Ketengan
October 27, 2008
Wisata sasak
November 1, 2008

Angin Alus

Assalamualaikum WR WB.

Saya pernah mendengar lagu angin alus dalam film TV anak anak yang digarap Garin Nugroho. Musisi yang menyusun kembli partitur lagu anak bangsa Sasak itu seperti mengetahui, mersakan dan memahami syair yang melehkan air mataku lebih deras dari kisah manapun.

Sewaktu kami masih merasa bahwa engkau adalah aku dan aku adalah engkau, kami menembangkan salawat di santren santren, kami menembangkan angin alus disawah dan rau. Celilong terhampar disudut
dangau dan seruling terselip diantara pengapit atap ilalang. Angin alus yang memebelai wajah kami  sepanjang waktu baik tidur atau terjaga adalah rahmah dari Allah Rabbal Alamin. Angin itu bersenandung  bersama aliran air diselokan selokan kecil dan nyayian brung kuwak kiau yang menari di pokok papaya dan pisang batu.

Kami bangsa Sasak tak pandai menulis kisah apalagi babad. Kami tidak pandai tapi bukan manusia pandir. Kami melewatkan pendidikan melalui alam dan tetua kami. Kecintaan kami pada ilmu sangat tinggi tapi alam yang murah membuat kami enggan pergi menjauh, cukuplah rahmah melimpah ini kami jaga dan pelihara dengan rasa cinta dan sukaria.

Kami tak punya kitab seperti Maha Barata atau Ramayana, tapi kami punya lelakax atau kekayax. Lelakax berarti lekax atau jalan dan kekayax berarti kaya atau kaye yaitu kasihan. Lelakax adalah tembang yang mengisahkan suatu perjalanan hidup dan kekayax adalah kisah cinta baik cinta kepada sesama dalam arti luas maupun cinta asmara.

Angin Alus sperti halnya tembang kuno dibanyak temapat di dunia ini, tak diketahui persis siapa komposernya. Ia adalah nyanyian hati setiap anak bangsa Sasak. Tembang ini sangat singkat dalam bait sederhana tetapi ia adalah kitab kuno sekelas Mahabarata yang tak pernah selesai ditulis sampai kapanpun. Meskipun kami sudah makin termajinalkan kami tetap setia menembangkan nyanyian ini. Siapakah yang pernah mendengar tetangganya berkata engkau adalah aku dan aku adalah engkau? Entah sudah berapa lama, tak pernah sekalipun aku dengar orang berkata demikian, kecuali beberapa gelintir manusi yang welas asih kepadaku.

Aduh anakku mas mirah…. Siapakah yang yang dipanggil dengan sebutan yang tiada banding itu. Oh Pengeran Inax, katakana kepadaku anak yang mana yang sehebat itu?. Apa yang telah dilakukan kepadamu Pengeran Inax?

Buax ate kembang mata…. Sudah kau muliakan dia, masih juga kurang, bahkan kau butakan matamu dan kau simpan dalam hatimu, aduhai…anak yang beruntung itu ada dimana gerangan berada.

Kelepangne isix angin….Kasihan engkau Pengeran Inax, sudah kau banggakan dan bahkan kau sembah tapi dia pergi entah kemana. Nayanyian seorang ibu yang meyayat hati, yang ditinggal anaknya pergi, ntah berapa ribu tahun ibuku, ibumu dan ibu pertiwi menagisi kehilangan anaknya yang dibanggakan dan disembah itu.
Berembe bae side dende jangke ngene….
…………………………


laun bedait malik………………….

Penyesalan atas perpisahan dan doa tulus dari Pengeran Inax agar anaknya kembali kepangkuannya.

Berapa banyak kita terima SMS dari inax kita masing masing yang memuja kita dan menjaga kita dengan doanya yang sepanjang waktu. Inax tak mengenal gelap dan terangnya hari karena dialah satu satunya yang
mengerti bahwa matahari terus ada ditempatnya. Dialah yang membelai kita agar tidur pulas dalam balutan mimpi agar esok kita anggap hari baru, agar kita selalu merasa berganti dan ada kesempatan untuk  bertumbuh dan berkembang.

Berapa laksa kejadian di gumi Sasak yang mengharu birukan kita, disebabkan oleh kerusuhan dan kejahatan diri? Kita telah lupakan tembang Pengeran Inax yang menangisi anak yang diterbangkan angin.

Apakah kita tidak pernah merasa sedikitpun bahwa kitalah mas mirah, buax ate kembang mate itu? Yang merasakan aku adalah engkau dan engkau adalah aku?

Kita selalu mengeluh kurang ini kurang itu, sehinga kita lebih suka berkelahi seperti anjing buduk meperebutkan sebuah tulang rapuh.

Berapa banyak pepadu kita yang ditangisi nasibnya tanpa merasa  bersalah sedikitpun?. Ketika satu pintu tertutup untuk kita masih ada pintu lain yang terbuka, tapi kita terus menatap pintu yang tertutup itu. Kita mencintai orang yang tidak mencintai kita dan mengabaikan orang yang mencintai kita! Disitulah sumber malapetaka kita.

Sampai kapan alunan angina alus itu menembangkan doa agar kita kembali kepada Pengeran Inax yang menjaga kita agar jangan sampai disentuh oleh seekor semutpun?.

Angin alus adalah dilah jamplung yang dikepal oleh tangan tangan Pangeran Inax lalu dipasang disepanjang pagar jalan setapak dari pesisix penjuru gumi Sasak sampai di puncak Rinjani agar terang jalan kita untuk kembali.

Semogalah kita dapat pulang sebagai anak yang disayang dan dipuja, dan jangan sampai kita terjerumus dalam kehinaan dunia ini. Amiiiin.

Wallahualam bissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *