NTB Memerlukan ‘’Design Marketing’’

July 16, 2008 · Filed Under Ekonomi · Comment 
Mataram (Suara NTB) NTB yang kaya akan potensi alam patut menjadi kebanggaan. Sektor pertanian, pariwisata dan bahkan tenaga kerja menjadi andalan selama ini. Namun demikian, potensi yang ada dinilai belum menciptakan nilai tambah bagi kelangsungan kesejahteraan masyarakat.

Ekonom Universitas Mataram, Dr. Agusdin, SE.MBA., kepada Suara NTB di ruang kerjanya, Selasa (15/7) kemarin mengingatkan, adanya upaya dalam meningkatkan nilai tambah dari sejumlah potensi yang ada. Agusdin berpandangan bahwa potensi yang ada jangan sampai menjadi penghasil produk (mentah) semata.

‘’Di sektor pertanian, jangan sampai hanya menjadi petani. Tetapi harus ada desaign marketing (desain pemasaran), karena kekayaan alam yang ada hanyalah given (berkah),’’ terangnya.

Kekayaan yang ada di NTB sudah lebih dari cukup. Bahkan dinilainya melebihi potensi yang dimiliki Bali. Seperti sebuah ungkapan ‘’di Lombok ada Bali tetapi di Bali tidak ada Lombok’’, cukup mengena dalam mendeskripsikan potensi Lombok dan NTB umumnya.

Persoalannya sekarang, ujar Agusdin yang juga Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) NTB ini, adalah bagaimana mengemas melalui pencitraan. Seperti di sektor tenaga kerja, disayangkannya jika pengiriman TKI jika hanya sebagai pekerja ladang. Mestinya melalui sentuhan (pembinaan) tenaga kerja dibekali dengan keterampilan.

Meningkatkan image tenaga kerja dapat pula melalui kebijakan pengiriman tenaga dengan SDM yang lebih terampil. Misalnya TKI minimal perawat bahkan sarjana. Implikasinya tidak hanya mengurangi pengangguran lokal, namun angka remittance atau devisa dapat meningkat signifikan. Efek lain adalah memungkinkan kembalinya jati diri bangsa yang banyak disebut-sebut sebagai ‘’bangsa buruh’’, dapat diperbaiki. ‘’Kalau dikemas, Lombok sebetulnya bisa lebih kaya (masyarakatnya, red) dari Bali.’’

Bagaimana kemasan dimaksud? Menurut dia, pencitraan memalui image yang positif harus dibangun mulai sekarang. Bahwa di sektor pariwisata, jaminan keamanan merupakan sesuatu yang vital dan sangat mendukung tercapainya mobilitas wisatawan untuk masuk dan keluar NTB. Kenyamanan melalui sikap ramah tamah yang ditunjukkan masyarakatnya, dapat dikemas melalui promosi yang dapat menjangkau setiap segmen pasar. (joe)

Melamban, Pertumbuhan Ekonomi NTB

July 11, 2008 · Filed Under Ekonomi · Comment 
Mataram (Suara NTB) Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II ini diprediksi akan melamban dan berada pada posisi mendekati 4 persen. Hal ini sesuai dengan situasi ekonomi secara makro di NTB maupun ekonomi nasional dan dunia.

Demikian dikemukakan Peneiliti Ekonomi Muda Senior Kantor Bank Indonesia (KBI) Mataram, Budi Widihartanto, Kamis (10/7) kemarin. Prediksi lambannya pertumbuhan ekonomi ini lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi tahun 2007 periode triwulan yang sama atau year on year (yoy), sebesar 4,83 persen. Di mana sektor yang menjadi andalan saat ini, masih bertumpu di sektor perdagangan, pertambangan, serta perdagangan, hotel dan restoran.

Kendati masing-masing sektor mengalami peningkatan, namun Budi menyebutkan peningaktannya tidaklah signifikan. Berdasarkan perbandingan yoy sektor pertanian, diperkirakan akan ada di atas 2,7 persen, pertambangan sedikit meningkat sebesar 0,2 persen dan PHR sebesar 3 persen.

Secara makro, pelambatan ke tiga sektor ini dijelaskan mengacu pada kondisi yang berlaku. Di sektor pertanian, salah satu penyebabnya adalah belum berjalannya sistem irigasi secara maksimal, termasuk ditandai juga dengan kondisi kekeringan yang melanda beberapa daerah.

Di sektor pertambangan, belum definitifnya izin pinjam pakai lahan oleh pemda di mana PT. Newmont Nusa Tenggara beroperasi, mengindikasikan pergerakan bidang pertambangan stagnan. Penambangan oleh NNT saat ini hanya mengandalkan sisa stockfile material tambang dengan kualitas subprime.

‘’Bahkan ada kemungkinan pengurangan tenaga kerja karena tersendatnya ekspansi.’’ Sebaliknya perdagangan, masih harus berhadapan dengan gejolak ekonomi dunia di mana kenaikan minyak mentah dunia dan kenaikan BBM dalam negeri.

‘’Lambatnya pertumbuhan ekonomi juga tercermin dari survai kegiatan dunia usaha (SKDU). Beberapa responden menyebutkan kendati produksi meningkat tetapi tidak setinggi tahun lalu (2007). Bahkan diperkirakan pada triwulan tiga yang akan datang, pertanian akan sedikit meningkat,’’ ujar Budi mengacu pada SKDU yang dilakukan KBI Mataram.

Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi masih mengandalkan sektor konsumsi rumah tangga. Pada triwulan yang sama tahun 2007, andil sektor ini berkisar 2,07 persen. Survai konsumen yang dilakukan KBI Mataram juga menguatkan prediski ini. Di mana rata-rata konsumen cenderung menunda membeli produk yang tahan lama, termasuk pembelian sepeda motor juga menurun. (joe)

Jutaan Penduduk NTB Tergolong Miskin

July 2, 2008 · Filed Under Ekonomi · Comment 

Mataram (Suara NTB) Tingkat kemiskinan di NTB memasuki tahun 2008 ini tercatat masih dalam angka yang cukup tinggi. Yakni 1 juta orang lebih atau dengan persentase 23.81 persen dari 4,2 juta penduduk NTB. Persentase tertinggi pada periode 2005-2007 sebesar 28,97 persen terdapat di Kabupaten Lobar.

HAL ini tergambar dalam Berita Resmi Statistik (BRS) yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) NTB Selasa (1/7) kemarin. Disampaikan Kepala BPS NTB, Mariadi Mardian, MS., tingkat kemiskinan antarkabupaten dan kota selama periode 2005-2007 menggambarkan adanya perbedaan yang signifikan antara dua pulau besar yang ada di NTB.

‘’Jumlah dan persentase penduduk miskin di Pulau Lombok lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin di Pulau Sumbawa,’’ ucap Mariadi.

Pada tahun 2008, data terakhirnya diambil pada Maret lalu, disebutkan jumlah penduduk miskin didominasi wilayah perkotaan. Disebutkan sebanyak 560.415 jiwa (29,47 persen) lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin di wilayah pedesaan sekitar 520.198 (19,73 persen).

Mariadi menjelaskan konsep kemiskinan yang masuk dalam daftar BPS ini adalah keadaan masyarakat yang tidak mampu dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan. Pengukurannya dikatakan dilihat dari sisi pengeluarannya.

Adapun penduduk miskin didefinisikan sebagai penduduk yang memiliki pengeluaran perkapita perbulan lebih kecil dari garis kemiskinan. Untuk kebutuhan dasar makanannya disetarakan 2100 kilo kalori perkapita perhari. Untuk kebutuhan dasar bukan makanan minimal untuk perumahan sandang pendidikan dan kesehatan.

Peranan komoditi bahan makanan dalam pembentukan garis kemiskinan pada bulan Maret 2008 ini dinyatakan Mariadi lebih banyak dibandingkan dengan komoditi non makanan. Atau diistilahkan Mariadi, Garis Kemiskinan Makanan (GKM) lebih tinggi dibandingkan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM), yakni masing-masing Rp 129.223 untuk GKM dan Rp 38.314 untuk GKBMnya.

Menyangkut kedalaman kemiskinan dan indeks keparahannya diterangkan pada tahun ini cenderung mengalami penurunan dibanding tahun 2007. Seiring dengan jumlah pertumbuhan penduduk, disyukuri pada tahun 2008 ini mengalami penurunan. Di mana pada Maret tahun 2007 tercatat berjumlah 1.118.452 orang. (rus)

« Previous PageNext Page »