Investasi Emaar Properties, Tahap Pertama Mencapai Rp 20 Trilyun
Besarnya dana investasi di NTB yang mencapai Rp 20 trilyun menurut Kabag Humas Setda NTB Ibnu Salim, SH, MSi, terungkap dalam pertemuan antara perwakilan Pemerintah RI dan pihak Emaar Properties di Jakarta, Senin (14/7) lalu. ‘’ Emaar mempresentasikan master plan dari resort wisata bertaraf internasional. Di sana disampaikan tahapan-tahapan pembangunan. Kalau kemarin kita dengar investasi mencapai Rp 6 sampai Rp 7 trilyun. Tapi sekarang di tahapan pertama investasinya mencapai Rp 20 trilyun,’’ terangnya pada Suara NTB, Rabu (16/7) kemarin.
Hadir dalam presentasi Emaar Properties di Jakarta beberapa waktu lalu, dari pihak Satwapres, M. Abduh, pihak BKPM Pusat, Meneg BUMN, Gubernur NTB Drs. H. L. Serinata, Kepala Bappeda NTB Drs. H. L. Fathurrahman, MSc dan pihak dari Emaar Properties.
Selain itu, pada tahapan pembangunan selanjutnya, ungkapnya, Emaar Properties berencana mengembangkan lokasi wisata marina di kawasan tersebut. Termasuk, membangun kawasan konservasi di areal seluas 8.000 hektar. Namun, ucapnya, khusus untuk pembangunan lokasi wisata marina harus dilakukan evaluasi dan sosialisasi ke masyarakat. Apakah nanti, pembangunan tersebut disetujui atau tidak masyarakat setempat. ‘’Tidak hanya itu, berbagai permasalahan juga disampaikan, seperti ketinggian bangunan, termasuk apakah nanti kearifan lokal bisa terpelihara,’’ tambahnya.
NTB Memerlukan ‘’Design Marketing’’
Ekonom Universitas Mataram, Dr. Agusdin, SE.MBA., kepada Suara NTB di ruang kerjanya, Selasa (15/7) kemarin mengingatkan, adanya upaya dalam meningkatkan nilai tambah dari sejumlah potensi yang ada. Agusdin berpandangan bahwa potensi yang ada jangan sampai menjadi penghasil produk (mentah) semata.
‘’Di sektor pertanian, jangan sampai hanya menjadi petani. Tetapi harus ada desaign marketing (desain pemasaran), karena kekayaan alam yang ada hanyalah given (berkah),’’ terangnya.
Kekayaan yang ada di NTB sudah lebih dari cukup. Bahkan dinilainya melebihi potensi yang dimiliki Bali. Seperti sebuah ungkapan ‘’di Lombok ada Bali tetapi di Bali tidak ada Lombok’’, cukup mengena dalam mendeskripsikan potensi Lombok dan NTB umumnya.
Persoalannya sekarang, ujar Agusdin yang juga Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) NTB ini, adalah bagaimana mengemas melalui pencitraan. Seperti di sektor tenaga kerja, disayangkannya jika pengiriman TKI jika hanya sebagai pekerja ladang. Mestinya melalui sentuhan (pembinaan) tenaga kerja dibekali dengan keterampilan.
Meningkatkan image tenaga kerja dapat pula melalui kebijakan pengiriman tenaga dengan SDM yang lebih terampil. Misalnya TKI minimal perawat bahkan sarjana. Implikasinya tidak hanya mengurangi pengangguran lokal, namun angka remittance atau devisa dapat meningkat signifikan. Efek lain adalah memungkinkan kembalinya jati diri bangsa yang banyak disebut-sebut sebagai ‘’bangsa buruh’’, dapat diperbaiki. ‘’Kalau dikemas, Lombok sebetulnya bisa lebih kaya (masyarakatnya, red) dari Bali.’’
Bagaimana kemasan dimaksud? Menurut dia, pencitraan memalui image yang positif harus dibangun mulai sekarang. Bahwa di sektor pariwisata, jaminan keamanan merupakan sesuatu yang vital dan sangat mendukung tercapainya mobilitas wisatawan untuk masuk dan keluar NTB. Kenyamanan melalui sikap ramah tamah yang ditunjukkan masyarakatnya, dapat dikemas melalui promosi yang dapat menjangkau setiap segmen pasar. (joe)
Melamban, Pertumbuhan Ekonomi NTB
Demikian dikemukakan Peneiliti Ekonomi Muda Senior Kantor Bank Indonesia (KBI) Mataram, Budi Widihartanto, Kamis (10/7) kemarin. Prediksi lambannya pertumbuhan ekonomi ini lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi tahun 2007 periode triwulan yang sama atau year on year (yoy), sebesar 4,83 persen. Di mana sektor yang menjadi andalan saat ini, masih bertumpu di sektor perdagangan, pertambangan, serta perdagangan, hotel dan restoran.
Kendati masing-masing sektor mengalami peningkatan, namun Budi menyebutkan peningaktannya tidaklah signifikan. Berdasarkan perbandingan yoy sektor pertanian, diperkirakan akan ada di atas 2,7 persen, pertambangan sedikit meningkat sebesar 0,2 persen dan PHR sebesar 3 persen.
Secara makro, pelambatan ke tiga sektor ini dijelaskan mengacu pada kondisi yang berlaku. Di sektor pertanian, salah satu penyebabnya adalah belum berjalannya sistem irigasi secara maksimal, termasuk ditandai juga dengan kondisi kekeringan yang melanda beberapa daerah.
Di sektor pertambangan, belum definitifnya izin pinjam pakai lahan oleh pemda di mana PT. Newmont Nusa Tenggara beroperasi, mengindikasikan pergerakan bidang pertambangan stagnan. Penambangan oleh NNT saat ini hanya mengandalkan sisa stockfile material tambang dengan kualitas subprime.
‘’Bahkan ada kemungkinan pengurangan tenaga kerja karena tersendatnya ekspansi.’’ Sebaliknya perdagangan, masih harus berhadapan dengan gejolak ekonomi dunia di mana kenaikan minyak mentah dunia dan kenaikan BBM dalam negeri.
‘’Lambatnya pertumbuhan ekonomi juga tercermin dari survai kegiatan dunia usaha (SKDU). Beberapa responden menyebutkan kendati produksi meningkat tetapi tidak setinggi tahun lalu (2007). Bahkan diperkirakan pada triwulan tiga yang akan datang, pertanian akan sedikit meningkat,’’ ujar Budi mengacu pada SKDU yang dilakukan KBI Mataram.






