Senin, Maret 15, 2010
   
Text Size

Pencarian Artikel

DAHULU BUMI GORA KINI BUMI SEJUTA SAPI

 

Bumi sejuta sapiLombok Tengah [Sasak.Org] Dalam rangka mensukseskan Program NTB Bumi Sejuta Sapi (NTB BSS) dan Program Percepatan Swasembada Daging, Pemprov NTB menggelar Panen Pedet (anak sapi). Di acara itu, ratusan pedet dan induk sapi digelar di padang penggembalaan guna memberikan gambaran kepada publik bahwa potensi peternakan khususnya sapi yang sedang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi NTB yang merupakan salah satu aset dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat.

 

Panen Pedet (anak sapi) ini diadakan di Desa Kelebu Kecamatan Praya Tengah Kabupaten Lombok Tengah (29/10). Acara yang dibuka secara resmi oleh Gubernur NTB TGH. M Zainul Majdi, MA. Serta dihadiri oleh Bupati Lombok Tengah, Direktur Budidaya Ternak Ruminansia Departemen Pertanian RI DR Fauzi Luthan, ACIAR (Australian Centre for International Cooperation Agency), JICA (Japan International Cooperation Agency), Toga/Toma dan Para Kelompok Peternak Se-NTB.

 

Diawal sambutannya Gubenur NTB TGH M. Zainul Majdi, MA, mengucapkan terimakasih terhadap semua pihak dan khususnya kepada para peternak yang telah merespon Program NTB BSS. Kepada para peternak agar terus konsisten dalam rangka mengembangkan ternak sapi. Sehingga nantinya loteng dapat menjadi salah satu daerah penghasil ternak di NTB. ”Pembangunan subsektor peternakan pada dasarnya merupakan implementasi dan bagian dari pembangunan pertanian yang memiliki nilai penting dalam ketahan pangan serta peningkatkan SDM. Dahulu NTB dikenal dengan Bumi Gora dikarenakan untuk memenuhi kebutuhan beras, kini NTB merupakan salah satu Provinsi yang menyandang gelar Sebagai Lumbung Beras Nasional. Maka kini saatnya NTB beralih ke NTB Bumi Sejuta Sapi dengan tanpa meninggalkan fokus untuk menjaga agar NTB tetap menjadi lumbung beras Nasional”, katanya.

 

”Kebutuhan akan protein merupakan PR dari Pemprov NTB, Pemerintah Kabupate/Kota untuk bagaimana supaya kebutuhan akan protein dapat tercukupi kepada generasi muda dan anak-anak, sehingga nantinya anak-anak dan generasi muda dapat menjadi generasi yang sehat dan cerdas”.

 

”Secara historis NTB masih memiliki peluang dalam pengembangan ternak sapi, dan berpeluang menjadi pengungkit perekonomian masyarakat NTB. Program NTB BSS ini dipilih menjadi program unggulan dikarenakan baik secara historis, kultural, potensi lahan, potensi pakan dan seluruh elemen pendukung yang ada, serta dengan pengelolaan yang sungguh-sungguh dapat berkontribusi bagi kemajuan NTB . Serta keberadaan pedet sehat dalam jumlah banyak merupakan indikator keberhasilan program BSS karena angka kelahiran menjadi penentu sekaligus prioritas keberhasilan program tersebut” ungkap Majdi.

 

Menurutnya, ”beberapa indikator dalam program tersebut yakni populasi sapi pada tahun 2008 sebanyak 546.114 ekor, dengan jumlah induk sebanyak 37,36 persen dari populasi, kelahiran mencapai 66,7 persen dari jumlah induk, dan angka kematian anak sapi mencapai 20 persen dari jumlah yang lahir.

 

Jumlah pedet saat ini sebanyak 101.239 ekor, jumlah pemotongan dalam daerah sebesar 41.575 ekor dan jumlah sapi bibit dan sapi potong yang dikeluarkan dari wilayah NTB tercatat mencapai 28.500 ekor, sementara indikator lain program NTB-BSS yakni peningkatan jumlah induk sapi sebesar 38-42 persen dari populasi dan peningkatan kelahiran pedet sebesar 75-85 persen dari jumlah induk.

 

”Kepada seluruh masyarakat untuk selalu menjaga kondusifitas daerah, kepada yang suka mencuri kiranya dapat mencari nafkah melaui cara yang halal dan tidak melanggar hukum, menciptakan keamanan yang berbasis swadaya masyarakat dalam rangka menunjang program NTB BSS dalam jangka waktu yang panjang”, harap Majdi.

 

Sebelumnya, Direktur Budidaya Ternak Ruminansia Departemen Pertanian RI DR Fauzi Luthan, mengatakan ”menghargai prakarsa pemerintah NTB karena telah mengembangkan sapi bali melalui progam trobosan 3S (satu Induk, satu anak dalam satu tahun), dari sisi agro akosistem NTB memiliki kodisi yang sesuai untuk pengembangan sapi bali serta NTB telah dikenal sebagai sentra sapi bali. Banyak Provinsi lain mengahapkan pasokan sapi bibit dari NTB dan juga mengaharapkan pasokan sapi potong, sehingga nantinya NTB dapat memasok sapi bibit maupun sapi siap potong sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap sapi impor” ujarnya.

 

”Pemerintah pusat sangat konsiten untuk membangun perbibitan, karena disinilah akar persoalannya. Mulai tahun ini untuk merangsang usaha pembibitan ternak sapi, pemerintah telah merancang Program Pemberian Kredit Usaha Pembibitan Sapi atau yang dikenal dengan KUPS, dengan tingkat suku bunga 5 persen pertahun, selisih suku bunga menjadi beban pemerintah dan merupakan subsidi pemerintah. Subsidi tersebut yang mencapai 145M dan telah dianggarkan oleh pemerintah dan telah tahun ini dapat diakses diseluruh Indonesi” katanya.

 

Pada acara Panen Pedet, Gubernur NTB TGH M. Zainul Madji MA, menyerahkan Bingkisan daging kepada pelajar Sekolah Dasar dan menyerahkan hadiah Kepada kelompok peternak yang menjuarai lomba ternak sehat dan berkualitas, serta melepas keberangkatan truk pengangkut ternak sapi bibit sebanyak 300 ekor yang akan dikirim ke Kalimantan Timur ditandai dengan pemecahan kendi sebagai simbol pelepasan.

 

Sumber: pemprov NTB

 

 

Trackback(0)
Comments (0)add comment

Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger

security image
Write the displayed characters


busy


Akses Sasak.Org Melalui Perangkat Seluler Anda www.m.sasak.org

Ucapan Terimakasih

Unitiga Rekayasa System

Pengunjung

Kami memiliki 81 Tamu dan 1 Anggota online
  • muzammi

Revolver Map

Login Form

Kosakata Hari Ini

Empit

Empit adalah istilah bahasa sasak untuk kerak nasi. Kerak nasi biasanya terbentuk pada proses memasak nasi secara tradisional (menggunakan api langsung) pada dasar wadah penanak. Lihat juga : empit pada KBS
 

Multimedia Sasak

This text will be replaced

Shout Box

AISC-Taiwan

Annual Indonesian Scholar Conference in Taiwan