Rombongan Kades Teros Kunjungi Bun Mudrak
April 7, 2012
Jlo pe kuliq
May 1, 2012

Budak Yang Mulia

Hazairin R. Junep

Luang Prabang – Bangkok (www.sasak.org). Jika aku dan engkau hanyalah keturunan Panjak (Budak), terus apa?. Lihat Barrack Hussein Obama, dia adalah keturunan Afrika yang selama 600 tahun bangsanya diperbudak oleh kulit putih!. Bangsa Afrika adalah bangsa yang damai. Sebelum mereka dihancurkan dan diperbudak mereka telah sangat maju bahkan mereka bersanding dengan Cordoba- Andalusia dengan universitas besarnya di Timbuktu- Mali sampai 1400 an Masehi. Bangsa Mali itulah yang lebih dahulu datang ke Amerika bersam aorang Asia kemudian Viking, jauh sebelum para penjarah Columbus dan Kapten Hernan Cortes yang membunuh 8000.000 orang Amerika Asli. Amerika dahulunya bernama Malibu artinya tanah orang Mali. Kini kita kenal ada pantai indah bernama Malibu di Los Angelos California.

Bangsa Sasak adalah bangsa yang damai sebagaiamana bangsa Afrika. Saking damai dan baik hatinya mereka polos lombox buax menerima siapa saja menjadi kawan dan tetangga. Di Abad ke 8 M saat orang membangun Borobudur bangsa Sasak beragama Buddha yang dipelesetkan menjadi Boda. Jauh sebelumnya Bangsa Sasak sudah berhubungan dengan Bangsa Champa Vietnam tebukti dengan penemuan penemuan Nekara yang berasal dari abad ke 10 M. Bangsa Sasak mirip sekali nasibnya dengan bangsa Champa yang kehilangan sejarah dan budayanya. Bangsa Champa lari morat marit keseluruh penjuru dunia setelah diserang aggressor dari China, Vietnam sendiri dan akhirnya aggressor Prancis dan Amerika memusnahkan mereka sedemikian rupa sehingga yang tersisa adalah para perantau sampai sejauh Amerika sana. Bangsa Sasak juga mengalami morat marit tetapi mereka tidak lari keluar kecuali sedikit sekali. Mereka bersembunyi di hutan hutan seluruh Lombok maka berkuasalah penjajah Majapahit, Bali kemudian Inggris, Belanda, Jepang dan tak ketinggalan bangsa Indonesia sendiri.

Setelah berdirinya Negara Indonesia bangsa Sasak terlunta lunta, ikut sana ikut sini. Sekelompok mantan pegawai penjajah menginginkan ikut penjajahnya. Itu sangat normal karena sudah terbiasa enak hidup dibawah ketiak penjajah maka yang paling baik adalah menjaga status quo. Dengan datangnya ambtenaar baru berbau lokal maka yang direkrut tentu saja para bekas pegawai penjajah itu, karena sudah pengalaman beradministrasi. Dari kalangan orang orang itulah muncul berbagai istilah dimasyarakat Sasak. Mulai ada yang mengklaim diri bangsawan, menak dan berbagai rupa cloning tatanan penjajah muncul dimana mana.

Kelompok yang mengaku aku berdarah biru itu adalah orang yang enggan menjadi Sasak, mereka memeilihara bahasa penjajah dan berlagak sebagai si penjajah dengan menggunakan pakaian ala tuannya. Mereka mati matian mencari legitimasi dengan mencari jalur trah sampai ke raja Majapahit lalu mengklaim bahasa Kawi adalah bahasa Sasak dan tidak tanggung tanggung diangkatlah bahasa Kawi itu sebagai bahasa Halus sedangkabn bahasa Sasak adalah bahasa Kasar. Anehnya banyak sekali dari para penyembah Kawi itu tidak becus berbahasa kawi lalu mereka menggunakan bahasa Jawa dan Bali yang disate dan dipecel bersama bahasa Sasak sepotong sepotong.

Saya teringat bagaimana nekadnya orang Timor Timur, mengganti bahasa Indoensia dengan bahasa Portugis segera setelah merdeka. Kasihan sekali bahwa tidak satupun dari Rakyat Jelata bisa berbahasa Portugis, baik saat dijajah si kolonial miskin itu maupun sesudahnya. Orang yang berbahasa Portugis hanyalah kelompok pegawai kolonial dan sedikit keturunannya. Lantas pemerintah Xanana Gusmao, menginstruksikan kembali pemakaian bahasa Indonesia yang merupakan bahasa rakyat jelata sampai pelosok. Masih lumayan bahwa bahasa portugis dipakai oleh 300 juta manusia di bumi, jadi ia adalah bahasa hidup. Itulah yang terjadi dengan bahasa Kawi, bahasa Bali dan bahasa Jawa di Gumi Sasak Darussalam itu. Sekelompok kecil orang nekad mengkawikan semua bangsa Sasak adalah sebuah usaha sia sia. Bahasa Kawi adalah bahasa sastera yang setengah hidup, masih lumayan bahasa Sanskerta dan Latin yang masih bisa jarang jarang didengar dalam siaran warta berita yang menggunakan keduanya di Radio Internasional

Bangsa Sasak adalah orang yang sangat terbuka, mereka tidak melarang orang berkembang dan bahkan mereka mengadaptasi semua jenis makanan, musik dan bahasa, oleh sebab itu usaha mengarahkan mereka kesatu sudut kecil dan sempit adalah kontra produktif dengan perjuangan memperkuat jati diri anak bangsa Sasak yang memiliki bahasa dan budaya berciri khas. Bahasa Sasak adalah bahasa Alami modern yang selevel dengan bahasa dunia seperti Inggris, Rusia, Spanyol, Prancis atau Jerman. Bahasa Sasak itu tidak ada yang kasar tetapi untuk pergaulan ia mempunyai bentuk formal yang terbatas pada pronominal, verba dan nomina. Itu persis seperti dalam bahasa Prancis “Vous”. Bahasa Rusia “Viy”, Bahasa Spanyol “Usted” dan Bahasa Jerman “Sie”. Yang dipakai sehari hari adalah bahasa Sasak Kolokial, bukan bahasa kasar. Bahasa Kasar adalah bahasa ynag keluar dari orang mabuk, gila atau stress.

Berbudi bahasa halus adalah suatu karakter dari bangsa Sasak. Silahkan pergi ke desa desa, mereka pasti menggunakan budi bahasa halus meskipun dengan bahasa kolokial. Budi bahasa Halus adalah sikap, bukan pilihan kata, bunyi dan gesture semata tetapi lebih kepada keindahan dari dalam jiwa. Orang orang desa itu bicara dengan sikap menunduk karena hormat tetapi banyak yang mengecap kita sebagai orang udik disebabkan oleh stigma kelompok penyembah Kawi yang memfitnah bahasa Sasak sebagai bahasa Kasar. Jadi siapakah yang diam diam membunuh bahasa Sasak?. Lebih lebih sekarang dengan adanya bahasa Indonesia, anak anak kecil telah kehilangan akarnya dan malu berbahasa Sasak, padahal bahasa Indonesia adalah bahasa buatan yang lahir dari percampuran berbagai bahasa Nusantara dan aAsing. Bahasa Indonesia tidak sanggup mencari padanan kata untuk istilah teknik dan ilmiah, bahasa Sasak bisa karena idenya ada.

Sikap minder wardig atau minder complex yang diderita sebagian bangsa Sasak terutama dari kalangan mantan ambtenaar sampai mantan wadya bala Majapahit dan Bali, memaksa meraka mengais kais takepan dan kuburan untuk mencari legitimasi sebagai keturunan darah biru. Anehnya, setelah sumber tidak dapat mereka mengambil jalan pintas dengan mengaku sebagai keturunan raja ini atau itu tanpa mempelajari mana raja sesungguhnya dan mana dongengan. Mereka berlomba lomba menyembunyikan identitas seolah ada yang akan menyergap kalau sampai ketahuan sebagai anak bangsa Sasak. Sikap itu sungguh berbeda sangat jauh dengan sikap orang orang Afrika yang telah dianiaya dan diperbudak lahir bathin sampai detik ini oleh orang kulit putih. Orang yang disebut “Negro” untuk menghapus jejak kebangsaannya adalah manusia paling menderita di milenium ini bersama orang Asia dan Indian serta Aborigin. Orang orang Afirka Amerika tidak berhenti berjuang untuk menjadi manusia terhormat dan berprestasi disegala bidang. Mereka melahirkan banyak karya yang disembunyikan secara sisetmatis oleh rasisme Amerika. Mereka adalah seniman dan pemikir besar abad ini. Mereka membuat dunia bergoyang oleh musik, tertawa oleh kelucuan dan merenung oleh pemikiran hebat. Mereka adalah keturuna budak dan masih diperbudak. Apakah semua halangan menghentikan mereka untuk maju?. Tidak, mereka tak dapat dihentikan oleh siapapapun. Maka kini kita saksikan Fir’aun modern bernama Barrack Hussein Obama!. Tetapi ada lagi yang sangat penting bahwa di dalam Al Qur’an ada satu orang yang menjadi suri tauladan bagi orang mukmin dalam mendidik anak. Ia orang yang sangat sholeh dan brillian, namanya Lukmanul Hakim. Ia adalah seorang budak, tetapi kemuliayaannya tak tertandingi sehingga kisahnya masuk didalam Kitab Suci kita.

Bangsa Sasak, pasti bisa sehebat kawannya yang dari Afrika itu. Kita adalah manusia dengan rahmah melimpah. Kita diperbudak oleh berbagai bangsa kuning, bangsa coklat, bangsa bule, bangsa kerdil tetapi tidak sedahsyat derita bangsa Hitam itu. Mari kita berdiri di cermin dan berkaca. Betapa kita adalah manusia sempurna, berakal, berbudaya dan bahasa indah. Kita adalah anak bangsa Sasak yang sanggup keluar hidup hidup dari letusan Rinjani, dari amukan Tsunami dan Gempa Bumi. Kita perang melawan penjajah dan survived. Kita memang terpencar pencar tetapi kita adalah semeton. Tak ada satupun kekuatan yang dapat meruntuhkan kekuatan kita sebagai semeton. Kita adalah manusia yang sudah melewati banyak kepalsuan tetapi jati diri kita sesungguhnya ada didalam jiwa Sasak lombox buax itu. Kejujuran, welas asih, kesetiakawnan yang tinggi adalah sifat dasar yang wajib dijaga. Tidak usah kita menghapus jejak kalau kakek nenek kita pernah menjadi orang yang terjajah. Kita ambil hikmahnya dan terus bekerja keras menjemput masa depan gilang gemilang. Kalau kita adalah anak cucu Panjak, so what!. Gitu loh!. Maju dan Jayalah Bangsa Sasak!.
Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ihklas
Hazairin R. JUNEP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *