Belajar Wisata ke Pulau Lombok

Gili Nanggu, Pantai Paling Asyik di Lombok
October 24, 2015
Wayang Sasak Amaq Darwilis Menembus Amerika Serikat
June 18, 2016

Belajar Wisata ke Pulau Lombok


Pekan lalu, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi Pulau Lombok. Kebetulan, 9 Februari lalu, Bontang Post mendapatkan penghargaan bergengsi Indonesia Print Media Award (IPMA). Koran yang anda baca saat ini pun meraih predikat Gold Winner The Best Kalimantan Newspaper. Selama dua hari di sana, 8-10 Februari, saya bersama Direktur Bontang Post Agus Susanto.
Turun dari Bandara Internasional Lombok (BIL) di Kabupaten Lombok Tengah, Senin (8/2) sekira pukul 17.00 Wita, saya langsung didatangi oleh sopir travel. Pak Nia panggilannya. Bapak tiga anak itupun menjadi sopir sekaligus pemandu saya selama perjalanan dari bandara menuju tempat menginap saya di Hotel Golden Palace, Mataram.
Banyak hal saya dapat selama perjalanan. Di Lombok, ternyata tulang punggung perekonomiannya mengandalkan sektor pariwisata. Hal itu tidak terlepas dari keseriusan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), M Zainul Majdi dalam menggarap sektor itu. Zainul kerap disapa Tuan Guru Bajang.
Menurut wikipedia, pria yang berpasangan dengan Muhammad Amin itu merupakan putra ketiga dari pasangan HM Djalaluddin SH, seorang pensiunan birokrat Pemda NTB dan Hj Rauhun Zainuddin Abdul Madjid, putri dari TGH M Zainuddin Abdul Madjid (Tuan Guru Pancor), pendiri organisasi Islam terbesar di NTB, Nahdlatul Wathan (NW) dan pendiri Pesantren Darun-Nahdlatain.
Latar belakang Zainul yang seorang ulama besar tentunya, sedikit memberi perkiraan bahwa NTB dibangun dengan nuansa Islami. Ternyata, gambaran tersebut tidak sepenuhnya benar. Saya pikir, NTB akan seperti Aceh yang seluruh umat muslimnya wajib mengenakan mukenah, atau pakaian tertutup. Gambaran saya itu tidak sepenuhnya benar.
Meski seorang ulama, namun Zainul justru “melegalkan” yang orang sebut kemaksiatan. Dia menyulap NTB mirip Bali. Bahkan, gubernur dua periode itu menjadikan pariwisata sebagai satu-satunya sektor yang berkembang hingga saat ini. Wisatawan mancanegara terus berdatangan ke NTB. Pundi-pundi rupiah yang masuk ke Pendapatan Asli Daerah (PAD) pun bertambah. Masyarakat setempat pun mendapatkan berkah berupa pekerjaan.
Di Lombok, kebaikan dan kemaksiatan mampu berdampingan. Caranya pun luar biasa. Zainul memusatkan wisata ke luar pulau utama seperti Gili Air, Gili Meno, Gili Trawangan, Pantai Senggigi, Pantai Kuta Lombok, dan beberapa tempat lainnya. Di sana, siapapun bebas mau ngapain. Mau mabuk, dugem, sampai telanjang pun tidak ada yang melarang.
Sementara di wilayah “dalam” pulau, aturannya begitu ketat. Di wilayah “dalam”, miras tidak boleh beredar, tempat hiburan malam (THM) tidak ada. Bahkan yang paling super adalah penerapan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa Rokok. Hampir di seluruh hotel di Lombok dilarang merokok. Anda ketahuan menyalakan korek saja, Rp 1 juta bakal melayang.
“Di sini (NTB, Red.), tempat wisata memang disekat. Kalau mau nakal atau cuci mata bisa ke tempat wisata luar (pulau luar, Red.) atau pantai. Di sana banyak THM, panti pijat, dan lainnya. Tapi kalau di kota tidak bisa. Aturannya ketat. Pak Gubernur kami memang luar biasa. Beliau ulama besar yang bisa mengembangkan pariwisata di sini. Sekarang, orang luar negeri terus berdatangan ke Lombok,” kata Pak Nia.
Mobil Toyota Avanza silver yang saya tumpangi terus melaju. Selama perjalanan, pria yang mengaku suku Sasak ini terus membanggakan daerahnya. “Di sini sudah tidak ada lagi jalan lubang. Semuanya mulus,” katanya lagi. Apa yang dikatakannya memang benar. Selama perjalanan, nyaris tidak ada jalanan rusak. Semuanya benar-benar mulus.
Di Lombok, sopir travel bisa merangkap sebagai pemandu wisata. Kebetulan, mereka orang asli sana yang hidupnya dari melayani wisatawan maupun pengunjung. Tanpa peta atau catatan, Pak Nia sangat hapal tempat-tempat yang biasanya jadi objek kunjungan wisatawan. Seperti tempat oleh-oleh, pusat kuliner, dan tempat maksiat itu tadi.
Membicarakan keindahan Lombok memang tidak habisnya. Meski menjadi salah satu tujuan turis mancanegara, namun mereka tetap mempertahankan budaya. Salah satu yang dipertahankan dan masih terlihat jelas adalah keberadaan Cidomo. Alat transportasi tradisional yang mirip dengan delman dari Jawa.
Dengan menggunakan ban mobil di kedua sisi, yang dipasangkan dengan gerobak mirip delman, “kendaraan” roda dua itu ditarik oleh seekor kuda. Tidak sedikit turis memanfaatkan moda transportasi itu. Selain unik, tentu saja karena ongkosnya murah.
Boleh dibilang, kultur masyarakat Lombok hampir mirip dengan Bontang. Masyarakat Kota Taman dikenal agamais dan berjiwa berbudi luhur. Hanya saja, untuk sektor wisata masih belum digarap maksimal. Untuk menarik turis asing pun akan kesulitan karena keterbatasan akses dan sarana yang disediakan.
Jika Pemprov NTB berhasil menyandingkan kebaikan dan kemaksiatan, apakah Pemkot Bontang berani melakukan hal serupa. Barangkali, pulau-pulau terluar Bontang bisa disulap menjadi pusat pariwisata. Risikonya, tentu saja budaya barat akan masuk. Namun, belajar dari Lombok, selama dikelola dengan baik dan benar, budaya barat dan pribumi bisa berdampingan, bahkan saling menguntungkan. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *