Penyimpangan DAU/DAK, Pejabat Mangkir Dipanggil Jaksa
Mataram (Suara NTB) Penyidikan kasus dugaan penyimpangan Dana Alokasi Umum/Dana Alokasi Khusus (DAU/DAK) tahun 2005 terus diintensifkan dengan pemeriksaan saksi-saksi. Rencananya, Selasa (1/7) kemarin seorang saksi Djalil hendak diperiksa di Kejati NTB. Namun saksi ini, sama dengan Plt Sekda Kota Bima, tidak memenuhi panggilan jaksa alias mangkir.
Ketidakkooperatifan saksi-saksi tersebut terlihat sejak awal. Mantan Plt (Pelaksana Tugas) Sekda Kota Bima tahun 2005, Ir. H M Quraishy juga tidak hadir untuk dimintai keterangan dengan alasan yang tidak jelas. Kemarin, giliran Djalil yang merupakan pejabat di lingkup Pemkot Bima juga tidak hadir. Namun, ketidakhadiran Djalil untuk memenuhi panggilan diperkuat dengan alasan terlambat menerima surat panggilan.
‘’Djalil tidak hadir dengan alasan terlambat menerima panggilan,’’ terang Kajati NTB, H M Amari SH MH melalui Kasi Penkum dan Humas Sugiyanta saat ditemui Selasa (1/7) kemarin. Alasannya tersebut dikemukakan Djalil via telepon kepada penyidik Pidsus (Pidana Khusus) Senin lalu.
Namun dikatakan Sugiyanta, dalam percakapan tersebut Djalil bersedia untuk diperiksa Kamis (3/7) besok bersamaan dengan seorang saksi lainnya, Mustara, Bendahara Umum Daerah tahun 2005 yang sebelumnya juga pernah diperiksa tim Pidsus. Pemeriksaan terhadapnya masih difokuskan pada pembebasan tanah untuk pembangunan Terminal AKAP senilai Rp 5,5 milyar yang diduga menyimpang.
Kapan pemeriksaan terhadap saksi akan rampung belum bisa dipastikan Sugiyanta, mengingat kesediaan saksi untuk memenuhi panggilan tidak dapat diprediksi. ‘’Kalau dipanggil mereka langsung datang, prosesnya akan cepat. Tapi pemeriksaan kadang-kadang molor berkaitan dengan itu,’’ tambahnya.(use)
Kantor Polsek Sengkol Dirusak Massa, Tiga Senpi dan Proyektil Hilang
Praya (Suara NTB) Ratusan warga yang diduga berasal dari salah satu desa di Lombok Tengah (Loteng), Sabtu (24/5) siang mengamuk dan menyerbu Kantor Polsek Sengkol, Pujut. Akibatnya, sejumlah inventaris polsek tersebut hancur berantakan. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun tiga senjata api (senpi) laras panjang, hilang bersama se
jumlah protektil peluru.
Keterangan yang diperoleh Suara NTB di lokasi kejadian menyebutkan, masa yang tampak beringas mulai berdatangan sekitar pukul 13.30 wita. Tanpa basa-basi, massa yang kebanyakan dari kalangan pemuda langsung merangsek masuk ke dalam kantor. Petugas jaga yang hanya empat orang, tidak mampu membendung massa. Takut keselamatanya terancam, keempat personil tersebut lantas kabur menyelamatkan diri.
Sementara massa yang sudah berhasil masuk, langsung merusak barang inventaris yang ditemuai. Seperti kaca jendela serta lemari kantor pun jadi sasaran kemarahan. Ruang Kapolsek Sengkol, AKP M. Reza, juga tak luput dari sasaran pengerusakan. Berikut arsip dan dokumen kepolisian lainya juga ikut dirusak. Beberapa personel polsek setempat yang datang belakangan, akhirnya berhasil mengusir massa. Namun kondisi polsek yang baru diresmikan beberapa bulan lalu tersebut sudah terlanjur berantakan.
Berselang setengah jam kemudian, pasukan bantuan dari Polres Loteng datang. Namun kondisi Kantor Polsek Sengkol sudah memprihatinkan. Hampir seluruh kaca jendela hancur. Pecahan kaca pun tampak berserakan di lantai. Beruntung beberapa inventaris seperti TV, komputer serta beberapa barang lainnya, tidak dirusak massa. Tapi apes, tiga senpi laras panjang bersama beberapa peluru diketahui hilang. Belum dipastikan, apakah senpi tersebut hilang dibawa massa atau memang diamankan oleh anggota Polsek setempat.
Begitu tambahan pasukan dating, kondisi polsek kembali terkendali. Kejadian itu, tidak luput dari perhatian masyarakat sekitar. Warga terlihat berjubel menonton dengan diselimuti rasa penasaran. Puluhan anggota polisi, terlihat sibuk membersihkan pecahan kaca dan merapikan kembali inventaris polsek yang berantakan. Tidak lama kemudian, Kades Sengkol, L. Tanauri bersama Camat Pujut, L. Normal Suzanna tiba di lokasi.
Sampai saat ini, pihak kepolisian belum mengetahui secara pasti motif penyerangan tersebut. Tapi informasinya, massa dari salah satud esa itu dating karena dendam setelah seorang warganya dikabarkan ditembak mati oleh anggota Buser Polres Loteng, beberapa jam sebelum kejadian.
‘’Apapun alasanya, kejadian ini sangat disayangkan dan tidak dibenarkan. Saya tidak habis pikir mengapa Kantor Polsek yang tidak bersalah, justru jadi sasaran,’’ sesal Camat Pujut, L. Normal Suzanna, seraya mengakui tidak tahu menahu sebab dan detail kejadian itu. Ia berharap pihak kepolisian bisa segera memproses kasus tersebut dan sesegera mungkin mengungkap para pelaku sebenarnya.
Tembak DPO
Sementara itu, Kapolres Loteng, AKBP Drs. Suryanto, melalui Kasat Reskrim, AKP Fedriansah, mengakui dugaan awal kejadian itu erat hubungan dengan kasus penembakan Jaelani (28) warga Desa Ketare. Dituturkannya, penembakan berlangsung sekitar pukul 11.00 wita, Sabtu (24/5). Jaelani merupakan daftar pencarian orang (DPO) atas keterlibatanya sebagai pelaku sejumlah kejahatan pencurian dengan kekerasan (curas) dan curanmor di wilayah Loteng. Tak hanya itu, ia juga diketahui sebagai DPO Polres Mataram dalam kasus serupa.
Hingga sejumlah anggota Buser Polres Loteng, berhasil menciduknya di Dusun Tompaq Desa Tanak Awu. Tapi saat akan diciduk, ia berusaha kabur dari sergapan buser. Tidak ingin buruannya hilang, polisi akhirnya menembak kedua belah kaki Jaelani, hingga tersungkur dan langsung dibawa ke RSUD Praya.
‘’Ada indikasi sejumlah teman pelaku kemudian memprovokasi warga lainnya. Dengan menyatakan kalau korban (Jaelani-red) tewas tertembak oleh polisi. Padahal tidak, hanya dilumpuhkan dan terkena tembakan di kaki. Atas dasar itulah warga kemudian marah dan merusak Kantor Polsek Sengkol,’’ tuturnya.
Kawasan Tiga Gili Lombok Barat Lokasi Peredaran Narkoba
MATARAM–MI: Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (Polda NTB) menyimpulkan kawasan wisata tiga gili yakni, Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air Kabupaten Lombok Barat, merupakan lokasi peredaran dan pengguna narkotika.
“Hasil penyelidikan yang kami lakukan membuktikan di sana betul-betul ada peredaran narkoba,” kata Komisaris Besar (Kombes) Ismail Bafadal Direktur Narkoba Polda NTB kepada wartawan, Senin (24/02).
Menurutnya, dari hasil operasi yang dilakukan pada Jumat (21/03) lalu, pihaknya telah menahan 7 tersangka pengedar dan pengguna narkoba berikut sejumlah barang bukti berupa ganja, putau dan ekstasi.
Mereka yang kini menjalani penahanan di antaranya adalah, Tasmin, Ahmad Jaialani, Rizal, Omek, Haryono, Salahuddin dan Ucok. Selain itu, dari hasil penyisiran tersebut juga terdapat dua pengguna yang dari hasil tes urine positip pengguna hasis atau ganja, namun tidak ditahan karena tidak ditemukan barang bukti di tangan.
Pengungkapan kasus peredaran narkoba di ketiga gili tersebut, khususnya di Gili Trawangan adalah berdasarkan informasi yang diperoleh dua minggu sebelumnya.
Dalam operasi tersebut Polda NTB menerjunkan 137 kekuatan termasuk di dalamnya, Brimob, Samapta, serta Bawah Kendali Operasi (BKO) Polairud Mabes Polri yang kebetulan melakukan operasi menggunakan kapal di sekitar wilayah Lombok. Selain itu juga menerjunkan bantuan anjing pelacak untuk mengendus pelaku dan barang haram tersebut.
Sebagaimana diketahui, kawasan tiga gili tersebut merupakan salah satu kawasan obyek wisata di Lombok Barat yang lokasinya berdekatan dengan obyek wisata Senggigi. Hanya saja untuk ke Gili Trawangan misalnya harus naik speed boat sekitar 15 menit dan kebanyakan penyeberangan dilakukan melalui Kecamatan Pemenang Lombok Barat. (YR/OL-2)






