Santap Sniper di Bibir Gili Meno
Sniper jacket dan plecing kangkung (atas) Bersantap di bibir pantai Gili Meno (bawah) (ana shofiana/detikcom)
Lombok Barat - Tampangnya terbilang sangar dengan gigi-giginya yang runcing. Sniper jacket! Begitu dia dipangil oleh nelayan.
Namun tidak seperti namanya yang terkesan sangar, sniper jacket justru adalah ikan pengecut. Hobinya bersembunyi di antara karang-karang. Dia bersahabat karib dengan ikan ekor kuning.
Untuk mendapatkan sniper jacket, nelayan di Laut Lombok memancingnya dari atas perahu. Dengan menggunakan umpan dari daging ikan yang dipotong kecil-kecil, hoooop… terpancinglah sniper jacket itu.
Untuk menggarap ikan ini tak perlu macam-macam. Setelah dibersihkan, sniper jacket cukup digoreng atau dibakar tanpa bumbu. Kendati begitu, rasanya manis dan menyegarkan khas ikan laut yang masih fresh from the sea. Dagingnya pun tebal.
Di Gili Trawangan dan Gili Meno sebagian besar tempat makan menyediakan si gigi runcing ini. detikcom sempat mencicipinya di sebuah kafe di bibir pantai Gili Meno, Lombok Barat, NTB, Kamis (31/1/2008).
Pemandangan lautan nan memesona sambil berselonjor di gubukan membuat cita rasa santapan semakin amboi.
Ikan ini hanya diduetkan dengan sambal ulek plus jeruk nipis, ayeeee… rasanya mau nambah berkali-kali.
Apalagi dengan nasi panas mengepul dan plecing kangkung segar, waaahhh… makin mantap! Bolehlah jika si sniper jacket ini disandingkan dengan kenikmatan ayam taliwang yang terkenal dari Lombok.( ana / sss )
Tarik Wisatawan, Kembangkan Usaha Makanan Tradisional Khas NTB
Mataram (Suara NTB) Terdapat berbagai pertimbangan bagi wisatawan untuk datang ke suatu Daerah Tujuan Wisata. (DTW). Diantaranya objek (alam dan budaya) yang akan dilihat di DTW, makanan khas (tradisional), serta barang unik sebagai souvenir atau oleh-oleh sekembalinya dari DTW.
Tidak dipungkiri, makanan tradisional sebagi satu pertimbangan wisatawan (domestik atau mancanegara) sebelum datang ke suatu daerah tujuan wisata. NTB sendiri sebagai salah satu DTW nasional, tentu harus mampu memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki, termasuk keanekaragaman jajan tradisional. Ini penting, untuk meningkatkan daya tarik wisatawan yang berimplikasi pada meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.
‘’Tidak jarang para wisman dan wisdom lebih mengenal makanan khas dan kerajinan khas suatu daerah daripada obyek wisatawanya. Sebut saja, Gudeg Jogja, Gethuk Magelang, Empek–empek Palembang, Dodol Garut dan lainnya,’’ terang Ketua Tim Penggerak PKK NTB, Dra.Hj. Bq. Adnin Serinata, dalam acara Lokakarya Management dan Strategi Pengembangan Usaha Jajan Tradisional Khas NTB, di Balai Diklat NTB, Rabu (14/11) kemarin.
Adnin mengatakan, makanan khas NTB, seperti Pelecing Kangkung, Ayam Taliwang dan jajan tradisional khas NTB lainnya mesti dikembangkan. Dengan tujuan agar lebih dikenal di tingkat nasional hingga internasional. Namun harus diperhatikan penggunaan zat pewarna dan bahan pengawet tidak diperbolehkan. Pasalnya, penggunaan bahan berbahaya pada makanan tradisional akan dapat membahayakan kesehatan konsumen, terlebih para wisatawan.
‘’Selain cita rasa, kemasan jajan tradisional harus juga diperhatikan, sehingga konsumen berminat untuk mencicipi dan membelinya. Sebab, jika kemasan tidak menarik, maka dikhawatirkan para pembeli tidak akan tertarik membeli,’’ kata istri Gubernur NTB ini mengingatkan.
Sekertaris Bappeda NTB, Drs.L. Gita Aryadi, M.Si, mengatakan, NTB sebagai pilot project dalam program pelatihan Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) atau District and Provicial Economic Development (DPED). Di mana, pelatihan ini merupakan hasil kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan Australia (IASTP III). Pelatihan sejenis juga sedang berlangsung di Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Papua yang berlangsung dalam empat tahapan baik di Indonesia maupun di Australia.
Selama di Australia Selatan, pihaknya mengunjungi pusat–pusat pertumbuhan ekonomi, sentra–sentra industri, termasuk industri rumah tangga pembuatan sambal, pengolahan makanan dan lainnya.
Gita menambahkan, lokakarya ini bertujuan untuk mengangkat citra makanan tradisional dan menciptakan peluang usaha yang pada ujungnya dapat membantu pemerintah dalam meningkatkan pendapatan masyarakat dan pendapatan daerah.
‘’Makanan tradisional khas NTB tidak kalah dengan daerah lain sebagai daerah wisata kuliner,’’ kata Valiner dalam Bahasa Inggris. (joe)
Dihentikan, Pembangunan ”Food Court” di Udayana
Mataram (Suara NTB) -Munculnya protes atas pendirian ”Food Court” (FC) di Taman Udayana, Mataram karena dikhawatirkan bakal mematikan usaha para PKL disekitarnya, berbuntut. Pembangunan FC di lokasi tersebut, akhirnya dihentikan karena memang belum mengantongi IMB (Izin Mendirikan Bangunan). Kendati demikian, bangunan yang sudah terlanjur ada, tidak dibongkar.
Demikian Kepala Dinas Tata Kota dan Pengawasan Bangunan (Takowasbang), Ir. Supardi, menjawab Suara NTB di ruang kerjanya, Kamis (20/9) kemarin. ”Di sana bukan akan dibangun ”Food Court” tapi rumah makan (RM) Nusantara dan ini baru pertamakali di NTB,” katanya mengklarifikasi. Diakui Supardi, izin lokasi memang telah dimiliki oleh investor yang katanya berasal dari Korea. Namun untuk IMB, kendati telah diajukan, namun hingga saat ini belum mendapat persetujuan wali kota. Itu terbukti dengan belum ditekennya permohonan IMB investor Korea tersebut. Padahal, rencanaya, RM Nusantara tersebut akan melibatkan tenaga kerja dari Kota Mataram dan sekitarnya.
Permasalahan tersebut, katanya, telah dikonfirmasikan kepada investor bersangkutan, dengan melibatkan aparat terkait. Seperti Kantor Pertamanan, Dinas Takowasbang, Pol PP, camat dan lurah setempat. Dari hasil konsolidasi tersebut, diputuskan, menghentikan pembangunan RM Nusantara yang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 20 are. Kesulitan Takowasbag dalam menentukan sebuah lokasi di Udayana boleh dilakukan pembangunan atau tidak, karena belum adanya Rencana Teknikal Tata Ruang (RTTR) Kota Mataram, khusus untuk kawasan Udayana.
Namun sebenarnya pembangunan di bakal RM Nusantara, boleh-boleh saja. Karena lokasinya berada di luar areal taman. Sesuai ketentuan, yang termasuk areal taman, sebut Supardi, antara 150 - 200 meter dari as jalan. Sedang lokasi RM Nusantara, di luar jarak tersebut. Tapi bagaimana pun juga, keputusan akhir tentang nasib RM Nusantara berada di tangan wali kota. Ia menambahkan, pihaknya akan segera membuat RTTR Kawasan Udayana guna memudahkan penataan pembangunan di sana. ”RTTR ini tidak bisa cepat karena sangat rumit. Tapi kita akan buat secepatnya,” tandasnya. Supardi mengatakan, bangunan RM Nusantara yang sudah berdiri, bukanlah bangunan permanen karena di semua sisinya terbuka. Hanya disangga sejumlah tiang besi.







