Dicari Mantan Pengecut
November 26, 2008
Reformasi Pelayanan Bagi Pahlawan Devisa
November 29, 2008

Borok

Assalamulaikum WR WB.

Kemarin sore kawan saya harus berangkat ke Surabaya untuk mengurus Ibunya yang akan operasi kecil. Dia adalah satu satunya anak lelaki karena anak yang satunya lagi seorang perempuan yang tinggal jauh nun  di Kalimantan Selatan sana. Kawan saya ini sering ke Lombok dan bisa sedikit berbahasa Sasak. Saya pesan kepadanya agar mengurus ibunya dengan baik dan lebih mengutamakannya daripada yang lain. Saya jadi  ingat ibu saya yang telah berpulang tanpa saya tunggui.

Ibu kawan saya ini, menderita penyakit spele sekali, yang kalau orang Sasak pasti tidak diapa apakan. Penyakitnya adalah borok alias kurek alias koreng. Kebiasaan orang Sasak kalau koreng tidak begitu dihiraukan dan untungnya banyak makan cabe dan matahari bersinar terang sehingga kombinasi vitamin C tinggi dan sengatan matahari dapat membunuh kumannya dan kebanyakan kasus berlalu begitu saja. Koreng ibu itu adalah koreng yang lebih dahsyat, kata dokter kumannya  merasuk ke dalam dan harus dioperasi kecil, saya tak tahu medisnya bagaimana tapi alasan dokter itu sederhana, harus diangkat.

Bertahun yang lampau ketika sabun mandi susah didapat di Gumi Sasak penderita penyakit kulit meraja lela. Saya pernah kena koreng dan budun yang menyakitkan sekali. Korengnya sampai lengket dan perlu disuntik antibiotic. Satu satunya suntikan saat itu adalah panasilin. UNICEF turun tangan entah sudah berapa kali, mereka membagikan pacul, sekop kecil dan alat pertanian ke sekolah sekolah dan kami mulai bertani di sekolah masing masing. Ada pembagian susu dan sabun yang sama sama berwarna kuning. Setelah waktu yang lama sekali penderitaan orang dasan menghilang serempak. Yang parah menjadi bopeng dan yang  lain jadi burik atau bintik bintik dengan noda hitam disekujur tubuh.

Sabun sangatlah sederhana, bahan pembuat sabun banyak yaitu kelapa dan abu gosok tapi tak ada tangan yang bergerak, tak ada yang mulai melakukannya. Susu dapat diambil dari kambing dan sapi atau kerbau tapi semua dibiarkan sia sia. Masyarakat bodoh, miskin benar benar sudah bergelimpangan ditimpa kesulitan demi kesulitan. Kalau diajak bicara hanya melongo saja. Kalau diberi susu tidak diminum karena  tidak biasa. Sabun juga hanya disimpan. Alangkah sulitnya membuka hati dan pikiran manusia yang terpuruk.

Sekarang kemajuan telah dicapai, puskesmas ada didekat dasan, tapi sifat pengotor, bodoh dan tidak disiplin belum teratasi sama sekala dibanding dengan kemajuan untuk sekedar menghilangkan sakit kulit yang bernama koreng itu. Pada umumnya seorang yang lahir sebagai muslim punya kebiasaan pembersih dan rajin belajar.Kebersihan adalah bagian dari aktifitas ibadah 5 kali sehari dan belajar adalah kewajiban utama bagi setiap individu. Bila dilaksanakan dengan baik dua hal tersebut maka tidak ada manusia yang lebih bersih dan tidak ada ummat yang lebih mencintai ilmu daripada ummat Islam ini. Bangsa Sasak adalah  muslim tapi kedua hal itu tak tampak dalam keseharian mereka.

Pesan Nabi bahwa kemiskinan itu dekat dengan kekufuran, mendekati kebenarannya pada anak bangsa Sasak. Mereka kufur nikmat. Tak pandai bersyukur sehingga tak pula bisa mengurus diri dengan baik. Sampai UNICEF turun tangan sekedar membantu mengajar mereka bertani dan menanam sayur adalah akibat merosotnya harkat martabat kemanusiaan yang merajalela. Sesudah produk pertanian meningkat, alat pertanian dapat dibuat di Kotaraja serta sabun dan susu ada disetiap kios, masihkan kita beralasan macam macam untuk memepertahankan kebobrokan kita?

Gadis gadis dan pepadu Sasak telah berubah menjadi orang orang yang pintar berdandan. Banyak yang jadi bintang dan yang tidak jadi apa apa, hilir mudik di dasan dengan dandanan dan make up wajah yang modern. Pemudanya berwajah mulus jangan sampai ada jerawat kecil di kulit muka, yang wanita lebih hebat lagi, kuku kaki dan tangan telah menjadi urusan serius dan meningkatkan income salon kecantikan dengan  urusan pedicure dan manicure itu. Yang tua pingin merona yang muda mengiming iming lawan jenis dengan pesona bak kupu kupu yang menari kian kemari.

Tidak ada lagi borok dan budun yang parah di sekujur kulit karena antibiotic dapat menghantamnya dengan cespleng. Tapi kuman lain merasuk dalam daging dan tulang anak bangsa Sasak sehingga operasi apapun yang diususlkan dokter kulit atau dokter internist tak akan sanggup menolong. Kuman itu telah sampai ke hati yang paling dalam dan menjadikannya borok parah.

Jumlah warga berpendidikan meningkat tajam, jumlah orang yang diesbut TG luar biasa banyaknya dan inax tuan, amax tuan, papux tuan dan balox tuan dari ujung ke ujung dasan habis semua jari menghitung bahkan hitung pakai rambut juga masih banyakan mereka. Maling disebut mamix, koruptor diangkatdatu, preman jadi kakak dan gelandangan jadi penceramah. Sebuah perubahan pintas yang tak ada bandingnya dalam sejarah manusia. Orang bodoh yang jadi dokter dan pengacara ada di dasan kami. Orang yang dibenci jadi BPD dan politisi banyak pula. Tapi kemajuan yang dituntut segelintir anak muda yang mengumpat umpat  tak kunjung datang.

Borok yang telah merusak hati anak bangsa ini telah membuat semua infrastruktur dan fasilitas tak berguna. Tak ada yang sungguh ingin belajar, pepadu datang ke sekolah untuk melarikan diri dari tanggung  jawab sebagai anak, karena rumah memuakkan. Guru hanya pekerja yang mencari kebutuhan dan terus kecewa karena gaji meskipun dinaikkan tiap tahun tak kunjung cukup sebab keserakahan bercokol bersama borok piaraan itu. Serta merta anak tak merasa perlu belajar karena semua untuk UN dan jawaban atas UN disediakan guru borok itu.

Borok yang bercokol disetiap hati membuat pandangan jadi kelam, yang benar jadi keliru, yang salah jadi betul dan yang halal dikurangi serta yang haram makin beredar. Borok ini kita tumbuh kembangkan sendiri seperti jamur dimusim hujan. Rasa iri dan dengki adalah bibit borok hati. Obatnya adalah empati, rasa kasih dan pengertian akan sesama. Disiplin melawan kecendrungan malas dan kurang belajar adalah langkah awal menjadi imun terhadap borok hati. Istikomah dan ikhlas dalam menjalankan ibadah lima waktu dan keempat rukun islam lainnya yang dimanifestasikan dengan gerak hidup hablumminannas sebagai efek dari hablumminallah adalah solusi cepat.

Bukan jubah, bukan sorban, bukan mobil dan rumah mewah, bukan jabatan dan pula bukan kening yang hitam yang mampu menyembuhkan borok massal kita, tapi kesediaan untuk mengulurkan tangan dan senyuman, lalu  beriuk tinjang mengoperasi borok itu dengan pisau keikhlasan untuk  memuliakan kemanusian yang metunggal aji sopox yang telah dirintis oleh papux balox kita.

 

Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

1 Comment

  1. ayu safrina says:

    oce

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *