Tugas, Pekerjaan dan Kewajiban
August 10, 2011
Menu Dekonstruksi ala Nazarudin: Lupa yang Membuka Jalan Revolusi
August 22, 2011

Bila Sudah Seandainya

Hazairin R. Junep

Yogyakarta (Sasak.org) Orang orang berteriak tentang bendungan yang melahap banyak desa tapi tak kunjung selesai dikerjakan. Ada gosip, fitnah dan selentingan kalau proyek mencu suar para TG jauhlebih mentereng daripada proyek yang menyelematkan hajat hidup orang banyak. BIL sudah berkali kali diharga matikan oleh pejabat yang silih berganti. Pokoknya bulan depan, resmiberoperasi, harga mati, harga mati!. Jalan berlobang diludahi, dikencingi dan ditanami pisang. Mengapa tidak menanam alang alang yang jelas akan hidup subur menembus bebatuan beraspal sisa kejayaan Soeharto itu?. Pisang tidak mungkin bertahan lama seperti sumpah serapah yang gampang menguap setelah ada beras miskin yang menyetempel setiap jidat yang rajin takbir dan sujud iatas lantai bermarmer ala Italia.

Kambing hitam dibariskan untuk didakwa dan dijatuhi hukuman berat sebagai penanggung jawab atas penundaan demi penundaan dan pembatalan berbagai proyek yang mungkin menguntungkan rakyat tapi tak memberi komisi besar pada pejabat. Kita Sanggup mengirim Haji sampai 300 ribu jamaah dan yang umrah pertahun berjuta juta. Berapa triliyun uang keluar karena semua ditenderkan ke asing dan pelayanan tidak kunjung membaik. Negara ini telah disulap menjadi ajang para makelar mencari untung seribu dua ribu dari selisih harga berantai melebihi strategi bersusun sebuah MLM penipu ulung.

Bila sudah seandainya BIL dibuka dan ada peswat yang mendarat, berapakah TKI yang diangkut kesana dan kemari?. Apakah dengan pesawat yang sekarang ada dan bandara Selaparang tidak cukup?. Apakah untuk eksport dari Lombok/NTB masih kekurangan daya angkut untuk produk kita?. Kalau untuk mengangkut haji saja pastilah tidak seberapa besar keuntungannya. Apalagi kalau untuk TKI. Sebuah negara kecil bernama Maladewa di samudera Hindia, memilki bandara kecil sanggup mendaratkan pesat besar dari berbagai penjuru dunia. Mereka memanfaatkan areal minim dan fasilitas apa adanya namun mereka terhubung ke seluruh kota penting dunia.

Malaysia dan Thailand sanggup mengirim pepaya, mangga, nanas dan belimbing ke seluruh penjuru bumi. Mereka tidak membangun bandara besar terlebih dahulu tetapi membangun SDM dan potensi yang mereka miliki. Di Thailand jambu sukun berbuah sangat lebat dan menjadi sajian dikamar kamar hotel mewah. Di sawah ladang kita jambu sukun diabaikan dan hanya ditertawakan karena buahnya satu atau dua saja. Apa yang tidak tumbuh di Pulau Lombok dan Sumbawa?. Buah duntal atau lontar dibuang sia sia dimana mana tetapi dihotel mewah Thailand buah itu dikalengkan dan menjadi campuran favorit yogurt dan buah untuk sarapan. Kangkung Lombok yang khas dan berkualitas prima, hanya sampai dibicarakan dan dibejek bejek sendiri saat makan beberok tetapi ribuan tahun belum pernah seorangpun memikirkan bagaimana mengolah kangkung agar awet dan berdaya jual tinggi. Orang Korea yang minim sayuran sangat pandai mengolah dedaunan menjadi kimchi atau asinan yang kemudian menjadi mode yang menyingkirkan kangkung untuk sesaat atau malah seterusnya.

Pernah dengar orang kita berbusa busa memuji durian bangkok, belimbing bangkok dsb?. Orang Thailand belajar bertanam durian di Kudus Jateng dan membawa bibit ke Thailand lalu dengan sangat khusuk penuh cinta mengembangkan berbagai buah buahan maka jadilah kita kerbau yang nurut saja dikasi harga murah meriah oleh murid kita itu. Pernah dengar petani sawit Malaysia yang kita olok olok tentaranya dengan sebutan pasukan injak bumi atau rumah bersalin sebagai rumah korban laki laki?. Mereka sanggup menggaji budak Indon minimal 2 jtua perbulan. Kita hanya mengarang karang saja kata kata itu untuk merendahkan mereka. Tetapi ingat, orang Malaysia mengimpor guru dari kita dan sangat menaruh hormat atas kecendekiawanan kita selama dekade dekade zaman Soekarno dan awal Soeharto. Murid murid kita itu berjaya dan menerapkan rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya, yang kita ajar sampai berliur. Para guru yang mengajar mereka pulang ke tanah air dan kencing sambil berdiri karena merasa sudah diatas angin saking melihat betapa kaum Melayu itu sangat rendah SDMnya. Karena asyiknya kencing berdiri para guru tidak tertarik lagi mengajar, sebab gaji buta dan gaji terang dicampur korup sedikit sana sini yang tetap saja tidak membuat mereka puas, maka murid diajak mencontek di acara UJIAN NASIONAL, terlanjur bergaya meniru niru negara maju, pokoknya papan nama standar Internasioanl kita pasang, soal lain kita sepakati saja termasuk nyontek berjamaah nasional. Sebelum mulai kita harus doa bersama semoga tidak ada murid kecil cerita keluar dan semoag tidak ada orangtua murid yang terusik. Setelah selesai kita luluskan semua dan kita pura pura bersuka cita dengan bedoa syukur atas keberhasilan kita mencontek yang pura pura tidak diketahui oleh pejabat yang mengajak kita kongkalikong itu.

Pembangun disegala lini, baik infrastruktur maupun SDM harus diatangani dengan seksama dengan managemen meodern. Membangun gedung dan bandara besar tentu harus sesuai dengan perkiraan daya dan kemampuan mengelola semua fasilitas dan kesanggupan menerima ledakan pendatang kalau seandainya sudah akan kira kira tiba waktunya hendak dioperasikan insyaallah. Sejak reformasi rencana pembangun lima tahun nampaknya dihapus demi mendapatkan kesempatan untuk korupsi. Di sebuah taman besar tiba tiba ada proyek membuat pintu masuk dan pintu keluar otomatis elektronik, dengan gaya menggosok kartu ala James Bond. Biayanya milaran rupian. Tidak sampai sebulan fasilitas itu rusak sam sekali dan tidak diperbaiki karena untuk itu harus ada proposal baru sebagai proyek perbaikan. Di Bandara kecil tempat saya keluar masuk tiap hari ada escalator baru buatan Korea dipasang dan dalam waktu sebulan rusak. Perbaikannya menunggu berbulan bulan, teknisi tak berdaya, porposal belum lagi dibaca. Kejahatan manusia yang mementingkan diri dan memperkaya diri dari mempersulit rakyat jelata tidak bisa dibiarkan terus. Sayang LSM yang seharusnya ikut mengontrol jadi lumpuh mungkin karena kecipratan amplop juga.

Kalau kita masuk bandara Cengkareng Internasional yang pernah menjadi salah satu bandara termegah di Asia, rasanya seperti masuk terminal. Banyak orang duduk duduk diberbagi pojok. Sopir taksi mendekati penumpang dengan menipu dan menghardik. Mental para pekerjanya sangat lemah, seiring dengan lesunya aktifitas penerbangan dan merosotnya ekonomi kita. Semua toko duty free menjual dengan harga sangat tinggi untuk barang yang bisa kita beli di toko biasa di mall besar. Bangunannya tak terurus dengan baik, soal kebersihan dan listrik sering padam dan antrean di counter Internasioanal panas bukan main. Cengkareng yang menjadi pusat negara 250 juta manusia ini, tak sangguip dikelola dengan baik. Lihatlah KLA dan Svarnabhumi, pekerjanya sigap penjaga keamanan hilir mudik, pelayanan prima. Ah… Murid murid itu selalu lebih cerdas dari gurunya. BIL tentu akan lebih kacau lagi kalau terus diurus oleh guru guru yang kencing berdiri. Kelak seandainya mudahan ketika Bali yang sering libur karena keabnyakan hari raya, apalagi nyepi yang pesawat harus libur, maka BIL yang harus mengambil alih. Ketika Bali kehabisan lahan dan airnyapun mengering, maka Lombok dapat mengambil alih dengan membangun gedung tinggi menjulang sebab di Bali tidak boleh membangun melebihi tinggi pohon kelapa!. Lombok akan dahsyat sekali melebihi Jawa dan Bali atau daerah lain itupun kalau hutannya sempat diatanami kembali.

Khayalan itu hanya diatas kertas, kesempatan ada membentang luas tapi menghadapi pejabat korup dan mementingkan diri sendiri ditambah guru kencing berdiri maka kita akan rajin berdoa dan menuduh daerah lain yang menghambat kita. Kita anggap saja orang di daerah lain sangat iri kepada kita sehingga mereka menghalangi kita membangun gumi paer. Membangun apa kawan?. Momot meco kok membangun, bangunglah dari lamunan siang bolongmu, baru tahu kalau celana basah oleh kencing sendiri. Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ihklas
Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *