Puluhan KK di Bagek Kembar tak Miliki Listrik
Kepala Lingkungan Bagek Kembar, Basirun, Rabu (21/5) kemarin menuturkan, kondisi itu telah berlangsung cukup lama, bahkan sejak kampung itu ada. Pagi hingga sore hari, mereka tidak mempermasalahkan walaupun tidak ada listrik sama sekali. Namun itu menjadi masalah besar pada malam harinya. Karena jangankan ingin menontot TV, untuk penerangan ruangan saja tidak ada. Parktis anak-anak usia sekolah di sana belajar dengan penerangan dari lampu tempel. Sedang di luar rumah, kebanyakan mengandalkan penerangan dari cahaya bintang dan bulan.
Ironisnya, tak jauh dari pemukiman penduduk beroperasi sebuah perusahaan PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) MFO yang dikelola PT Semesta Eltrindo Pura (SEP) . Perusahaan itu menyuplai listrik ke pihak PLN. Sebelum berdirinya PLTD itu, sekitar tahun 2005 lalu, pihak SEP pernah menjanjikan untuk memberi kontribusi kepada masyarakat sekitar jika diizinkan mendirikan PLTD di sana. Diakui Basirun dan juga salah seorang tokoh agama setempat, H. Ahmad, PT SEP memang pernah memberikan bantuan sebuah genset untuk menanggulangi kegelapan yang yang selalu hadir setiap malam di sana.
Namun genset itu tak lama di tangan warga, lantas tanpa sepengetahuan SEP diambil oleh oknum kontraktor dengan alasan genset itu bukan hanya milik SEP tapi sejumlah kontraktor. Akibatnya, kondisi di Bagek Kembar kembali seperti semula, gelap gulita. Menurut dia, ada empat KK yang mengambil inisiatif untuk meminta aliran listrik dari kampung tetangga. Untuk itu, mereka harus membentangkan kabel sepanjang sekitar 306 meter. Parahnya lagi, sambungan itu terkesan dipasang asal-asalan oleh warga yang memang tidak berpengalaman dalam hal itu.
Fraksi PDI Perjuangan yang dimotori Nyayu Ernawati, S.Sos dan I Made Yudiarsana yang langsung turun ke lokasi, mengaku sangat khawatir melihat bentangan-bentangan kabel yang dipasang dengan tidak profesional atau tidak memenuhi standar keamanan listrik. Bagaimana tidak, kabel yang digunakan untuk melakukan sambungan listrik, bukan kabel yang semestinya digunakan. Belum lagi rumah warga yang hampir seluruhnya terbuat dari gedek sehingga berpotensi menimbulkan kebakaran.
Ditemui terpisah oleh Fraksi PDI P, Divisi Teknik PT SEP, Teguh Wiyono didampingi manajemen perusahaan tersebut, Hermanto, mengatakan pihaknya tidak akan menutup mata terhadap keberadaan masyarakat sekitar. ”Kita sudah pernah memberikan bantuan genset tapi saya tidak tahu dikemanakan genset itu oleh warga,” ujarnya. Meski pihaknya sebagai salah satu perusahaan penyuplai listrik, namun kewenangan untuk memberikan sambungan listrik, tetap ada di tangan PLN.
Sejauh ini, lanjut dia, masyarakat memang pernah meminta bantuan untuk penerangan saat maulid beberapa waktu lalu. Karena akan dimanfaatkan untuk dua hari, pihaknya pun memberi tumpangan sambungan. Begitu acara selesai, pihaknya mencabut kembali listrik tersebut karena memang secara prosedur, itu tidak dibenarkan. Kalau misalnya masyarakat mengajukan proposal agar bisa dibantu untuk mendapatkan sambungan listrik dari PLN, pihaknya akan memfasilitasi. ”Tapi sampai saat ini, dari warga belum ada komunikasi,” pungkasnya. (fit)
SPBU Tutup, Antrean Panjang di Lotim
Selong (Suara NTB) Pasokan bahan bakar minyak (BBM),menjelang kenaikan harga mulai dibatasi. Dampaknya, sejumlah SPBU di wilayah Kota Mataram dan sekitarnya, terpaksa ditutup karena stok habis. Sementara di SPBU yang masih memiliki stok, konsumen berebutan untuk memperolehnya. Seperti di Lombok Timur (Lotim) misalnya, antrean panjang terjadi di SPBU yang masih menyisakan stok.
Suplai BBM jenis premium setidaknya dibatasi untuk penyaluran ke SPBU. Dari jatah yang diperkirakan, Pertamina memasok jatah lebih sedikit dari pasokan normal. Seperti SPBU Karang Jangkong misalnya, Selasa (20/5) kemarin hanya melayani pembeli pagi dan selanjutnya tutup, lantaran premium telah habis.
Dikonfirmasi via telepon, Pemilik SPBU Karang Jangkong, IP Satria Wibawa, mengaku premium yang dijualnya habis lebih cepat. Dikatakannya, jatah yang diberikan oleh Depot Pertamina Ampenan, relatif jauh dari kebutuhan per harinya.
Satria mengaku, sehari sebelum liburan (kemarin) ia meminta stok kepada Pertamina berkisar 35 hingga 50 ribu liter. Namun Pertamina memberikan jatah sebesar 30 ribu liter. Jatah ini pun diberikan untuk alokasi selama dua hari. Kurang dengan kebutuhan normal, SPBU Karang Jangkong harus tutup lebih awal.
Ditanya apa alasan pembatasan stok tersebut, ia mengaku tidak mengetahuinya. ‘’Tidak, alasannya saya tidak tahu,’’ jawabnya. Logika Satria, jika kebutuhan per harinya mencapai 20 ribu liter, maka Pertamina mengalokasikan paling tidak antara 45 sampai 50 ribu liter untuk dua hari.
Apakah semua SPBU juga dijatahkan terbatas, ia tidak menjawab pasti. Namun demikian, perkiraannya kondisi yang sama (jatah dibatasi) juga dialami oleh SPBU lainnya.
Jika di SPBU Karang Jangkong tidak melayani penjualan, berbeda dengan SPBU di Pemenang. Suara NTB yang melintas di SPBU ini, Selasa (20/5) kemarin melihat SPBU itu masih melayani penjualan hingga siang kemarin.
Sementara antrean panjang kendaraan bermotor sebagai dampak rencana kenaikan BBM, khususnya jenis premium, terus berlangsung di Lotim. Berdasarkan pantauan Suara NTB, hampir selama sepekan terakhir ini antrean panjang para pemilik kendaraan bermotor yang ingin membeli premium menjadi pemandangan sehari-sehari di setiap SPBU yang ada di Lotim.
Enam unit SPBU di Lotim masing-masing di Keruak, Wanasaba, Pringgabaya, Paok Motong, Sekarteja dan Pancor lebih sering memasang papan peringatan yang berisikan “Bensin Habis”. Selain kehabisan stok BBM, juga karena enggan antre membuat sebagian pengendara merasa jenuh dan enggan berlama-lama di SPBU dan lebih memilih mengisi di pengecer yang tersebar hingga ke pelosok desa dengan tarif naik dari Rp 5000 per botol menjadi Rp 6000-Rp 7000.
‘’Terpaksa kami membeli di pengecer untuk menghindari antrean walau harganya jauh lebih mahal dibanding SPBU,’’ tutur Slamet salah seorang pengendara sepeda motor saat dihampiri Suara NTB saat membeli BBM jenis premium di pedagang eceran di Selong Selasa (20/5) kemarin.
Bagi Direktur SPBU Pancor, M. Edwin Hadiwijaya kepada wartawan mengutarakan, sebenarnya antrean panjang di SPBU mana pun tidak perlu terjadi. ‘’Tampaknya ada kekhawatiran dari masyarakat soal rencana kenaikan BBM tersebut,’’ katanya.
Dijelaskan, pasokan BBM dari suplay point (SP) untuk tiap harinya ke SPBU yang dimilikinya tetap normal yakni rata-rata 20 ribu liter perharinya dan itu pun tidak pernah terlambat dari jadwal pasokan.
‘’Masyarakat panik atas rencana kenaikan BBM yang akan diberlakukan oleh pemerintah pusat, sehingga masyarakat terlebih lagi bagi para pengecer mengantisipasinya dengan membeli lebih banyak dari sebelumnya,’’ katanya.
NTB Butuh 350 MW Lebih Daya Listrik
‘’Cukup besar daya yang dibutuhkan untuk kemajuan investasi,’’ kata Kepala Badan Perencanaan Daerah NTB Lalu Fathurrahaman kepada Tempo hari ini. Menurut dia,
BIL rencananya beroperasi pada 2010 itu memerlukan daya listrik sebesar 15 MW, sedangkan kawasan wisata Mandalika membutuhkan 9 MW.
Untuk itu, PLN, kata dia, memastikan membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) sebesar 3 kali 25 MW di Kabupaten Lombok Barat dan 2 kali 25 MW di Kabupaten Lombok Timur. Kebutuhan daya listrik lebih 350 MW itu belum termasuk rencana pembangunan kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani sebagai kawasan wisata internasional.
Saat ini, di Pulau Lombok baru tersedia daya listrik sebesar 90 MW yang berasal dari pembangkit listrik tenaga disel (PLTD) dengan beban puncaknya mencapai 89 MW. Di kawasan Rinjani masih bisa dibangun pembangkit listrik tenaga panas bumi.”Karena kalau mengandalkan PLTD atau PLTU tidak akan cukup,” ujarnya.
Adapun penyediaan listrik di pulau Sumbawa, menurut Fathurrahman, hanya cukup untuk kebutuhan rumah tangga. Di sana, dijadwalkan akan dibangun PLTU yang menghasilkan 32 MW. Rinciannya, di Bima dibangun pembangkit 2 kali 8 MW dan di Sumbawa 2 kali 8 MW. SUPRIYANTHO KHAFID






