Jumat, September 03, 2010
   
Text Size

Pencarian Artikel

Loteng Kekeringan: Musim Tanam Tertunda

Lombok Tengah [Sasak.Org] Kekeringan akibat musim kemarau yang berkepanjangan menjelang awal musim tanam tahun 2009-2010 ini, membawa ekses negatif bagi sejumlah sektor. Terutama sektor pertanian di NTB pada umumnya dan khususnya Kabupaten Lombok Tengah. Bagaimanan tidak, hingga pertengahan Desember ini, hujan tidak kujung turun. Imbasnya, jelas para petani belum bisa memulai aktivitas bercocok tanam.

“Kalau tahun-tahun sebelumnya, jika sudah memasuki bulan Desember, tanaman padi sudah mulai tumbuh. Tapi tahun ini belum,” keluh Amaq Yasir, petani asal Praya Barat Daya. Ia mengakui, kalau musim kemarau tahun ini bisa dibilang cukup panjang. Sehingga ia bersama petani lainnya sampai saat ini belum ada yang berani menanam padi.

Hal itu dikarekan para petani takut, ketika padi sudah ditanam namuan hujan tidak juga turun. Karena, sawah yang ia miliki merupakan sawah tadah hujan. Sehingga ketersedian air baku untuk lahan pertaniannya sangat tergantung dari kondisi hujan. “Ada beberapa petani yang nekad menanam. Hasilnya banyak tanaman yang kekeringan,” tambahnya, Senin (14/12) kemarin.


 

Data yang diperoleh media ini di Dinas Pekerjaan Umum (PU) Loteng, menyebutkan, sampai saat ini baru sekitar 20 persen lahan pertanian yang sudah mulai ditanami, dari total 51 ribu hektar luas lahan pertanian di Loteng. Artinya, masih sebagian kecil lahan-lahan pertanian yang sudah mulai ditanami. Padahal, idealnya jika sudah memasuki Desember prosentase lahan yang sudah ditanami diatas 60 persen.

“Di Loteng baru 20 persen lahan yang sudah ditanami padi. Sisanya masih menunggu turunnya hujan,” ungkap Kadis Pu Loteng, Ir. H. Dwi Sugiyanto, MM., saat dikonfirmasi terpisah. Diakuinya, tahun lalu ketika sudah memasuki pertengahan Desember, sudah sekitar 60 persen lahan pertanian di Loteng yang sudah ditanami padi. Karena ketersediaan air permukaan yang dibutuhkan untuk mengolah lahan pertanian cukup banyak.

Bandingkan dengan kondisi saat sekarang ini. Di mana air permukaan yang ada hanya sekitar 8 meter kubik tiap detiknya. Sedangkan volume air permukaan yang dibutuhkan, seharusnya sekitar 20 meter kubik per detik, baru para petani di Loteng bisa memulai menggarap lahannya. Itu artinya, hanya sebagian kecil saja petani di Loteng yang sudah bisa menggarap lahan pertaniannya.

Itu pun hanya  di tempat-tempat tertentu saja. Terutama di daerah-daerah hilir aliran irigasi yang ada di Loteng. Seperti aliran irigasi Dam Aik Sateq serta aliran irigasi Bendungan Batujai. Sementara daerah-daerah non irigasi atau tadah hujan, sangat sulit untuk bisa memulai bercocok tanam. Alih-alih tanaman padi bisa hidup, justru petani sendiri yang akan rugi. lantaran tanaman padinya tidak akan bisa bertahan karena minimnya air.

Bahkan Dwi mengaku, di sejumlah daerah di Loteng para petani mengalami gagal tanam dan gagal benih. Hal itu disebabkan oleh sikap petani yang asal tanam saja, tanpa mempedulikan kondisi musim. “Kita tidak bisa menyalahkan petani sepenuhnya. Karena mereka (petani,red) juga berpatokan pada musim tanam sebelumnya. Dan, memang semestinya saat ini sudah memasuki musim tanam pertaman,” imbuh mantan Kabag AP Setda Loteng ini.

“Jika kondisi seperti ini tetap berlangsung hingga akhir Desember mendatang, kita prediksikan musim tanam pertama tahun ini bakalan akan mundur dari biasanya,” tegasnya. Ketika musim tanam mundur, jelas akan membawa konsekuensi tersendiri yakni mundurnya musim panen pertama. Begitu pula untuk musim tanam kedua dan ketiga, jelas akan ikut terganggu. Dengan kata lain, jadwal musim tanam akan terganggu secara keseluruhan.

Terkait persoalan itu, terangnya, dalam minggu-minggu ini pihaknya bersama beberapa pihak terkait lainnya akan menggelar rapat koordinasi, guna membahas penyesuaian-penyesuaian terkait pola tanam yang akan diterapkan pada musim tanam tahun ini. Karena bagaiamanapun juga, jika musim tanam mundur maka harus dilakukan penyesuaian atas pola tanam berikutnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertanak) Loteng, Ir. L.Moh. Syafriari, menambahkan, kondisi yang dihadapi para petani di Loteng juga dialami para petani di sejumlah daerah lainnya di NTB. “Pihak BMKG sendiri sudah memprediksikan hujan baru akan turun sekitar akhir Desember mendatang,” tegas mantan Kepala BP4K Loteng ini.

Dan, sebenarnya lanjut Dwi, NTB sendiri masih pada status musim kemarau, sama halnya dengan Bali dan NTT. Dimana ketiga daerah ini, mengikuti musim di Australia yang saat ini masih musim panas. “NTB, Bali dan NTT, musimnya mengikuti musim di Australia,” tandasnya. Untuk itu, masyarakat khususnya para petani di kawasan tadah hujan diharapkan bisa bersabar. Sembari menunggu musim kemarau berlalu untuk memulai penanaman.

Sumber: Suara NTB

Add comment


Security code
Refresh


Akses Sasak.Org Melalui Perangkat Seluler Anda www.m.sasak.org

Ucapan Terimakasih

Unitiga Rekayasa System

Pengunjung

Kami memiliki 70 Tamu online

Login Form

Kosakata Hari Ini

Empit

Empit adalah istilah bahasa sasak untuk kerak nasi. Kerak nasi biasanya terbentuk pada proses memasak nasi secara tradisional (menggunakan api langsung) pada dasar wadah penanak. Lihat juga : empit pada KBS
 

Multimedia Sasak

This text will be replaced

Shout Box

ShoutMix chat widget

Komentar Terbaru