FAKTOR POLITIK UANG DALAM PILKADA

April 29, 2008 · Filed Under Artikel, Politik · 11 Comments 

Oleh Rosiady Sayuti

Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam setiap Pilkada, masalah uang ataupun politik uang menjadi salah satu magnet yang sangat menarik. Mulai dari uang untuk ‘membeli’ kendaraan politik yang akan mengusung seseorang menjadi bakal calon, uang saku untuk tim sukses, sampai pada uang untuk mengiming imingi pemilih agar tergiur memilih calon yang bersangkutan. Para calon berasumsi dan tentunya meyakini bahwa dengan uang yang dimilikinya, mereka akan dapat membeli hati pemilih. Dengan uang yang dimilikinya, wallahu alam dari mana sumbernya, halal atau haram, mereka akan dapat menarik simpati massa pemilih.

 

Pertanyaanya adalah apakah memang benar demikian? Apakah rakyat kita di tanah air ini sudah sedemikian rendah harganya, sehingga hanya dengan amplop yang berisikan 20 ribu atau 50 ribu atau bahkan 100 ribu mereka akan menggadaikan nasibnya kepada para pembayar kekuasaan, yang belum tentu sesuai dengan harapan masyarakat itu sendiri? Bukankah dalam Pilkada lima tahunan seperti ini, apabila salah memilih gubernur atau walikota atau bupati, daerah itu akan ketinggalan minimal sepuluh tahun? Mengapa sepuluh tahun, bukan lima tahun sesuai dengan masa jabatan yang bersangkutan? Ya sepuluh tahun, karena orang yang tidak tepat apalagi memang orang yang orientasinya hanya untuk materi, bukan untuk membangun masyarakat, maka masyarakat di daerah kabupaten atau propinsi itu tidak saja rugi lima tahun, sebagaimana masa jabatan yang bersangkutan, tapi juga akan ditambah rugi lima tahun lagi karena ada orang yang sesungguhnya mampu membawa lompatan besar dalam membangun daerahnya tidak mendapat kesempatan. Sementara daerah lain yang tepat dalam memilih pemimpin akan meninggalkan daerah yang salah memilih pemimpin itu lima tahun. Itulah sebabnya menurut saya, suatu daerah akan rugi minimal sepuluh tahun.

 

Tapi baiklah, itu hanya hitungan matematik. Sekarang pertanyaannya kembali kepada benarkah faktor uang sangat menentukan dalam mengarahkan suara pemilih? Dr. Denny JA, Direktur Lingkaran Survey Indonesia, kawan saya satu kampus ketika di Ohio State University ketika sama-sama menempuh program doktor, dalam presentasinya di depan kader PBB dan PKS di Lombok Raya beberapa waktu yang mengatakan bahwa faktor uang sebenarnya hanyalah salah satu saja dari faktor yang dapat memenangkan seseorang dalam suatu pilkada. Faktor utamanya adalah faktor figur. Dalam penelitian yang telah dilakukan oleh LSI di berbagai daerah kabupaten/kota maupun propinsi disimpulkan bahwa faktor partai pendukung pun tidak memiliki korelasi yang signifikan dalam mempengaruhi suara pemilih. “hampir tidak ada korelasinya.” Kata Denny JA.

 

Dicontohkan bagaimana partai-partai besar di negeri ini tidak mampu memenangkan pilpres beberapa waktu yang lalu. Demikian pula di berbagai daerah, mesin-mesin politik partai besar tidak mampu memenangkan pilkada; hanya karena figur yang diusung ‘tidak laku’ di masyarakat. Dan kalau sudah ‘tidak laku’ maka uangpun tidak akan dapat mempengaruhi suara pemilih.

 

Di NTB sendiri, kita sudah berpengalaman dalam pilkada kabupaten Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu, Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Lombok Tengah, serta Kota Mataram. Jika dicermati, dari pengalaman tersebut, maka dapat disimpulkan apa yang disebut oleh Denny JA tadi terbukti juga di enam daerah pemilihan tersebut. Bahwa faktor figurlah yang sangat dominan. Paket-paket yang dikenal banyak uang dan menggunakan kekuatan uangnya untuk mempengaruhi rakyat, ternyata tidak terpilih. Di Banyuwangi, seorang istri bupati dari kabupaten lain terpilih menjadi bupati hanya dengan dukungan parai-partai kecil dan tidak pakai money politik. Di Sumatra Barat, seorang bupati yang sukses memimpin daerahnya menang dalam pilgub tanpa money politik. Mengalahkan kandidat lain yang diukung partai besar dan bermodal besar. Konon sampai ada yang menyewa helikopter untuk menebar vucer yang tidak lain adalah uang juga.

 

Makna dari uraian di atas adalah bahwa sesungguhnya rakyat kita masih punya hati nurani. Mereka masih punya harga diri. Kalaupun mereka mengambil uang itu ketika disodorkan, semata-mata karena tidak ingin membuat orang lain tersinggung. Padahal dalam bilik suara, mereka tidak memilih orang yang memberinya uang. Mereka meyakini ceramah seorang guru ngaji di kampungnya, apalah artinya uang lima puluh ribu atau seratus ribu kalau pada akhirnya di kubur kita di’bokbok’ oleh malaikat Mungkar Nakir hanya karena pecahan lima puluhan ribu yang diberikan oleh tim sukses pasangan calon yang bertarung dalam sebuah pilkada…… Naudzubillah min zalik.

Lombok, Tetangga Bali yang Memesona

March 10, 2008 · Filed Under Artikel · 1 Comment 

KOMPAS, Selain Bali, pulau yang berdekatan dengan Bali ini juga menjadi tujuan wisata yang menarik, yakni Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sama dengan Bali, di pulau yang sebagian besar penduduknya menganut agama Islam ini memiliki panorama alam yang memesona.

Sekitar 80 persen penduduk Lombok adalah suku Sasak. Sisanya adalah orang Jawa, Bali, Arab dan China. Meski sebagian besar penduduknya menganut agama Islam, tetapi di beberapa tempat budaya Hindu masih bisa dijumpai.

Mesjid dan pura seakan hidup berdampingan secara damai di seluruh Lombok. Tak heran jika pengunjung masih bisa merasakan aura Bali di pulau yang mempunyai luas 473.780 ha ini.

Di Lombok Barat,  daerah Bayan, masih dijumpai penganut aliran Islam Wetu Telu (waktu tiga). Jadi, tidak seperti penganut Islam yang melakukan shalat lima waktu, para penganut ajaran hanya shalat tiga waktu saja.

Lombok yang memiliki ibukota Mataram ini, memiliki pesona, tidak hanya karena Selat Lombok adalah peralihan di antara I Asia dan Australia untuk fauna dan flora zona (garis Wallace), tetapi juga tradisi budayanya yang memikat. Beberapa upacara keseharian masih digelar secara rutin oleh suku Sasak.

Topografi pulau ini didominasi oleh gunung berapi Rinjani yang ketinggiannya adalah 3.726 meter di atas permukaan laut. Gunung ini juga merupakan salah satu tujuan favorit bagi para pendaki gunung, karena keindahan alamnya. Selain puncak, tempat yg sering dikunjungi adalah Segara Anakan, sebuah danau kawah di ketinggian 2.000 mdpl.

Selain Rinjani, pantai Senggigi adalah pantai yang sering menjadi tujuan wisata, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan dalam negeri. Di sekitar Lombok, terdapat beberapa pulau kecil yang terkenal dengan keindahan alamnya, diantaranya, Gili Air, Gili Meno dan Giri Trawangan.  Pulau-pulau kecil ini adalah pulau yang tidak berpenghuni. Jadi, suasananya lebih sepi dengan pemandangan alam yang masih alami. 

Pemdangan alam yang indah bukanlah satu-satunya daya tarik Lombok. Yang tidak akan dilewatkan wisatawan jika berkunjung ke pulau ini adalah mutiara yang dibentuk menjadi beragam assesoris yang cantik. Pusat mutiara ini terdpat di Lombok bagian selatan, yakni Sekarbela di desa Banyumulek. Atau jika ingin merasakan nuansa tradisonal susu Sasak, bisa mengunjungi kampung tradisional di Rambitan.

Soal makanan? Jangan lupa mencicipi ayam taliwang dan plecing kangkung.  Ada juga beragam sate khas Lombok, seperti sate bulayak, yakni sate yang disajikan dengan sambal kacang dan ketupat. Dagingnya juga macam-macam, mulai dari sapi, ayam, jerohan ayam hingga keong.    

Ketika Eksistensi Sasak Terancam; Perspektif Awam*

November 20, 2007 · Filed Under Artikel, Masyarakat, Opini Sasak.org · 5 Comments 
Menurut teori Sosiologi, ketika suatu komunitas mendapat ancaman, komunitas tersebut akan menjadi bersatu. Begitu juga yang terjadi pada masyarakat Sasak. Namun sayangnya, kesadaran akan ancaman tersebut tidak berlaku pada semua masyarakat Sasak, sehingga persatuan yang utuh dan kompak belum bisa terwujud.

Tulisan ini, bertujuan untuk memberikan kesadaran bersama tentang ancaman (perilaku yang tidak positif pada masyarakat Sasak sekarang bisa menjadi ancaman keberadaan kita apabila tidak segera dibenahi) tersebut sehingga nantinya masyarakat Sasak bisa bersatu padu membangun negerinya.

Pemahaman orang luar tentang Sasak.

Menyebut kata Sasak, bagi orang luar Lombok (selain bagi orang Bima, Sumbawa dan Bali) sangatlah asing kedengarannya. Sebagian besar mereka yang pernah mendengar suku tersebut, beranggapan Sasak adalah suku terasing dengan kultur keseharian primitive yang tinggal di Lombok. Hal ini disebabkan oleh publikasi media yang menyoroti kehidupan adat suku Sasak lebih sering diwakilkan oleh masyarakat-masyarakat di daerah terpencil, karena di daerah tersebutlah adat sebagai identitas asli dipelihara dengan baik.

Agama Versus Adat

Lunturnya budaya-budaya asli masyarakat Sasak, tidak terlepas dengan pengaruh Islam yang begitu kuat di kalangan masyarakat Sasak. Beberapa tarian atau kesenian sekarang sangatlah sulit ditemui karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Rudat, Gandrung, adalah nama tarian yang penulis sendiri tidak pernah bisa menyaksikannya secara langsung.

Bagi pemerhati budaya Sasak, hal tersebut sangat disayangkan, karena di saat orang lain berlomba melestarikan warisan nenek moyangnya, kita justru meruntuhkan budaya-budaya tersebut dengan alasan agama kita sendiri, Islam.

Tidakkah kita bisa menemukan solusi yang lebih arif memahami Islam dengan tidak menghancurkan aset budaya kita dan merobek identitas kita sendiri?

Masyarakat Sasak kehilangan identitas diri.

Disamping itu, bahasa Sasak sebagai salah satu identitas kita, lambat laun berubah menjadi bahasa Sasak yang disesuaikan dengan bahasa sehari-hari, meskipun ini merupakan suatu konsekuensi pertukaran dan pergumulan budaya.

Namun yang menjadi kekhawatiran, bahasa Sasak sebagai bahasa daerah pemersatu warga Sasak, sekarang ini menjadi bahasa yang kaku di kalangan generasi muda Sasak. Kata Inaq, Amaq, Tuaq, Amaq rari, dan lainnya lama kelamaan berganti dengan Ayah, Mama, Om, Tante dan lain-lain. Siapakah nanti yang akan mengerti dan bisa menggunakan dengan baik dan tepat bahasa atau istilah-istilah Sasak dulu?

Seperti diberitakan harian Kompas (13 November 2007, www.kompas.co.id), ada 726 bahasa daerah yang terancam punah, hilang dari penuturnya. Akankah bahasa Sasak juga suatu saat kelak akan hilang dari masyarakat kita? Itu tergantung dari kita.

Dan sudah hampir punah alasan dan bukti kita dalam menunjukkan ini warna kita. Dan akankah kita mendompleng warna orang lain sebagai warna kita, dan mengatakan dengan bangga kami bagian dari negeri (pengaruh atau jajahan) si A atau si B?

Selain masalah budaya dan adat istiadat, kehidupan masyarakat kita juga nyaris tak beridentitas, masyarakat kita yang terkenal Islami dengan predikat Pulau seribu masjid berubah menjadi masyarakat yang beringas, suka bertengkar dan berselisih. Dan hasilnya, berpuluh-puluh tahun kita tidak pernah mampu mendapatkan pemimpin yang sama yang membawa kita dengan arah dan tujuan yang sama memakmurkan rumah dan masyarakat Sasak.

Fenomena ketika terpilihnya Lalu Serinate sebagai Gubernur, bisa mencerminkan sikap dan kondisi masyarakat kita. Kondisi yang sangat kritis…..

Masyarakat Sasak umumnya sangat puas dengan terpilihnya orang Sasak asli sebagai pemimpin mereka, setelah berpuluh-puluh tahun dipimpin oleh orang dari luar komunitasnya.Sebuah penantian yang sangat panjang. Mereka menganggap ini kemenangan orang Sasak/Lombok, meski sebagian mereka mengakui kapabilitas calon dari luar komunitas Sasak bisa lebih baik dalam memimpin masyarakat kita.

Kita tidak punya pemimpin yang memiliki kapabilitas yang memadai seperti daerah lain, tapi kita lebih dan sangat tidak mau menjadi komunitas yang hanya menyediakan kaum saja.

Struktur Masyarakat Sasak.

Kondisi masyarakat Sasak yang demikian, merupakan cerita panjang yang salah satunya dipengaruhi oleh struktur panutan dalam masyarakat kita, selain dari kronologis sejarah bangsa Indonesia sebagai komunitas induk kita, seperti kolonialisme dan rezim orde baru.

Menurut pengamatan penulis, ada 3 macam karakter panutan dalam struktur masayarakat Sasak. Karakter panutan ini sangat mempengaruhi filosopi berpikir masyarakat, serta mempengaruhi kehidupan politik, pendidikan sampai dengan pilihan profesi. Ketiga tipikal panutan tersebut adalah;

  1. Struktur masyarakat Sasak yang dipimpin atau dipengaruhi lebih banyak oleh Tuan Guru (kiyai), biasanya tipikal masyarakat ini memiliki kultur yang religius, dan mewarnai sebagian besar masyarakat Sasak, sehingga Lombok yang didiami mayoritas suku Sasak mendapat predikat Pulau Seribu Masjid.
  2. Masyarakat Sasak yang dipimpin dan dipengaruhi lebih banyak oleh pemerintah setempat, serta kalangan cerdik pandai, biasanya ditemui di daerah perkotaan dengan komposisi masyarakatnya yang heterogen, dan latar belakang profesi dan pendidikan yang berbeda-beda.
  3. Masyarakat Sasak yang dipimpin dan dipengaruhi lebih banyak oleh pemuka adat, sesepuh desa (sasak; pemangku adat), masyarakat Sasak seperti ini banyak dijumpai di sekitar lereng Gunung Rinjani, seperti Bayan, Santong, Gangga, dan Sembalun.
Dari ketiga tipikal masyrakat tersebut, sebagian besar masyarakat Sasak memiliki karakter pertama dimana kehidupannya dipimpin dan dipengaruhi lebih banyak oleh Tuan Guru. Dan hal ini sangat mempengaruhi kondisi masyarakat Sasak saat ini.

Kegagalan Pemerintah dan kurang berhasilnya Tuan Guru.

Pembangunan di NTB dan Lombok khususnya nyaris bisa disebut stagnan, kehidupan masyarakat sekarang ini lebih tepat disebut sebagai hasil pergeseran waktu ke arah modernisasi (suatu hal yang memang wajar terjadi secara alami), bukan karena karya dan kreativitas yang disponsori atau dimotori oleh kinerja pemerintahan yang brilliant.

Pemerintahan NTB, terutama ketika dipimpin oleh orang-orang luar, sangat jarang bergandengan tangan dengan rakyat-rakyat kodeq Sasak Lombok. Suara rakyat kodeq terbungkam rapat oleh kebodohan dan ketidak-mengertian ini itu. Mereka lebih sering memandang pemerintah sebagai raja-raja yang kepadanya harus jongkok membungkukkan badan memberi hormat daripada harus meminta ini itu untuk difasilitasi. Mereka sangat patuh dengan doktrin “bodo orang Sasak jual Sabo muraq-muraq” . Rakyat lebih sering jadi obyek di meja kerja pemerintah.

Pemerintah gagal menyentuh masyarakat kecil, dan sayangnya mereka juga jarang mau bekerja sama dengan Tuan Guru yang jauh lebih dekat dengan masyarakat Sasak. (Seperti ketika Warsito jadi gubernur NTB selama 2 periode).

Pemerintahan sebelumnya lebih berorientasi pada kekuasaan, tidak punya niat yang tulus untuk memajukan dan meningkatkan kualitas masyarakat Sasak. Kondisi masyarakat Sasak waktu itu, tak ubahnya seperti Indonesia di bawah Belanda. Ada opini-opini tertentu yang melekat pada masyarakat Sasak tentang superioritas etnis tertentu atas etnis Sasak sendiri.

Bagaimana dengan Tuan Guru? Tuan Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam memberi warna masyarakat Sasak saat ini. Di sini ingin disampaikan setidaknya dua peran besar Tuan Guru yang diharapkan kedepan mau dibenahi oleh Tuan Guru.

Yang Pertama tentang perlunya menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan. Kondisi masyarakat Sasak yang kekurangan sumber daya manusia (diluar bidang agama Islam), lebih sering disebabkan karena doktrin yang ditanamkan Tuan Guru pada masyarakat Sasak. Sering kita dengar lantunan lagu Sasak yang seolah apabila kita tidak bersekolah seperti yang diinginkan Tuan Guru, kita (masyarakat Sasak) akan rugi dunia akhirat. Siapakah yang mau rugi dunia akhirat?? Kita atau masyarakat Sasak tentu tidak mau, akhirnya mereka berbondong-bondong masuk pesantren dan melupakan sama sekali ilmu-ilmu lainnya (baca; ilmu dunia) dan bahkan paling ekstrim, ada kalangan tertentu yang seakan mengharamkan kuliah menuntut ilmu umum (baca; selain agama Islam).

Hal tersebutlah yang menyebabkan kita jarang memiliki kader-kader handal yang menguasai ilmu politik, ekonomi, teknologi, dan lain sebagainya. Apakah kita akan terus berharap lulusan pesantren kitalah nantinya yang menjadi Gubernur, mendirikan rumah sakit, membangun pembangkit listrik, jalan, jembatan, dan lain sebagainya? Tentu tidak, kita membutuhkan penguasaan ilmu pengetahuan di segala sektor, tidak terbatas hanya pada agama saja.

Yang kedua adalah sikap toleransi antara jamaah pengajian yang satu dengan jamaah pengajian yang lain, organisasi keagamaan yang satu dengan organisasi keagamaan yang lain.

Dalam Islam sendiri terjadi perbedaan-perbedaan pendapat dan aliran (pluralisme), begitu juga dengan masyarakat Islam Sasak, meskipun cendrung memiliki aliran yang sama, bahkan satu organisasi sekalipun, perbedaanpun tak bisa dielakkan.

Namun sayang, terjadi fanatisme berlebihan tentang Tuan Guru masing-masing jamaah. Dan lebih disayangkan lagi, fanatisme mereka tak bisa diredam oleh ajaran Islam yang lebih pokok sebagai agama Rahmatan lil ‘alamin. Agama Islam sebagai agama rahmat (baca; kasih sayang) sering dikalahkan oleh siapa Tuan Guru mereka. Rasa sayang sesama warga Sasak dan Islam sekalipun, dicampakkan karena ketidak relaan mereka berbeda Tuan Guru dan pemahaman, maupun pimpinan organisasi.

Dari hal tersebut, jelas terlihat ketergantungan masyarakat Sasak pada fungsi serta peran Tuan Guru, yang tentu saja ke depan, kita harapkan dapat berperan lebih aktif dalam pembangunan masyarakat Sasak.

Saya berharap di kemudian hari, masyarakat kita masih dan terus rajin pergi mengaji, tapi Tuan Guru juga bisa mengajarkan mereka memahami perbedaan, mengajarkan mereka bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan, dan mengajarkan mereka kearifan (ma’rifat) sebagai suatu strata terhormat dalam struktur keimanan seorang muslim.

Perlunya merekonstruksi pemahaman masyarakat

Masyarakat Sasak seperti masyarakat lain di dunia ini, perlu berbagi tugas dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, ketika seseorang memilih konsentrasi ilmu yang berbeda dengan kita, itu adalah suatu hal yang positif dan memperkaya khazanah pengetahuan komunitas kita.

Masyarakat Sasak juga, seiring dengan bergulirnya waktu, mau tidak mau harus ikut dalam pergelutan globalisasi, pluralisme suatu hal yang mutlak. Penguasaan ilmu pengetahuan di segala sektor menjadi sebuah keharusan untuk membentuk komunitas yang mandiri.

Sehingga kearifan menyikapi perbedaan, penguasaan ilmu dan pengetahuan, penyatuan visi dan misi membangun komunitas Sasak menjadi tantangan kita bersama.

Perbedaan-perbedaan pemahaman dan penafsiran di tengah masyrakat hendaknya dicermati secara arif, dikomunikasikan dalam diskusi yang ramah dan bersahabat, mengedepankan kebersamaan, dan ketulusan dalam membangun komunitas Sasak.

Selain itu juga, Sasak kini jarang terdengar gaungnya, Sasak terdengar lemah dan kadang terkesan ragu disematkan di dada kita. Siapakah yang akan menyuarakannya kalau bukan kita orang Sasak sendiri.

Marilah kita bangga dan berkarya untuk Sasak kita tercinta. Ini bukan masalah sukuisme, tapi kita memang jarang atau bahkan tidak pernah peduli dengan etnis kita ketika orang lain mencuatkan dan memperkenalkan etnisnya dengan bangga.

Semoga tulisan ini bermanfaat, kritik dan saran silahkan kirim ke email yusranil@yahoo.com.

(* Penulis bukan seorang pemerhati atau peneliti sosial (bidang sosial;awam). Tulisan ini merupakan opini yang didasarkan pada sense penulis selama berkecimpung dan berstatus anggota masyarakat Sasak, tulisan ini (sebagian besar) tidak didasarkan pada data-data hasil penelitian sosial yang ilmiah dan akurat, sehingga tidak bisa dijadikan reference, tapi sebaiknya hanya menjadi bahan renungan untuk konsumsi masyarakat Sasak sendiri).

Next Page »