bumbang, dan Teluk Awang.

Catatan Redaksi : Beritagar.id adalah media mitra dalam ekspedisi Indonesia Eastcapade dengan menggunakan motor TVS. Semua foto diabadikan dengan menggunakan kamera aksi B-Pro5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *